REVIEW

Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong “katrok alias deso”.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata “cocok” ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban “tidak masalah santai aja Pak”.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan “nginang”. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image.


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab “mungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu”. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

You may also like

Comments are closed.

More in:REVIEW