OPINI

KPAI Jangan Ngeles Terus, Berani Berbuat Harus Berani Bertangggungjawab

pb djarum

Mulanya melarang ada tulisan Djarum di kaos dengan alasan satu bentuk promosi dan ekploitasi anak. Setelah larangan tersebut diindahkan PB. Djarum dengan tidak mencantumkan tulisan Djarum tapi tetap melaksanakan audisi pencarian bakat usia anak-anak. Selanjutnya KPAI melarang Audisi tersebut, lagi lagi beralasan ekploitasi anak karena warna dan desain yang dipakai menurut KPAI masih mencerminkan Djarum sebagai Industri Rokok. Akhirnya PB Djarum melalui konferensi pers di Hotel Aston Purwokerto disampaikan Diruktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation sabtu 7 September 2019, memutuskan untuk tidak melanjutkan program audisi bulu tangkis anak-anak tahun depan (2020). 

Pengunduran diri Djarum tidak serta merta mundur, sudah melalui proses negoisasi memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan masa depan anak-anak dengan cita-cita mulianya. Lalau bagaimana nasibnya? Tentunya KPAI yang bisa jawab. Semoga KPAI bertanggungjawab. 

Pada perkembangannya, mundurnya PB Djarum gara-gara KPAI sangat disesalkan banyak pihak. Terlebih Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, ia menegaskan olahraga di Indonesia sangat membutuhkan uluran tangan industri, agar tetap maju dan makin berjaya. Kalau dicermati, satu-satunya industri di Indonesia yang kuat dan mampu sebgai bapak asuh hanyalah pabrikan rokok. Industri yang lain entah di mana.

Baca: Sesat pikir KPAI Melarang Audisi Pencarian Bakat Bulutangkis Anak-Anak

Setelah banyak yang menyayangkan tindakan KPAI tersebut, saat ini KPAI mencoba ngeles lagi, kalau yang dilarang itu keikutsertaan industri rokok dalam audisi, bukan audisinya. Mau alasan apa dan bagaimana, KPAI tetap yang melarang jalannya audisi PB. Djarum yang sekian lama sudah berjalan dengan baik, jauh dari niatan sponsor ataupun ekploitasi anak dan itu sudah dijelaskan dari pihak PB Djarum, kalau PB Djarum beda dengan PT Djarum. PB Djarum hanyalah nama klub, kalau PT Djarum jelas industri. Tidak pernah sama sekali PB. Djarum mempraktikkan ekploitasi anak seperti menganjurkan untuk menjual, mengkonsumsi bahkan memberikan rokok pada anak-anak tersebut. Walaupun mirip tetap beda jauh antara PB Djarum dan PT Djarum.

Logikanya begini, bertahun-tahun audisi PB Djarum berjalan lancar dan baik, hasilnyapun memuaskan. Kemudian audisi PB Djarum tersebut harus berhenti atas desakan KPAI dengan alasan yang masih ambigu dan tak masuk akal. Berdalih ekploaitasi anak yang selalu didengungkan. Alasan ini sudah ditepis pihak PB Djarum, bahkan dijelaskan secara detail, bahkan PB Djarum mau menghilangkan tulisan Djarum pada kaos sebagai kali pertama tuntutan KPAI.  Anehnya, sudah dilaksanakan tuntutanya, tapi nyatanya KPAI tetap ngotot audisi tidak boleh dilanjutkan oleh PB Djarum. 

Pelaksanaan audisi pencarian bakat usia anak-anak terutama atlet bulutangkis, bukan perkara mudah. Tak hanya sistem yang baik diperlukan, tapi pikiran dan dana juga yang terpenting. Pernahkan KPAI setelah melarang audisi PB Djarum memberikan solusi siapa yang akan melanjutkan? Tak terdengar sedikitpun dari KPAI, bahkan mungkin KPAI tak memikirkan hal itu. 

Nah ketahuan, ternyata KPAI hanya mementingkan egonya dari pada memikirkan kepentingan hajat anak-anak generasi penerus bangsa yang bercita-cita luhur. KPAI hanya melempar permasalah tanpa memberikan solusi. 

Kiranya apa yang diinginkan KPAI tercapai dan berhasil sesuai target, dan itu mungkin tujuan utamanya. Masa depan anak-anak generasi penerus atlet bulutangkis yang mendunia tak jadi agenda dan urusannya. Kalau memang demikian, KPAI hanya bisa mengkritik tanpa solusi. KPAI hanya bisa mengkritik tanpa dasar. KPAI hanya bisa mengktitik tanpa memperdulikan kenyataan. 

Tanggapan legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, terkait tudingan KPAI dan Lentera Anak.

Setelah ini berhasil, mungkin agenda kedepan, KPAI akan juga mempermasalahkan regenerasi olahraga lainnya, dan mungkin alasannya sama yaitu ekploitasi anak. Coba kita tunggu hal itu terjadi di olahraga lain. Jika terjadi, jelas KPAI tidak lagi menjalankan fungsi dan kewajibannya melindungi anak. Perlindungan bagi anak maknanya sangat luas sekali, tidak hanya menjaga dari ancaman, akan tetapi bertanggungjawab mengayomi, memberikan arahan bahkan solusi yang terbaik untuk masa depan anak dalam rangka menghadapi kehidupan selanjutnya. Sebaliknya, kalau tidak terjadi, timbul pertanyaan baru, ada apa kok hanya audisi anak-anak PB Djarum yang dipermasalahkan? Lagi-lagi hanya KPAI yang bisa menjelaskan perkiran kedepan di atas. 

Baca: PB Djarum, Prestasi Bulutangkis Nasional, dan Kegagalan KPAI Memahami Peristiwa

Akibat pelarangan audisi tersebut memicu muncul pro dan kontra, wajar banyak nitezen yang menghujat KPAI di media sosial. Mereka bukan tanpa alasan, mereka sudah geli melihat tindakan KPAI dengan menggandeng Yayasan Lentera Anak. Pada tanggal 25 Juli 2019, audisi dituduh ada unsur ekploitasi dengan adanya tulisan Djarum pada kaos. 

Kemudian pada tanggal 26 Juli 2019, dibantah dan dijelaskan PB Djarum dan PT Djarum itu berbeda, dan dipastikan audisi tidak ada praktek ekploitasi seperti yang dituduhkan. Pada 29 Juli 2019, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty menuduh audisi PB Djarum mengandung unsur ekploitasi anak secara terselubung. Pada minggu kedua bulan Agustus 2019 KPAI mengundang Pemerintah Daerah yang menjadi tuan rumah dalam audisi, dengan agenda audisi dilaksanakan tanpa logo perusahaan rokok. Tanggal 2 September 2019 permintaan KPAI untuk menghilangkan tulisan Djarum di kaos dipenuhi. 

Pada tanggal 4 September 2019, terjadi kesepakatan dalam pertemuan Kemenpolhukam, Kemenpora dan pihak pemerintah lain beserta PB Djarum, yaitu Kemenpora mengakomodasi regulasi perlindungan pembinaan atlet anak yang dilakukan sektor swasta. Kedua, KPAI meminta tidak ada tulisan Djarum pada kaos. Namun setelah itu ada pertemuan KPAI dan PB Djarum yang difasilitasi KPPPA, tetap ngotot audisi yang dijalankan PB Djarum adalah ekploitasi anak walaupun tulisan Djarum sudah dihilangkan. Saat itu muncul alasan aneh, walaupun tulisan sudah tidak ada tapi warna dan desain kaos masih representasi dari Djarum. Pada akhirnya pada tanggal 7 September resmi PB Djarum berpamitan, audisi penjaringan atlet anak-anak mulai tahun 2020 ditiadakan.

Jadi siapa yang senang mundurnya PB Djarum tersebut? Jelas bukan masyarakat penikmat olahraga bulutangkis, bukan Kemenpora, tapi KPAI yang telah berhasil melarang audisi berlanjut. Bukti nyata, kalau KPAI telah memupuskan harapan anak-anak bangsa Indonesia untuk ikut andil mengharumkan nama Bangsa di Dunia.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

You may also like

Comments are closed.

More in:OPINI