PERTANIAN

Tembakau Adalah Takdir Desa Kami

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi’i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi’i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi’i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi’i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Saya mengiyakan. Sebelum diingatkan Rofi’i, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari jumat. Jika tidak diingatkan Rofi’i dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi’i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi’i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi’i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.

“Bisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.” Ujar Rofi’i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, “Apa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?”

“Di musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.” Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan

“Sudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.” Tambah Sunyoto kepada kami.

“Jadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.” Terang Rofi’i.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

You may also like

Comments are closed.

More in:PERTANIAN