REVIEW

Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek

Sehabis shubuh suasana masih agak gelap, namun banyak jalan jalan di kota Kudus sudah ramai dan padat, bahkan terjadi kemacetan di banyak titik. Tidak hanya di jalan raya, jalan kampung pun demikian. Terlihat para wanita, ada yang berseragam batik ada yang tidak.  Ada yang bawa sepeda motor, sepeda ontel, kebanyakan mereka naik mobil rombongan. Bahkan bayak pula mobil yang di tumpangi pakai bak terbuka (pic up). Hampir tiap sudut di kota Kudus terjadi demikian. Baik dari arah barat, arah selatan, arah timur dan dari utara, ramai para wanita.

Sekilas Tidak pantas bagi kaum hawa ini keluar masih gelap, tapi di Kudus sudah terlihat terbiasa. Mereka pergi dan beraktitifitas saat banyak orang masih melanjutkan istirahatnya. Bangun tidur, mereka harus mealkukan pekerjaan sebagai ibu dan sebagai istri, menyiapkan kebutuhan anak dan suami untuk pagi sampai siang hari.  Mereka ini tidak lain berangkat bekerja ke pabrik. Mereka ini adalah pewaris budaya atau lebih tepatnya orang yang melestarikan budaya. Budaya masyarakat Indonesia yang berusia lebih dari seratus tahun.

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini

Budaya yang diwariskan oleh H. Djamhari sejak abad 19 yang lalu. Budaya pengetahuan meracik dan mengolah tembakau dengan cengkeh, serta budaya melinting hingga berbentuk kretek. Di tangan para wanita yang terampil inilah, budaya kretek di Kudus tetap lestari. Selain melestarikan budaya membuat kretek, mereka tentunya mendapatkan imbalan yang cukup untuk membantu ekonomi keluarga.

Di Kudus, menjadi pekerja di pabrik pembuatan kretek menjadi kebanggaan. Banyak kaum hawa saling berebut. Dan tidak sembarang orang bisa masuk harus mempunyai pengalaman membuat kretek, minimal pengetahuan.  Pengalaman dan pengetahuan meracik dan membuat kretek bukanlah hal yang sederhana. Harus melalui tahapan belajar pelan pelan dan sabar.

Tidak percaya? Silahkan buktikan. Saya pernah melihat sendiri beberapa kali, saat mereka (wanita pembuat kretek) kedatangan tamu, dari mahasiswa sampai pejabat pemerintah lokal dan pusat. Para tamu melihat sendiri ketrampilan para wanita pembuat kretek. Kebanyakan para tamu heran melihat ketrampilan tangan para wanita pekerja pembuat kretek. Karena sangat cepat, bersih dan rapi, seakan-akan seperti mesin.

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi

Saat berkunjung para tamu dipersilahkan mencoba untuk membuat kretek. Memang kalau dilihat seakan-akan mudah dikerjakan, setelah para tamu mempraktekkan hasilnya nihil alias tidak bisa cepat, bagus dan rapi. Ya hanya jadi serupa lintingan rokok kretek. Ukuran kepadatan isian tembakau dalam bungkus tidak terpenuhi, bentuk konus yang baik juga tidak terpenuhi. Kerapian lintingan dan kecepatan melinting apalagi jauh dari kebiasaan para wanita pembuat kretek.

Perlu diketahui, selain bahan baku yang baik, ukuran kepadatan dan bentuk rokok kretek sangat mempengaruhi rasa. Semisal isian tembakau kurang padat rasanya hambar, begitu pula terlalu padat maka hisapannya berat. Jelas mempengaruhi kenikmatan rokok kretek. Membuat rokok kretek agar mantap rasanya bukan perkara mudah, harus melalui tahapan-tahapan pembelajaran. Selain itu harus benar-benar tekun dan rajin.   

Kebanyakan pewaris ketrampilan pembuat rokok kretek di Kudus kaum hawa, dan beragam umurnya, ada yang muda (lulus SMA/SMK) ada yang sudah usia tua sekitar 50-60an tahun. Pengakuan salah satu wanita sebagai pekerja pembuat kretek di Kudus bernama Haryanti umur 43 tahun warga desa Gondangmanis, ia sangat bangga dapat mewarisi keahlian dan ketrampilan membuat rokok kretek. Keahlian dan ketrampilan orang Kudus. Ia memang dibesarkan di Kudus, tapi asli orang tuanya berasal dari kabupaten Kendal sebelah selatan kota Semarang. Ia belajar membuat rokok kretek sejak lulus dari SMK di Kudus, dari tetangga rumahnya. Awalnya memang sulit, berkat kesabaran akhirnya sekarang lebih dari sekedar bisa.

Bangganya lagi, berkat keahlian yang ia miliki, menghasilkan nilai ekonomi yang cukup untuk membantu suami. Hingga dapat menyekolahkan tiga anaknya, anak pertama lulus SMA tahun kemarin dan kemudian lolos menjadi TNI, anak kedua sekarang masih SMA dan anak ketiga jenjang SLTP.

Masuk menjadi pegawai pabrik rokok kretek pun tidaklah mudah, saingannya banyak, ungkap Haryanti. Karena menjadi pegawai pabrik rokok kretek bagi kebanyakan masyarakat Kudus menjadi kebanggaan, selain pendapatannya tetap, juga mendapatkan jaminann sosial, seperti kesehatan dan tunjangan lainnya. Lain itu, kalau di pabrikan besar seperti Djarum, saat usia senja dan dirumahkan mendapat pesangon yang lebih dari cukup, ungkap Haryanti lagi. Ia juga menceritakan, ada tetangganya yang sudah usia lanjut dan tidak lagi bekerja, mendapatkan pesangon yang cukup untuk modal membuat warung klontong dirumah.

Kesaksian Haryanti, sebagai pewaris keahlian membuat kretek salah satu bukti bahwa membuat rokok kretek bukan perkara mudah, perlu proses transformasi ilmu dari ahlinya. Selain itu, mempunyai keahlian membuat rokok kretek menjadi kebanggaan tersendiri, sebagai pemegang tongkat warisan dan juga mempunyai nilai ekonomi yang cukup untuk keluarga. Kebanyakan yang mewarisi adalah kaum perempuan, yang setiap hari pekerjaannya bergelut dengan tembakau, cengkeh dan rokok kretek. Dan yang terpenting menjadi pewaris membuat rokok kretek dan menjadi pegawai pabrik rokok kretek masih menjadi kebanggan kebanyakan masyarakat kecil di kota Kudus.  

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

You may also like

Comments are closed.

More in:REVIEW