Tingwe Adalah Solusi

Tingwe tak asing di telinga, suatu aktivitas kreatif tangan menggulung sendiri kertas papier yang sudah dibubuhi tembakau di dalamnya membentuk lingkaran memanjang. Akan bertambah nikmat rasanya jika diberi campuran cengkeh sedikit. Aktivitas ini kebanyakan orang-orang menamainya dengan istilah “ngelinting dewe/membuat rokok sendiri” disingkat “tingwe”. Namanya membuat sendiri, tentunya modalnya lebih kecil.

Tak bisa berkata dan rasanya berat hati, tapi gimana lagi ya, semua harus disesuaikan tebal kantong. Merokok tingwe lebih hemat daripada beli bungkusan di warung.  Apalagi kalau emang ke depan jadi kena krisis, jadi harus hematlah mulai sekarang. Sisihkan sedikit rejeki, jangan beli barang yang kagak begitu penting, kalau memang bisa bikin sendiri, mending bikin sendiri daripada beli. Tapi ya harus dikalkulasi pakai kalkulator lo, hemat mana bikin sendiri dengan beli gitu ya, jangan asal. Contohnya, butuh kerupuk satu sampai dua biji, masak harus bikin sendiri, ya beli aja, lebih murah hanya serebu perak. Kalau bikin sendiri, beli bahannya aja udah mahal, belum minyak gorengnya, belum tenaganya. 

Bacaan Lainnya

Baca: Aku Melinting Maka Aku Melawan!

Beda dengan kebutuhan merokok kretek, di tahun 2020 ini dipastikan harga rokok naik, karena biaya beli pita cukainya dinaikin Negara 23%. Pabrikan tidak bisa berbuat lebih, akhirnya ngikut aja, harga rokok dinaikkan. Hukum alamnya begitu. Tak ada rumusnya cukai naik, harga jual rokok murah, kecuali rokok bodong alias rokok gelap non pita cukai, kalau ini bisa murah pakai banget. Ssst…. tak bermaksut ngasih tau atau perintah beli rokok bodong lo. Faktanya pita cukai naik gede, otomatis harga rokok naik gede juga. Kalau harga rokok naek gede, banyak berkeliweran rokok bodong dengan harga teman apa harga bersaudara. Kalau udah gitu, siapa yang dirugikan? Dampak langsung, tentu Negara dan pabrikan rokok resmi. Pendapatan Negara berkurang, rokok bercukai tak laku, pabrikan bisa jadi gulung tikar, minimal mengurangi jumlah karyawan atau pengurangan jam kerja karyawan. 

Lebih hemat lagi tingwe, bermodal beli kertas papier, tembakau eceran, ditambah beli cengkeh eceran, pasti jatuhnya lebih irit daripada beli bungkusan berpita cukai. Kalau dibanding dengan rokok non pita cukai aja masih murahan tingwe. Kalau gak percaya buktikan aja. 

Minusnya kalau tingwe, kita gak bisa bantu saudara kita ibu-ibu mbak-mbak pewaris pembuat rokok kretek industri. Pasti lama-lama salah satu dari mereka kena PHK, atau pendapatannya berkurang karena jam kerjanya berkurang. Tapi gimana lagi, kita harus sesuaikan kantong kita masing-masing. Salah pemerintah naikkan pita cukainya. 

Maafkan ya ibu-ibu mbak-mbak yang kerja di Industri, kalau saja tingwe punya dampak buruk kamu semua, tapi dampak itu pasti. Tingwe hanya sebagai alternatif bisa merokok murah. Tingwe tidak memusuhi kalian semua. Tingwe tidak punya niat menghancurkan buatan kalian. Karena hanya tingwe bisa sajikan merokok kretek murah.

Baca:  Perokok Muak Ditindas, Saatnya Melawan dengan Tingwe

Tingwe dan rokok industri itu saudara, tapi umurnya masih tuaan tingwe dikit. Begini ceritanya, dahulu sebelum ada rokok kretek industri, tingwe dulu yang lahir. Orang-orang rakyat jelata, petani, pedagang, kusir kuda kalau mau merokok sukanya tingwe. Gak kuat beli cangklong kayak menir Belanda atau orang-orang bangsawan. Awalnya bungkus untuk bikin tingwe bermacam-macam, ada yang pakai kertas biasa (bukan papier), bahkan terkadang pakai kertas bungkus atau kertas Koran, ada yang pakai dedaunan, yang ter-elit kelas tingwe saat itu pakai selimut jagung yang dikeringkan pakai dijemur atau disetrika, kemudin dipotong-potong rapi sesui kebutuhan. 

Setelah tembakau ditaruh dibungkus yang macam macam di atas, ada yang hanya diputar putar sambil ditekan-tekan gulungan bungkus tingwenya sampai kait mengkait sendiri baru di rokok. Ada yang dikasih pengkait atau tali pada gulungan yang telah diputar putar tersebut, agar tidak pudar gulungannya, baru di rokok. Berkembangnya zaman tali gulungan tingwe pakai benang kecil. Dahulu tingwe ini terkenal dengan sebutan rokok klobot. Penamaan klobot karena bungkusnya pakai selimut jagung, orang Jawa menyebutnya klobot. 

Semasa penjajahan, orang yang merokok tingwe klobot menjadi pertanda kelas menengah kebawah. Dan sering menjadi bahan ejekan menir Belanda atau orang-orang bangsawan, dengan kata kata “dasar rakyat miskin bisanya merokok klobot”. Menir dan para bangsawan merokoknya pakai media cangklong yang mahal harganya.

Baca: Bereksperimen dengan Tembakau Rajangan untuk Rokok Tingwe

Tingwe klobot berlangsung sampai ditemukannya kretek sekitar tahun 1870an oleh H. Jamhari yang menambahkan cengkeh dicampurkan kedalam tembakaunya, sebagai media pengobatan alternatif untuk mengatasi sakit bengeknya. Ternyata temuan H. Jamhari tersebut berhasil dan banyak yang cocok. Sehingga banyak para tetangganya, temannya, kerabatnya memesan tingwe klobot buatannya. Awalnya ramuan temuan H. Jamhari agak dirahasiakan, namun lama-kelaman, banyak orang yang dikasih tau. Sampai-sampai ada orang yang bernama Nitisemito memproduksi massal, sampai sekarang terkenal dengan sebutan raja kretek dari Kudus. 

Ramuan temuan H. Jamhari dengan mencampur cengkeh kedalam tembakau kali pertama untuk pengobatan, bergulirnya waktu, justru rokok bercengkeh lebih mantap dan nikmat. Hingga banyak orang yang tidak sakitpun mengkonsumsinya.

Tak hanya masyarakat biasa yang merokok klobot kretek sampai para elit, bangsawan, bahkan menir Belandapun banyak yang tertarik. Kemudian dengan inovasi ditemukan kertas khusus sebagai pembungkus yang kemudian dikenal dengan sebutan kertas papier dan bertahan hingga sekarang. Diawal – awal walaupun diproduksi massal saat itu, cara pembuatannya masih pakai metode tingwe, belum pakai alat giling, kemudian berjalannya waktu ditemukan alat penggiling rokok kretek sederhana memakai bahan kayu. Sampai sekarang masih dilestarikan untuk membuat rokok kretek non filter. Hasil pakai gilingan, memang lebih rapi dari pada tingwe. Pada akhirnya rokok kretek asli buatan Indonesia mendunia.    

Nah, ingin merokok hemat dan murah ya tingwe, ingin merokok nikmat dan mantap ya ditambah cengkeh. Dari pada beli rokok ilegal, mendingan tingwe lebih mantap bisa sesuka hati. Apalagi pakai rokok elektrik, buang jauh dulu harganya sangat mahal, lebih baik uangnya di tabung aja.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pos terkait