kudus
Smoker Travellers

Smoker Travellers: Menemukan “Jaksel” di Kota Kudus

Sebagai seorang pekerja dengan tingkat intensitas tinggi untuk dinas ke luar kota, memilih tempat untuk bekerja sekaligus nongkrong adalah hal menjemukan. Terlebih apabila Anda adalah seseorang yang berasal dari sebuah kota besar contohnya Jakarta dan harus berkunjung ke sebuah daerah. Kadang Anda berpikir tak mempunyai banyak pilihan dan harus mengandalkan rekomendasi dari google atau kawan dan masyarakat setempat. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada saya saat mengunjungi Kota Kudus beberapa waktu lalu.

Kota Kudus sejatinya bukanlah kota yang besar seperti tempat di mana saya tinggal yaitu Jakarta, lebih tepatnya Jakarta Selatan. Bicara soal daerah tempat saya tinggal, bisa dikatakan Jakarta Selatan atau Jaksel kini tengah naik daun akibat perbincangan di sosial media. Some people say Jaksel saat ini adalah indikator dan standar anak gaul se-Indonesia, huft seperti berlebihan walau nampaknya sih tidak juga. Akan tetapi Jaksel juga mendapat olok-olokan akibat standar gaulnya yang konon katanya tergolong tinggi, maybe.

Baca: Pengalaman Tiga Jam Lebih Menyaksikan Konser Musik Tanpa Asap Rokok

Sebagai orang yang tinggal di Jaksel sejak 2007 silam, saya rasa pernyataan tentang Jaksel yang dinyatakan orang-orangnya nampaknya terlalu berlebihan. Tapi menurut saya Jaksel adalah tempat di Jakarta yang layak huni, kerja, nongkrong dibandingkan daerah di belahan Jakarta lainnya. Jika dihitung dari seluruh tempat yang pernah saya kunjungi, ada sekitar puluhan yang layak untuk jadi tempat nongkrong, pacaran, bekerja, menyendiri di Jaksel, entah itu kedai kopi atau tempat lainnya.

Saya cukup paham betul daerah mana yang bisa saya jadikan rujukan untuk beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas. Bahkan masjid sekali pun di Jaksel saat ini bisa digunakan untuk tempat kongkow pasca pulang mendengarkan pengajian, sungguh maha hebat Jaksel. Sekali lagi bukan bermaksud menyombongkan diri, kebiasaan yang saya alami di Jaksel harus sulit disesuaikan ketika harus berkunjung ke luar daerah, salah satunya Kota Kudus yang saya kunjungi. Pertama, Kudus memiliki kota yang kecil, kedua saya punya cukup waktu lama di sana, ketiga solusinya saya harus segera beradaptasi.

Tapi ternyata proses adaptasi itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah saya bisa berkeliling Kota Kudus dan menemukan teman di sana. Kesulitan pertama dan kedua yang saya tuliskan di atas pun ternyata tak berlangsung lama. Karena saya akhirnya saya menemukan tempat-tempat yang mengagumkan di Kudus. Alun-alun Kudus misalnya, saya merasakan kehangatan interaksi masyarakat di sana, dan juga bagaimana tata kota itu dibangun dengan sangat bagus. Alun-alun dibangun dekat dengan pusat perbelanjaan, pemerintahan, dan juga rumah ibadah, tentu di sana dikeliling juga oleh berbagai jajanan kaki lima, sungguh pilihan yang lengkap.

Bicara soal khazanah kuliner, pengalaman dan literasi saya tentang makanan nusantara kian bertambah saat berkunjung ke Kudus. Teman mengajak saya untuk mencicipi beberapa kudapan khas di kota tempat berdakwahnya Sunan Muria dan Kudus tersebut. Pertama, untuk makan pagi kalian bisa menyantap Lentog, sebuah sajian lokal dengan isian lontong, tahu lodeh, dan nangka muda yang tentunya sudah dimasak. Uniknya, makanan ini disajikan dalam porsi yang kecil. Teman saya agak berat ketika merekomendasikan makanan ini, alasannya sederhana yaitu porsinya yang terlalu sedikit, tapi menurut saya ini porsi yang pas, sangat pas bahkan saya kira.

Ketika siang tiba dan waktunya makan, teman saya kemudian merekomendasikan untuk menyantap tongseng entog. Kalian tahu apa itu entog, dia adalah unggas sejenis bebek dengan nama latin Cairina Moschata yang sering dijumpai di persawahan. Untuk lebih lengkapnya silakan dicari saja di internet. Karena saya cukup bosan dengan makanan bersantan, saya akhirnya memilih entog goreng, Rupanya mereka menyajikan entog goreng yang sangat empuk dan gurih dalam bentuk potongan. Nasinya bisa diambil sendiri begitu juga dengan sambal gorengnya yang mantap.

Baca: Smokers Travellers: Jejak Keemasan Tembakau Deli di Masjid Raya Al-Ma’shun Medan

Toleransi di Kota Kudus kabarnya memiliki indeks yang baik. Setidaknya toleransi itu sudah dilembagakan dalam bentuk makanan. Saat makan malam tiba, kami menikmati sajian soto dan sate kerbau. Kata teman saya, mengapa warga Kudus memilih kerbau sebagai sajian makanan karena leluhur mereka dulunya menghargai umat Hindu yang tak memakan sapi dan akhirnya kerbau yang dipilih. Fakta atau tidak, bagi saya niatannya cukup baik. Ohya, Soto Kerbau rasanya mirip dengan berbagai soto lainnya, namun Sate Kerbau Kudus memiliki keunikan tersendiri. Sate Kerbau dibuat dari daging kerbau yang sudah digiling halus dicampur kelapa dan dibekap pada tusukan bambu. Sekilas mirip cara pembuatan sate lilit khas bali yang berbahan dasar ikan.

Makan tiga kali sehari sudah, maka waktunya untuk nongkrong. Saya diajak oleh teman untuk pergi ke Blackstone Urban LoungeDisclaimer, tulisan ini bukan bentuk promosi berbayar atas tempat tersebut, melainkan hanya review salah satu tempat nongkrong yang asyik di Kota Kudus. Kalian bisa searching sendiri di Internet di mana tempat ini berada. Ketika berkunjung ke sana, saya rasa ini tempat yang Jaksel banget di Kota Kudus. Lounge besar yang nyaman, ruangan merokok juga sangat luas, pelayannya ramah, tempatnya bersih, menunya lengkap dan harganya sangat terjangkau!

Saya rasa di Jaksel pun saya belum tentu menemukan tempat nongkrong yang enak dan nyaman seluas di Blackstone Urban Lounge. Terlebih tempat ini ibarat sebuah komplek bagi anak muda Kota Kudus, ada kedai kopinya, ada pool biliar, lapangan futsal, dan badminton, sangat lengkap bukan?

Kota Kudus membuka dimensi saya dalam banyak hal. Ternyata Jaksel bukanlah satu-satunya surga nongkrong dan tempat yang anak muda banget di Indonesia. Masih banyak di kota-kota lain yang memiliki keistimewaan serupa. Ah, atau jangan-jangan memang hanya anak-anak Jaksel saja yang selama ini mengglorifikasi tentang kerennya daerah yang mereka huni, mungkin saja.