Smoker’s Travel: Berwisata Keliling Jakarta dengan MRT

Ada yang ramai di Jakarta akhir-akhir ini, bukan soal perseteruan antara Frontman band Superman Is Dead, Jrinx dengan Suporter Persija, The Jakmania, bukan pula soal Lucinta Luna yang kuat menjalani sepuluh ronde malam pertama dengan kekasih barunya. Ibu kota Indonesia, belakangan ini kedatangan sosok fenomenal yang baru yaitu MRT atau dengan kepanjangan Moda Raya Terpadu.

Diresmikan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo pada Maret ini, MRT sudah bisa dinikmati oleh publik, tentu dalam sebulan masih dengan status gratis atau tanpa biaya. Mudah mengaksesnya memang, cukup dengan mengunjungi situs ayocobamrtj.com dan di sana anda akan dipandu untuk mengakses maksimal dua tiket dalam satu pesanan.

Bacaan Lainnya

Baca: Smoker Travel: Lawang Sewu, Ketika Mistis dan Keindahan Dibalut Menjadi Satu

Sejak sebelum diresmikan, pihak pengelola MRT Jakarta sudah mengundang beberapa pihak untuk mencobanya, diantaranya adalah wartawan. Respon positif dari pemangku kebijakan dan publik pun datang, rata-rata mereka mengagumi tekhnologi kendaraan umum tersebut. Namun, saking mahalnya biaya operasional MRT. Membuat pemerintah harus berulang kali melakukan pertemuan untuk membahas harga yang akan dipatok. Alhasil, harga tarif minimum ditetapkan sebesar Rp 3.000 sedangkan tarif maksimal adalah Rp 14.000 dipasang oleh pemerintah.

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Jakarta sejak 2007 lalu, kehadiran MRT memang sudah saya tunggu-tunggu. Wajar saja, saat saya mengenyam bangku kuliah dan Jokowi (saat itu Gubernur DKI Jakarta) menandatangani peresmian proyek pembangunan MRT, saya bertanya-tanya kapan akan selesai dan bisa dinikmati. Pikiran it uterus terngiang-ngiang saat saya harus melewati terminal Lebak Bulus yang memang saat ini menjadi terminal utama MRT.

Lebak Bulus yang berada di bilangan Jakarta Selatan saat itu adalah berupa terminal tua yang melayani berbagai kendaraan umum dengan trayek antar kota dan provinsi. Di samping Terminal Lebak Bulus ada stadion bersejarah yang pernah menjadi saksi manis kejayaan klub sepak bola, Persija Jakarta. Beberapa hari yang lalu saat saya ke sana, semuanya berubah, lebih modern dan sangat tak bisa saya kenali.

H-1 sebelum saya mencoba MRT, saya sudah mengakses situs ayocobamrtj.com untuk mendapatkan tiketnya. Bersama dengan rekan-rekan saya kami sama-sama coba untuk berwisata menjajal calon kendaraan umum kebangaan warga ibu kota itu. Kami menggunakan sepeda motor dari Jagakarsa menuju ke Lebak Bulus, sayangnya pihak pengelola MRT belum menyediakan pusat parkiran yang bisa diakses oleh para pengguna kendaraan tersebut. Alhasil, kami harus memarkirkan kendaraan kami di parkiran liar, dengan harga 5000 rupiah untuk sekali parker.

Memasuki kawasan lobi Terminal MRT Lebak Bulus, suasana ramai sudah menyambut. Ada banyak pengunjung yang ingin datang hanya untuk mencoba namun tak sedikit yang memang sudah menggunakan fasilitas itu untuk bepergian ke tempat kerja atau lainnya. Akan tetapi, saat itu loket-loket tiket memang belum difungsikan, agar kami bisa mengetahui informasi lebih lanjut maka kami harus bertanya kepada penjaga yang ditaruh standby sekitaran pintu masuk.

MRT ini melayani trayek dari Lebak Bulus, meluncur ke Cilandak, Fatmawati, Blok M, Senayan, hingga Bundaran HI. Setelah mengantri sekitar 10 menit di area tunggu, MRT yang kami tunggu-tunggu tiba. Impresi pertama saat menaikinya, ini tak lebih dari menaiki KRL yang sering saya tumpangi. Namun, ternyata ada sensasi lebih yang saya bisa rasakan.

Pertama, saat menaiki MRT guncangan yang dirasa tak sekencang KRL, bahkan dikatakan mempuyai suspense yang sangat halus. Akan tetapi saking kencangnya MRT dalam melaju, kita harus terbiasa saat kendaraan ini mengerem dan berhenti di setiap stasiun. Jangan sampai anda terjatuh dan memeluk kekasih orang lain di dalam, bahaya.

Kedua, dengan menumpangi MRT maka kita akan mendapatkan pemandangan atas Kota Jakarta Selatan sekitaran, Fatmawati, Cilandak, hingga Blok M. Memang tak seindah pemandangan gunung dan hamparan hijau sawah, tapi kalau anda seseorang yang mengimpikan pemandangan Kota Tokyo, ya menggunakan MRT ini bisa sedikit mengobati, sedikit ya.

Sedangkan yang ketiga, ya tentu saja anda akan merasakan sensai menggunakan kendaraan umum di bawah tanah. Tidak ada pemandangan menarik ketika kereta memasuki bawah tanah, namun sejenak suasana Jakarta tiba-tiba berubah menjadi seperti di London atau New York dengan Subwaynya. Bagi anda pengidap  Claustrophobia atau phobia terhadap ruang, jangan takut, desain terminal di bawah tanah sudah dimodifikasi agar lebih ramah dan tidak menyeramkan.

Asyik merasakan MRT, tak terasa kurang dari 30 menit kami sudah tiba di Terminal Bundaran HI. Dihitung-hitung, jarak tempuh antar stasiun memakan waktu sekitar 2 menit dan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI kami melewati 13 terminal. Tiba di Bundaran HI, rasanya kami ingin menghisap rokok sebatang atau dua batang sembari menikmati senja yang saat itu sedang cantik-cantiknya.

Akibat tak disediakan ruang merokok di dalam Terminal MRT, kami alhasil harus melipir ke luar. Sangat disayangkan, mengingat penyediaan ruang khusus merokok di kawasan umum dilindungi oleh undang-undang. Kehadiran ruang merokok juga bisa menjembatani kebutuhan para perokok agar bisa menjaga ketertiban. Jika tulisan ini dibaca oleh para pemangku kebijakan, semoga bisa diwujudkan ruangan merokok di setiap terminal nantinya.

Usai menikmati berbatang-batang rokok di kawasan Bundaran HI, tibalah saatnya kami pulang. Sayangnya senja yang indah saat itu harus berganti tiba-tiba dengan mendung yang pekat. Hujan perlahan-lahan jatuh membasahi Jakarta. Bulir air yang turun di kaca-kaca MRT menambah suasana kian syahdu, dingin, dan tiba-tiba ada dia, gadis berambut pendek, dengan setelan casual bersepatu kanvas. Saat memandangnya sejenak waktu berhenti berputar. Sayang, hingga terminal Lebak Bulus, mulut ini tak sempat mengucapkan kata perkenalan, wkwkwkw.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pos terkait