OPINI

Mengambil Peran dalam Wujudkan Kretek Sebagai Warisan Budaya

Kretek is a ubiquitous feature of a daily life in indonesia and can be found in the most diverse circumstances, from religious ceremonies to work of art and literature.”
–Mark Hanusz


Mulanya secara tak sengaja, Haji Djamhari mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau yang biasa Ia isap. Itu Ia lakukan karena sebelumnya Ia menggunakan minyak cengkeh sebagai obat oles di beberapa bagian tubuh untuk mengobati penyakit asma yang Ia derita. Haji Djamhari merasa cocok dengan citarasa lintingan tembakau yang Ia olesi dengan minyak cengkeh tersebut.


Selanjutnya Ia bereksperimen lebih dalam, tak sekadar mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakau, tetapi menambahkan sejumput cengkeh kering dalam lintingan tembakau yang biasa Ia isap. Rasanya juga cocok. Lebih dari itu, menurut pengakuannya, sesak nafas akibat asma yang Ia derita kian hari kian berkurang usai Ia rutin mengonsumsi lintingan tembakau yang dicampur cengkeh kering.
Itu terjadi pada akhir abad 19. Racikan milik Haji Djamhari itu kelak di kemudian hari dikenal dengan nama ‘kretek’. Penamaan ini berdasar suara lintingan tembakau campur cengkeh yang dibakar dan diisap mengeluarkan bunyi kemeretek.


Perlahan kemudian, kretek mulai dikenal masyarakat luas. Sebelumnya, tradisi mencampur lintingan tembakau dengan rupa-rupa bahan lainnya biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Namun, setelah racikan tembakau dan cengkeh ditemukan dalam sebuah produk bernama kretek, keberadaan kretek mendominasi rokok-rokok yang ada di negeri ini.


Dari yang awalnya sekadar uji coba, kemudian menjadi konsumsi rumahan, kretek lantas diproduksi secara massal dan diperdagangkan di kios-kios dan warung-warung di banyak tempat di negeri ini. Di Kudus, Nitisemito yang memulai semua itu. Ia mengubah kretek yang sebelumnya sekadar barang konsumsi rumahan yang diracik sendiri, menjadi sebuah industri yang perlahan merangkak menjadi besar, begitu besar sehingga Nitisemito dikenal sebagai jutawan di negeri ini sebelum Indonesia merdeka karena usahanya yang sukses di bidang kretek.


Tradisi yang melibatkan tembakau dalam keseharian masyarakat Nusantara memang sudah ada sejak jauh-jauh hari, sejak tembakau dikenal sebagai bahan konsumsi oleh masyarakat Nusantara. Dua cara yang lazim digunakan untuk mengonsumsi tembakau adalah dengan cara dikunyah, dan dibakar lantas diisap. Dua abad terakhir, peran tembakau yang masuk dalam relung kehidupan masyarakat Nusantara diambil alih oleh kretek.


Seperti yang ditulis Mark Hanusz, yang cuplikan tulisannya saya kutip di atas, kretek bukan lagi sekadar bahan konsumsi belaka, ia menjelma menjadi fitur kehidupan sehari-hari yang turut serta dalam ritual-ritual keagamaan, ritual-ritual adat dan kebudayaan, merasuk dalam karya seni dan sastra, terintegrasi dalam keseharian masyarakat Nusantara. Hanusz menambahkan, posisi kretek kini bukan sekadar komoditas ekonomi belaka, kretek kini adalah sebuah identitas, sebuah identitas ke-Indonesia-an.
Sejak dahulu kala, kretek (yang mengandung cengkeh di dalamnya) merupakan magnet kuat yang menarik dunia barat datang ke negeri ini hingga akhirnya menjajah bangsa ini. Sebagai tanaman dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas ini kemudian menjelma sebagai bagian dalam hidup masyarakat, dan ikut mengambil peran dalam membentuk sebuah kebudayaan.


Tak bisa dimungkiri, keberadaan kretek yang ditemukan anak negeri ini, hingga hari ini hanya ada di negeri ini, menjadi suatu kekhasan tersendiri dalam tradisi dan budaya mengisap di dunia. Penemuan ini sudah semestinya dihargai sebagai suatu bentuk warisan budaya, sebuah kebanggaan nasional, bukannya malah menistakan kretek dengan dalih dan argumen yang berupa-rupa bentuknya. Kretek sudah semestinya diakui sebagai sebuah Warisan Budaya Tak Benda.


Dalam Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage), warisan budaya tak beda didefinisikan sebagai:
“Praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan—serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya—yang diakui oleh masyarakat, kelompok, dan bahkan dalam beberapa kasus, individu, sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya tak benda ditransmisikan dari generasi ke generasi dan diciptakan berulang-ulang secara terus-menerus oleh komunitas dan kelompok dalam rangka merespons (kebutuhan di) lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam sekitar, dan sejarah mereka. Warisan budaya tak benda tersebut memfasilitasi masyarakat dalam rangka membangun identitas dan eksistensi serta mempromosikan penghormatan atas keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia.”


Lantas, apa peran kita sebagai pencinta dan penikmat kretek untuk ikut mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui masyarakat dunia? Tiap-tiap lapisan memiliki perannya masing-masing.


Para petani tembakau dan cengkeh, mengambil peran dalam mewujudkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda dengan cara terus menanam dan menanam. Menjaga dan merawat tanaman mereka agar kelak setiap tahunnya bisa dipanen sebagai bahan baku pembikin kretek. Pabrik-pabrik rokok kretek nasional, mengambil peran dengan cara terus memproduksi produk rokok kretek berkualitas sebagai produk unggulan.


Para pekerja pelintingan rokok kretek di pabrik-pabrik, mengambil peran dengan cara terus bekerja dengan sebaik-baiknya agar produk kretek yang mereka hasilkan lewat kerja tangan mereka benar-benar berkualitas dengan citarasa mewah. Lantas, sebagai konsumen rokok kretek, peran yang bisa diambi tentu saja dengan tetap memilih kretek dibanding jenis rokok lain sebagai konsumsi sehari-hari.


Di luar itu, kita semua juga bisa menyuarakan dan menuntut pemerintah atau siapapun itu yang berwenang untuk segera mengurus pengakuan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Suara-suara itu, tentunya akan lebih keras lagi didengungkan oleh elemen-elemen yang biasa mengadvokasi sektor kretek, seperti kelompok tani, komunitas-komunitas yang berlatar belakang kretek semisal Komunitas Kretek, dan tentu saja Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) yang berkomitmen terus memperjuangkan kretek dalam kerja-kerja kesehariannya.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

You may also like

Comments are closed.

More in:OPINI