REVIEW

Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar.

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin.

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga. Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih.

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

You may also like

Comments are closed.

More in:REVIEW