Smoker Travellers

Smokers Traveller: Bermalam Minggu di Ngayogjazz 2019

Berbicara tentang salah satu event yang paling ditunggu-tunggu Massyarakat Yogyakarta, Ngayogjazz adalah salah satunya. Acara tahunan ini dikemas dengan menarik, menghadirkan musisi Jazz top di tanah air dan juga diadakan dengan konsep yang menarik. Sudah hampir sebulan saya tinggal di kota ini, beruntungnya saya bisa menyaksikan acara Ngayogjazz, meski sebenarnya acara ini sudah diselenggarakan sejak November 2007 silam.

Sebenarnya saya juga tak tahu rupanya ngayogjazz diselenggarakan, Sabtu (16/11) kemarin. Berkat informasi dari teman, saya akhirnya ikut mereka pergi untuk menikmati acara keren tersebut. Kami bersama-sama pun berangkat bersama, meski sebenarnya sudah agak malam. Tapi untunglah beberapa penampil top masih bisa kami saksikan. Sebut saja nama-nama seperti, Nona Ria dan Didi Kempot. Meski pun ada penampil top lainnya yang terlewatkan yaitu, Tompi, Tohpati, Dewa Budjana dan yang lainnya.

Ada sedikit kisah lucu dalam perjalanan menuju venue Ngayogjazz 2019. Karena kami tak tahu persis di mana lokasinya, kami mengandalkan google maps yang justru membawa kami ke desa lain. Sedikit informasi, Ngayogjazz memang dikonsepkan dibikin di tengah-tengah kawasan pedesaan. Mungkin, konsep ini dibuat agar pengunjung juga bisa merasakan kehangatan dari warga desa dan ramahnya penduduk asli Yogyakarta.

Setelah melewati jalan sempit tak beraspal dengan pemandangan sawah yang gelap tanpa penerangan di sana-sini. Kami akhirnya tiba juga di tempat acara yang terletak di Padukuhan Kwagon, Desa Sidorejo Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya memiliki impresi tersendiri ketika pertama kali sampai di venue. Tidak seperti acara jazz lainnya, Ngayogjazz memang lebih mirip seperti pasar rakyat di tengah-tengah perkampungan warga. Banyak warga yang menjajakan jualan khas pasar malam, ibu-ibu berkerudung dan bapak-bapak bersarung berseliweran, unik memang.

Padahal, penampil-penampil yang ada membawakan lagu-lagu jazz baik lokal atau internasional yang mungkin para warga tidak mengenalinya. Tapi ini bukan masalah itu, saya percaya bahwa musik adalah bahasa universal yang golongan masyarakat mana pun pasti bisa menikmatinya. Toh buktinya malam itu semuanya berjalan lancar, tak sedikit pengunjung yang menikmatinya dengan duduk bersila bersama warga di selasar rumah. Banyak juga yang kemudian memilih untuk duduk di tengah sawah beralaskan potongan padi kering bekas panen sambil menatap bulan, semua sangat harmoni malam itu.

Nona Ria membuat malam itu sungguh menjadi sangat manis. Jujur, saya juga baru kali menyaksikan band dengan personil tiga perempuan ini secara langsung. Saya juga baru mengenal satu lagu mereka yaitu ‘Tiga Nona Bersuka Ria’. Lagu ini dibawakan di awal penampilan mereka, saya kira setelahnya saya akan bosan dengan lagu-lagu yang tak saya ketahui, tapi prasangka saya salah. Selesai lagu itu, saya makin menikmati lagu mereka yang memiliki nada yang manis serta lirik yang mudah untuk diingat, kukira warga lokal juga sangat menikmati Nona Ria.

Seteleh menikmati Nona Ria, kami kemudian menuju panggung utama, tempat di mana Lord of The Broken Heart alias Didi Kempot akan tampil. Sesuai dugaan saya, pasti akan ramai pengunjung dan betul saja massa mulai tersendat-sendat berbaris di jalan menuju panggung utama. Agaknya memang setahun belakangan ini kondisi ini selalu mewarnai ketika Didi Kempot manggung. Entah, kok tiba-tiba semua jadi ingin patah hati, menumpahkannya di depan panggung, dan mengingat-ingat kembali seseorang yang tak pernah mereka bisa jaga atau dapatkan.

Tapi ya sudahlah, konser musik memang menjadi medium yang tepat untuk mengekspresikan sesuatu. Walau sejatinya malam tadi saya sedih bukan karena memori percintaan yang terungkit kembali akibat lagu Didi Kempot, melainkan tokoh pendiri Ngayogjazz yang juga seniman hebat Indonesia sala Yogyakarta, Djaduk Ferianto telah berpulang tepat tiga hari sebelum acara masterpiece yang ia bangun itu digelar. Malam itu, bulan mengintip genit di balik awan, dan ribuan doa dipanjatkan untuk Djaduk Ferianto, tanpanya mungkin kami semua tak akan bisa berkumpul di sini, menikmati acara sekeren ini.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang lelaki yang tak pernah merasa kesepian

    You may also like

    Comments are closed.