OPINI

Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok

SH/Don Peter Sebuah angkutan umum Kopaja M19 jurusan Tanah Abang - Blok M mengeluarkan asap hitam dari knalpot saat melintasi jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (7/10).

Saya pernah berkesempatan mempelajari secara mendalam selama sekira dua tahun empat jenis limbah yang mencemari bumi manusia ini. Limbah padat, limbah cair, limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Dari empat jenis limbah tersebut, saya menemukan bahwasanya limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara menjadi limbah yang paling liar dan oleh karena itu menjadi paling berbahaya.

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 μg/m3 pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 μg/m3, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas

“Kami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,” kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan.

(dikutip dari: https://news.okezone.com/read/2019/03/13/18/2029443/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok)

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan.

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

Comments are closed.

More in:OPINI