OPINIREVIEW

Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini

Sudah sejak usia SMP saya rutin menekuni hobi membaca, terutama membaca buku. Ini bukan tanpa disengaja dan bukan atas kehendak saya sendiri. Lingkunganlah yang menjadikan saya begitu, begitu rutin dan hobi membaca bahkan hingga sampai pada tahap rakus dalam membaca. Dalam kondisi normal, saya bisa menyelesaikan membaca dua buah buku dalam satu pekan dengan masing-masing buku memiliki halaman antara 250 dan 300.

Itu dalam keadaan normal. Saat dalam kondisi tidak normal, dua buku yang saya selesaikan dalam sepekan itu bisa saya selesaikan dalam waktu sehari semalam saja. Sejak kecil saya tinggal di lingkungan yang penuh dengan buku. Bapak saya, menumpuk ribuan buku di rumahnya. Di rumah paman saya, kakak dari bapak, yang berdempetan dengan rumah bapak saya, ada lebih banyak lagi buku di sana. Hampir setiap hari sepulang sekolah, pulang dari mengaji, atau pulang bermain, saya kerap menyaksikan keduanya asyik membaca buku.

Selain bapak dan paman, ibu saya di rumah juga begitu gemar membaca buku. Malam hari usai menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga, ibu saya asyik membaca buku hingga kantuk datang untuk kemudian ia beranjak tidur. Melihat semua itu, saya pelan-pelan ikut membaca. Sekadar ikut-ikutan saja hingga pada akhirnya yang sekadar ikut-ikutan itu berubah menjadi kegemaran yang menyenangkan hati.

Saya membaca buku bergenre apa saja. Apa saja saya baca hingga selesai. Namun tentu saja ada genre yang menjadi favorit saya. Salah satu genre buku favorit saya adalah buku-buku biografi atau autobiografi atau memoar tentang orang-orang besar atau orang-orang biasa saja.

Baik tokoh dari luar negeri, maupun tokoh dalam negeri, biografi-biografi mereka begitu menarik minat saya untuk membacanya. Dari sana saya banyak mengetahui kisah-kisah yang belum banyak diceritakan dan bisa menjadi pelajaran.

Beberapa saat sebelum tampil di MTV Unplugged yang disiarkan secara langsung, Kurt Cobain ambruk. Heroin dengan dosis berlebih yang ia konsumsi menjadi penyebabnya. Namun akhirnya ia terbangun di saat semua orang sudah menganggapnya mati karena over dosis. Memainkan lagu-lagu yang telah direncanakan sebelumnya, dan menyelesaikan pertunjukan dengan elegan. Penampilan Nirvana di MTV Unplugged akhirnya diakui oleh banyak kritikus musik sebagai penampilan terbaik mereka, Kurt Cobain terutama.

Beberapa tahun sebelumnya, di Jamaica, Bob Marley tampil di konser dengan luka tembak di lengan kiri yang belum mengering. Konflik politik di negaranya menjadi sebab percobaan pembunuhan Bob Marley. Alih-alih sembunyi karena masih menjadi incaran untuk dibunuh, Bob Marley tetap tampil di depan umum dan tetap bernyanyi sebagaimana biasanya. Konser tersebut akhirnya menjadi konser yang menggugah mereka yang sedang bertikai untuk berdamai.

Dari sekian banyak pernyataan Bob Marley, “Some people feel the rain, others just get wet,” jadi favorit saya. Mandi hujan adalah koentji.

Bagi para penikmat musik, fans Nirvana misal, tentu sudah sangat familiar dengan pertunjukan unplugged band idolanya itu. Namun jika tak membaca biografi Kurt Cobain, mereka tak tahu kejadian-kejadian menarik sebelum dan selama pertunjukan berlangsung. Bagi penikmat musik Bob Marley pun begitu, jika tak membaca, ia hanya akan sekadar larut dalam suasana magis musik-musik Bob Marley. Namun, jika membaca biografi Marley, saya rasa akan bertambah nikmat rasanya mendengarkan musik-musik karyanya.

Saya merasakan ada yang berbeda dan berubah saat mendengarkan musik-musik Nirvana dan Bob Marley sebelum dan sesudah membaca biografi mereka.

Tarik mundur lagi ke belakang, bagaimana Jim Morrison berteriak-teriak ingin bersetubuh dengan ibunya di satu-satunya konser The Doors yang disaksikan langsung oleh ibu dan adik laki-lakinya. Banyak buku filsafat dan sastra yang ia baca sehingga mempengaruhinya dalam menulis lirik. Juga mempengaruhinya dalam bersikap dalam keseharian, menjadi antitesis Apolonian. Banyak dari kita tentu tahu sepak terjang Jim bersama The Doors lewat musik-musik mereka, tapi sedikit yang tahu bahwa Jim Morrison juga menulis dan menerbitkan empat buku berisi sajak-sajaknya yang konon, diapresiasi oleh banyak kritikus sastra.

Di negeri inipun banyak contoh menarik dari biografi tokoh-tokoh nasional. Sehabis berdebat sengit di Konstituante ihwal dasar negara, KH Isa Anshari dan DN Aidit pergi berakhir pekan ke Sukabumi, kediaman KH Isa Anshari. Mereka sama-sama hobi makan sate dan kerap makan sate bersama saat rehat sidang. Tapi saat sidang, Masyumi dan PKI adalah musuh utama yang mewarnai perdebatan panjang dan melelahkan.

Saat dipenjara oleh rezim Orde Lama, karena siksaan yang begitu berat, Buya Hamka sempat putus asa. Sempat terbersit dalam benaknya untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena beratnya siksaan yang ia terima. Sulit dibayangkan, Ia yang menyelesaikan kitab babon tafsir Al Qur’an selama di penjara, yang diberi judul Tafsir Al Azhar, pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun ia tak dendam pada Orde Lama dan pemimpinnya, Beliau menjadi imam shalat jenazah Bung Karno.

Selain menjadi perdana menteri, Mohammad Natsir juga pernah menjabat menjadi menteri penerangan di masa Orla. Ia hanya memiliki satu pakaian safari yang sudah ditambal di sana sini. Para pegawainya di kementerian penerangan sampai mengumpulkan uang untuk membelikannya pakaian layak.

Agus Salim pernah berjualan minyak tanah. Berkali-kali pindah rumah kontrakan karena keterbatasan dana. Menolak menerima bantuan dari murid-muridnya.

Masih banyak hal menarik yang saya temukan saat membaca biografi manusia-manusia dari bermacam latar belakang profesi. Saya selalu memperlambat bacaan saat masuk bagian yang membahas kisah keseharian para tokoh ini. Kisah yang jarang ditampilkan karena tertutup kebesaran para tokoh yang ditulis.

Ya, menarik bagaimana mengetahui kondisi keseharian para tokoh yang kadang, karena hebatnya sepak terjang mereka selama hidup, sudah dianggap menjadi manusia bersih. Di dewa-dewakan, diceritakan terus menerus kehebatannya, seakan mereka bukan manusia biasa yang tak pernah terpeleset dalam kealpaan.

Bagi saya, inilah asyik dan menariknya membaca sebuah buku biografi. Tak melulu hal-hal mewah yang diceritakan. Tapi detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa tokoh-tokoh ini masih manusia biasa juga banyak ditampilkan. Memberikan banyak pelajaran, dan, tetap menempatkan para tokoh hebat untuk berpijak di bumi, tidak mengawang-awang di langit.

Buku bergenre biografi yang terakhir saya baca berjudul Kenang-Kenangan Orang Bandel karya Misbach Yusa Biran. Memoar ini ditulis sendiri oleh Misbach Yusa Biran dan diterbitkan ketika usianya mencapai 70 tahun.

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok

Ketertarikan saya pada Misbach Yusa Biran berawal dari sebuah buku kumpulan cerita berjudul Keajaiban di Pasar Senen yang Ia tulis. Buku itu berisi tentang cerita-cerita kehidupan keseharian para seniman yang mangkal di Pasar Senen pada periode 50an hingga 60an. Buku yang pada akhirnya saya dapuk sebagai salah satu buku terbaik yang pernah saya baca.

Misbach Yusa Biran adalah seorang penulis, dan lebih dikenal sebagai salah satu tokoh perfilman nasional negeri ini. Ia adalah suami dari Nani Widjaja, aktris terkenal negeri ini yang perannya dalam serial Bajaj Bajuri sebagai Emak dari Oneng begitu epik dan menghibur. Salah satu anak mereka, Almarhum Sukma Ayu, adalah salah satu aktris sinetron negeri ini yang demi peran sebagai Ronaldowati berani mencukur habis rambut panjangnya.

Saya belum selesai membaca buku memoar Misbach Yusa Biran. Dari 317 halaman buku tersebut, baru sekira 100 halaman yang saya baca. Ada banyak hal menarik yang saya temukan dari 100an halaman pertama, salah satunya, akan saya bagikan dalam tulisan ini. Pada halaman 47 buku tersebut, Misbach Yusa Biran menceritakan pengalaman hidupnya ketika usianya beranjak dari kanak-kanak menuju remaja, bertepatan dengan masa revolusi fisik di negeri ini dalam rangka menghadapi agresi militer Belanda yang kembali hendak menjajah negeri ini usai Jepang mengalami kekalahan perang dan Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ketika itu, Misbach Yusa Biran harus kembali ke tanah kelahiran Ibunya di Rangkasbitung, Banten karena bapaknya terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Untuk menunjang biaya hidup, ibu jual kain. Lalu kami dagang rokok yang kami bikin sendiri. Waktu itu pabrik rokok sudah tutup. Rokok yang ada adalah stok lama yang dijadikan pembagian untuk tentara dan polisi. Sudah apek. Maka itu, orang lalu membuat rokok. Masing-masing menciptakan resep sendiri untuk menjadikan tembakau mole’ yang biasa dipakai untuk susur menjadi tembakau rokok yang harum………”

“Saya dan ibu berkeras untuk membuat rokok. Tembakau susur kami proses agar menjadi tembakau rokok yang harum dan enak dihisap. Berdasarkan info sana-sini, tembakau kami aduk dengan pisang ambon, dengan vanili dan entah dengan apa lagi, sudah lupa, lalu dijemur. Saya menggulung dengan menggunakan kertas-kertas tik bekas dari kantor KNI, kertas tipis, atau doorslag…….”

“Yang menjualnya saya sendiri, di stasiun kereta api. Pagi-pagi buta saya jajakan rokok kepada orang-orang yang akan berangkat ke Serang atau Labuan. Kalau pagi penumpang penuh sesak. Selain pedagang, di Stasiun Rangkas juga selalu banyak tentara atau laskar yang akan pergi atau pulang dari front. Walhasil stasiun hampir selalu ramai. Yang dagang rokok juga cukup banyak. Ada yang menjual rokok kretek; ada juga rokok kemenyan atau rokok kelembak buatan orang jawa. Namun, yang paling laku adalah rokok “Tjap Gajah”. Kertasnya berwarna kuning. Rokok buatan kami agak rendah mutunya. Namun begitu, kalau rezeki datang ada saja yang beli.”

Ada beberapa hal menarik yang bisa saya dapatkan dari paparan Misbach Yusa Biran di atas. Yang pertama, tradisi merokok memang sudah begitu merata di negeri ini hingga sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat industri rokok ketika itu. Yang kedua, masyarakat sudah mengetahui secara umum cara meracik tembakau agar layak dijadikan rokok. Mereka sudah mengetahui campuran-campuran apa saja yang mesti digunakan sebelum tembakau dilinting dan diisap.

Selanjutnya, berdasar penuturan Misbach Yusa Biran, berdagang rokok cukup membantu keuangan banyak orang di tengah krisis yang sedang dihadapi warga negara Indonesia. Dengan berdagang rokok mereka bisa menambah pemasukan guna perekonomian keluarga. Dan yang terakhir, saya rasa ini juga yang paling penting, rokok menjadi konsumsi utama para tentara dan laskar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka saya kira menjadikan rokok sebagai alat bantu rekreasi dan relaksasi di tengah ketegangan suasana perang dan ancaman kehilangan nyawa saat berperang mempertahankan kemerdekaan negeri ini.

Sekali lagi, ada begitu banyak manfaat rokok yang kurang begitu disiarkan ke dunia luar. Dan sekali lagi, dari sebuah buku biografi saya mendapatkan informasi menarik yang saya rasa juga layak dibagikan ke khalayak. Membaca, memang sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan, lebih lagi saat membaca sembari menikmati sebatang rokok kretek. Naknan!

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

You may also like

Comments are closed.

More in:OPINI