REVIEW

Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)

Pak Buari, kiri, dan warga Dusun Cepit.

Dua jam tujuh menit perjalanan Jogja-Secang menumpang bis, kemudian 18 menit perjalanan Secang-Temanggung juga menggunakan bis, jelang jam 11 siang saya tiba di Temanggung pada selasa, 7 Mei 2019. Ketika tiba di kantor Beasiswa KNPK Temanggung, tersisa tiga orang di sana. Ela, Tatag, dan Hakim. Empat orang lainnya yang tergabung dalam tim verifikasi beasiswa sudah berangkat.

Tak lama setelah saya tiba, Ela berangkat bersama Tatag mengendarai sepeda motor. Sedang saya berangkat bersama Hakim. Ada 92 rumah di 12 kecamatan yang mesti kami kunjungi. Tim dibagi menjadi empat sub-tim yang tiap sub-tim kebagian jatah tiga kecamatan. Saya dan Hakim kebagian jatah Kecamatan Bulu, Kecamatan Temanggung, dan Kecamatan Kedu di Kabupaten Temanggung.

Saya dan Hakim, memilih berkunjung ke rumah terjauh lebih dahulu.

Pasar Temanggung ramai di siang hari. Jalur satu arah yang melintasi pasar, tersendat karena banyaknya kendaraan dan angkot yang berhenti sejenak. Beberapa pengunjung pasar memanfaatkan itu untuk menyeberang. Saya membonceng. Memanfaatkan waktu luang saat lalu lintas tersendat dengan memandang ke arah kiri dan kanan.

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung

Pada sebuah etalase berisi beragam jajan pasar, bola mata saya berhenti lama. Menyadari saya dalam kondisi puasa, saya bersyukur. Jika tidak, betapa melelahkan membayangkan mengunyah bermacam jajan pasar itu karena rasa penasaran ingin mencicip satu per satu.

Selepas melalui pasar, kami melintasi Alun-Alun Kota Temanggung. Tulisan besar ‘Kota Tembakau’ menyambut para pengendara yang searah dengan kami. Dari alun-alun, kami berbelok memasuki jalan poros yang menghubungkan Kota Temanggung dengan Kecamatan Parakan. Dari sana pengendara akan bertemu jalur utama bercabang dua, satu arah ke Wonosobo, satu lagi mengantar pengendara melalui Kabupaten Kendal hingga jalur Pantura.

Persis sebelum rumah sakit Parakan, kami membelokkan kendaraan ke arah salah satu sisi lereng Gunung Sumbing. Tepatnya perbatasan Kecamatan Bulu dan Kecamatan Parakan. Lalu lintas kendaraan mendadak sepi. Hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Jalur menanjak dengan aspal cukup mulus mesti dilintasi. Di kiri kanan jalan, kontur perbukitan ditumbuhi tanaman sayur dan palawija menanti dipanen. Sisanya sebagian sudah selesai dipanen, lainnya berganti tanaman tembakau yang baru mulai ditanam.

Ketika tiba di kampung yang dituju, kami bertanya pada seorang warga yang sedang menjemur bawang di halaman rumahnya. Pria paruh baya itu menunjukkan rumah yang hendak kami tuju. Berjarak sekira 50 meter saja dari tempat kami berdiri. Saya memilih jalan kaki karena jalan menuju rumah itu menanjak dengan kemiringan di atas 60 derajat.

Bawang-bawang yang baru dipanen dijemur di atas para-para–yang pada musim panen tembakau juga digunakan untuk menjemur tembakau–di halaman rumah. Seorang perempuan, usianya saya perkirakan 30an tahun, datang menyambut saya dan Hakim. Perempuan itu, Buklik dari Nisa, salah seorang calon penerima beasiswa.

Hanya ada Ia, dan dua orang anak usia sekira 5 tahun di rumah. Nisa dan kedua orang tuanya sedang di ladang. Menurut Buklik Nisa, kedua orang tua Nisa sedang menanam tembakau di ladang, musim tanam tembakau memang masih berlangsung. Nisa mengisi liburan dengan ikut ke ladang.

“Masnya tunggu sebentar, biar saya panggilkan Bapaknya Nisa dulu. Ladangnya dekat kok, Mas.” Ujar Buklik Nisa.

Saya mengiyakan. Mengisi waktu luang saat menunggu, saya melihat bibit pohon tembakau yang belum di tanam. Masih proses persemaian. Menurut Bapak dari Nisa, 15 hari lagi bibit-bibit itu bisa ditanam.

Kurang dari 15 menit, Buklik Nisa datang bersama Bapak Nisa. Nisa dan Ibunya, masih di ladang. Bapak Nisa menyilakan kami masuk ke ruang tamu. Dua buah kursi berhadapan dibatasi meja sepanjang satu meter. Dan sebuah kursi panjang di sisi lainnya mengisi ruang tamu. Tak ada benda lain di ruang tamu berukuran delapan kali enam meter itu. Usai perkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami, saya lantas mengeluarkan selembar kertas berisi formulir verifikasi yang mesti saya isi. Saya mengisi form itu sesuai cerita-cerita yang disampaikan Bapak Nisa.

Nisa anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun ini Ia lulus SMP, dan bersiap sekolah di jenjang berikutnya. Ia memilih melanjutkan ke SMK, dan coba mendaftar program beasiswa KNPK. Usai wawancara awal pada Maret 2019, Nisa mengikuti tes tertulis pada 28 April 2019. Nilai tesnya cukup bagus. Hingga akhirnya Ia masuk dalam daftar panjang 92 nama yang lolos tes tertulis, dan mesti diverifikasi.

Karena tes tertulis, hanya satu dari empat syarat utama yang menentukan kelolosan seorang anak. Tiga lainnya didapat dalam proses verifikasi ini.

Bapak Nisa seorang petani. Bawang-bawang yang dijemur di halaman rumahnya, hasil panen dari ladangnya pada musim panen tahun ini. Luasan ladangnya kecil saja, kurang dari seperempat hektare. Kini, pada musim tembakau, ladangnya ditanami tembakau jenis kemloko 3.

Itu rumah pertama yang kami datangi siang itu. Di Dusun Kwadungan, Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu. Desa yang pada 2001 sempat menjadi perbincangan karena pada tahun itu sebuah meteor jatuh ke bumi, menimbulkan ledakan besar yang mengagetkan warga. Meteor itu jatuh di salah satu tempat di Desa Wonotirto.

Setelah dari Wonotirto, saya dan Hakim menyusuri lereng Sumbing menuju Desa Gandurejo. Di sana kami harus berkunjung ke tiga rumah. Satu di Dusun Sejeruk, dua di Dusun Luwihan.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

You may also like

Comments are closed.

More in:REVIEW