REVIEW

Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. 

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. 

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga ‘abadi’ Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. 

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. 

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. 

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. 

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Santri Milenial dan Perokok Berat

You may also like

Comments are closed.

More in:REVIEW