OPINI

Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitty Hikmawatty sesat pikir saat mengatakan bahwa program audisi beasiswa bulutangkis sebagai ajang ekploitasi anak. KPAI mempermasalahkan tulisan Djarum di kaos olahraga, karena sebagai ajang promosi brand rokok. Disini KPAI gagal faham membedakan antara Djarum Foundation dan Djarum industri rokok.


Djarum Foundation sebagai wujud bhakti terhadap Bangsa dan Negara, sehingga prakteknya Djarum Foundation mengeluarkan uang, bukan mencari keuntungan. Ketika dikatakan sebagai ajang promosi produk rokok, sudah ditampik dan sudah dijelaskan secara detail pengurus Djarum Foundation, bahwa program yang dijalankan jauh dari niatan promosi produk rokok. Kalaupun ada tulisan Djarum di kaos olahraga, memang sejarahnya dari dulu sebagai nama clubnya.


Sitty Hikmawatty sebagai komisioner KPAI, harusnya cerdas menyikapi hal tersebut. Harusnya ada apresiasi pada Djarum yang sadar akan kewajibannya, andil dalam pengembangan bakat bagi anak-anak. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation tidaklah mudah, membutuhkan tenaga dan matriil begitu besar. Sekarang pertanyaannya, siapa dan industri pribumi mana yang berani melakukan seperti itu?, bahkan KPAI pun tidak akan berani membuat program pencarian bakat secara intensif dan masif.


KPAI harusnya faham makna perlindungan bagi anak, jangan hanya dimaknai secara sempit, semisal anak juga butuh perlindungan dari kebodohan dan kebutuhan lain yang sifatnya sangat mendesak. Nyatanya masih banyak anak –anak yang tidak sekolah karena tidak mampu, masih banyak anak-anak yang hidup terlantar di Jalan, masih banyak anak-anak sebagai obyek makanan ringan yang bahannya membahayakan bagi tubuh. Dimana dan apa yang sudah dilakukan KPAI untuk melindungi anak tersebut?. Masih banyak masalah anak yang sangat penting dan krusial harus dikerjakan KPAI, dari pada mengurusi tulisan club Djarum dalam program audisi Djarum Foundation.


Belum lagi, katanya KPAI akan mengambil langkah mengundang Kepala Daerah, dimana kotanya dibuat ajang audisi tersebut. Kalau nanti benar terjadi, menandakan kinerja KPAI tidak efektif. Masalah anak yang paling penting tidak terurus, dan selalu bergejolak di masyarakat kelas bawah. Sekali lagi seperti tidak sekolah karena orang tuanya tidak mampu atau orang tuanya meninggal dunia, walaupun sekolah katanya gratis, akan tetapi dampak lain timbul seperti halnya masalah ekonomi, akhirnya anak-anak mendingan cari uang untuk hidup sehari-hari dari pada sekolah. Anak-anak suka beli jajan (makanan ringat) di toko maupun dipinggir jalan yang mengandung bahan membahayakan bagi pertumbuhan anak. Di perempatan jalan atau lampu merah banyak anak-anak yang hidupnya menggelandang tanpa tujuan. Ini riil dan nyata di hadapan mata kita tiap hari.


Tapi anehnya KPAI saat ini malah lebih intens mengurusi hal yang tidak penting degan melarang audisi pencarian bakat bulutangkis oleh Djarum Foundation. KPAI cenderung gagal faham dalam memahami, menafsiri, dan mensikapi hal tersebut. Anehnya lagi, apa yang dilakukan KPAI sampai ngotot.


Kalau mau melarang program audisi Djarum Foundation, tunjukkan dulu KPAI punya program pencarian bakat seperti Djarum Foundation lakukan. Jangan seenaknya KPAI, melarang-larang tanpa solusi konkret dengan dalil perlindungan. Lucunya, KPAI dengan dalil perlindungan anak mengatakan, audisi pencarian bakat bulutangkis yes, ajang promosi no. Kalau dipahami, KPAI ingin audisi Djarum Foundation tetap jalan, tapi tulisan Djarum dihilangkan. Ini sama saja, tidak boleh menulis atau memaparkan nama club. Sedangkan pencantuman nama club sangat penting sebagai identitas dan jati diri.


Kegiatan perlindungan untuk anak adalah pekerjaan yang sangat mulia kalau benar-benar dilakukan. KPAI, sebagai lembaga dengan memapang langsung tulisan perlindungan anak akan lebih mulia jika programnya konkret. Seperti lembaga sekolah negeri atau swasta, tanpa memakai kata-kata perlindungan, sekolah tersebut mendidik anak melindungi anak dari kebodohan untuk kesiapan masa depan. Audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation pun demikian, kegiatannya konkret menyiapkan atlet olahraga bulutangkis. Dan apa yang telah dilakukan Djarum Foundation dengan audisinya sangat beda dari bentuk promosi. Berbeda dengan pelibatan anak-anak untuk promosi produk, murni tujuannya agar produknya laku. Apalagi produk yang ditawarkan untuk kebutuhan anak. Contohnya banyak sekali beredar iklan-iklan yang terpampang di pinggir jalan, di media sosial, bahkan di stasiun televisi, hal ini kayaknya lolos dari bahasan KPAI.


Belum lagi, tanpa disadari lembaga KPAI juga menumpang hidup dari anak-anak. Kemana-mana membawa nama anak-anak untuk kegiatannya, bahkan sampai untuk menggalang donasi. Namun kegiatan yang betul-betul sangat dibutuhkan anak-anak belum atau bahkan tidak tersasar dan tidak menjadi prioritas. Sehingga, program KPAI untuk perlindungan anak dipastikan tidak efektif. Buktinya, KPAI membuat masalah yang sederhana dibuat rumit, seperti mempermasalahkan tulisan Djarum sebagai club dalam ajang audisi pencarian bakat Djarum Foundation Bhakti Olahraga. Jelas-jelas untuk kepentingan masa depan anak, dengan meningkakan minat dan bakat anak dalam olahraga atas dasar suka dan tidak ada paksaan.
Kata kunci pendidikan bagi anak adalah bermain, senang atau suka, sesuai keinginan, dan untuk bekal hidup selanjutnya. Jika KPAI mempermasalahkan tulisan club Djarum, yang dianggap sebagai ajang promosi dan ekploitasi anak, alasan tersebut tidak benar dan tanpa dasar. Seperti halnya penjelasan di atas, audisi pencarian bakat bulutangkis Djarum Foundation, jauh dari promosi dan ekploitasi. Tujuan utama audisi tidak lain memberikan bekal dan pendidikan bagi anak sesui keinginannya, anak belajar dengan senang, gembira, dan bermain.


Jika kemudian KPAI dan lembaga lain yang mengatasnamakan peduli anak, melarang kegiatan audisi pencarian bakat olah raga bulutangkis yang dilakukan Djarum Foundation, sama dengan menghalangi anak Indonesia mengembangkan minat dan bakatnya sesuai keinginan, menghalangi anak Indonesia belajar sambil bermain dan gembira, menghalangi anak Indonesia untuk mendapatkan bekal hidup selanjutnya, menghalangi anak Indonesia untuk mewujudkan cita-cita. Apa yang dilakukan KPAI dan lembaga lain tersebut, sangat bertentangan dengan cita-cita Bangsa, dan cita-cita pendidikan bagi anak di Indonesia.