cukai rokok
REVIEW

Merayakan Hari Kretek

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.

Baca juga:  Menyerang Kretek, Merebut Lahan Cengkeh

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.

Baca juga:  Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

Comments are closed.

More in:REVIEW