fadjroel
REVIEW

Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta

Mandra sering menyanyikan satu lagu dalam film Si Doel. Lagu tersebut dianggapnya mewakili perasaan hati, tentang bagaimana nasib seseorang bisa berubah. Kira-kira beginilah liriknya ‘ade senang tentu ade sedih, seperti roda pedati, nasib orang berputar berganti’. Maklum saja, pasalnya dalam film Si Doel, Mandra mengalami nasib yang selalu kurang mujur, baik cinta atau pun keuangan. Sedangkan dalam kehidupan nyata, nasib itu berbeda sekali dengan seorang Fadjroel Rachman. Dahulu kesusahan sekarang bergelimpangan kekuasaan.

Sosok Fadjroel Rachman yang saya ketahui sekitar akhir 2009 lalu adalah sosok yang garang. Waktu itu saya baru saja menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Fadjroel Rachman tampak mempesona ketika memimpin aksi mahasiswa dalam upaya penggulingan rezim otoritarian Soeharto. Aksinya terekam dalam video berbagai pergerakan mahasiswa yang bisa anda saksikan di youtube. Percayalah, momen kala dirinya memimpin sumpah mahasiswa adalah bagian yang paling menggairahkan untuk disaksikan.

Fadjroel Rachman memang bukan sosok yang saya idolakan betul tak seperti tokoh lainnya yaitu Soe Hok Gie. Akan tetapi, saya yang saat itu masih mahasiswa memandang bahwa Fadjroel Rachman adalah salah satu bekas aktivis mahasiswa yang patut diteladani. Apalagi, gairah pergerakan saat juga lagi tumbuh-tumbuhnya. Ibarat fase pertumbuhan manusia, saya ada di posisi yang sedang puber-pubernya.

Saat puber-pubernya itu saya juga sering mendapatkan pendapat sinis dari teman-teman dan tak jarang keluarga. Mereka menyebut bahwa jadi aktivis itu garang pas mahasiswa tapi lembek saat sudah berada di dalam pemerintahan. Beberapa tahun berselang, saya sih masih begini-begini saja dan pernyataan sinis di atas belum terbukti, toh pun saya belum masuk dalam pemerintahan. elah dalah, Fadjroel Rachman yang dulunya sosok yang saya kagumi justru sudah berselancar dalam kekuasaan. Wajah Fadjroel Rachman tak segarang dulu, kini tampak lebih seperti bapak-bapak biasa yang kita sering temui di transportasi umum Jakarta. Ucapannya tak lagi sekeras dahulu, tutur katanya kini lembut bak seorang motivator yang selalu sukses membuat anak nakal di SMA menangis tersedu-sedu. 

Baca juga:  “Kretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota” Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya

Tapi mirisnya, pernyataan Fadjroel Rachman saat ini sering menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Salah satu pernyataannya yang bikin saya garuk-garuk kepala dan dongkol adalah rokok dianggapnya sebagai biang kemiskinan masyarakat Indonesia. Lah kok bisa ya aktivis yang garang dulunya sekarang ngomongnya kayak gini. Bukankah jadi aktivis itu lebih paham soal kemiskinan ya dan segala data-data dari pemerintah yang sifatnya manipulatif itu. Justru Fadjroel Rachman kini malah jadi corong statistik yang manipulatif tersebut pula.

Begini Kak Fadjroel Rachman yang (pernah) saya kagumi. Kemiskinan itu sistemik, dan negara berperan besar dalam problem kemiskinan itu. Ketika negara tak mampu hadir memberikan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang inklusif, maka ya negara menyumbang besar problem kemiskinan tersebut. Bukan kemudian mempermasalahkan rokok karena berdasarkan bacaanmu yang salah soal data statistik tersebut. Coba baca lagi, di data tersebut disebutkan bahwa beras adalah komoditas terbesar yang memberi kontribusi terhadap garis kemiskinan. Lantas kenapa anda juga tidak menyalahkan masyarakat Indonesia yang membeli beras? hayo!

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 

Baca juga:  Herman Hesse dan Siddhartha

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh. hehehe.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang lelaki yang tak pernah merasa kesepian

    Comments are closed.

    More in:REVIEW