“Kretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota” Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya

“Enten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun” (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.

Dalam buku “Kretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota”, kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal. Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.

Bacaan Lainnya

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di Dunia

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan. Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum, pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak.

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini.

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil (menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling (menggulung), nglinthing (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini.

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa.

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pos terkait