REVIEW

Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng

tembakau

Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung).

Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik.

Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu:

  1. Mempersiapkan media tanam berupa tanah. Tanah yang digunakan adalah tanah dan pupuk kandang yang sudah matang. Tanah berasal dari tanah steril (sudah dikeringkan dan bukan dari tanah bekas tanaman yang terserang penyakit). Media tanah dicangkul ringan di para-para minimal 2x
  2. perhatikan doosis benihnya
     Dosis benih = 5 gr per 1 Hektare
     Dalam 1 gr benih = 6.000 tanaman
     Bila tumbuh semua = 5 gr x 6.000 tanaman
     Bibit yang tumbuh = 30.000 tanaman
  • Sudah termasuk cadangan untuk sulaman
  • Daya kecambah Benih > 95%

Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:

  1. Hitung kebutuhan bibit berdasarkan luas areal tanam.
  2. Hitung kebutuhan tanjangan berdasarkan cuaca.
    Misal : Salah satu petani ingin menanam tembakau dengan lahan 1 hektar pada kondisi cuaca normal.
    Kebutuhan bibit 1 hektar x 18.000 bibit = 18.000 bibit
    Kebutuhan tanjangan 20 % x 18.000 bibit = 3.600 bibit
    Cadangan bibit 20 % x 18.000 = 3.600 bibit (Total kebutuhan bibit)
  3. Cara menghitung luas media tanam
    a) populasi bibit jarang : apabila jarak antar tanaman 3 cm x 4 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 800 dengan luas media tanam 25.200 / 800 = 31 m2
    b) populasi bibit agak rapat : apabila jarak antar tanaman 2 cm x 2,5 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 2.000, dengan luas media tanam 22.500 / 2000 = 11,25 m2
  4. Teknis sebar benih: apabila luas media tanam cukup, teknis sebar benih yang dianjurkan adalah dicampur dengan abu sekam. Apabila luas media tanam tidak mencukupi, maka teknis sebar benih yang dianjurkan adalah diaduk tanah. Dengan memakai benih murni varietas kemloko 2, 3 & 4, dengan daya kecambah ≥ 90%, asal usul benih jelas
  5. Penyiraman
    Frekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit/umur hari setelah sebar (HSS):
    0 – 10 HSS : 3x Sehari (fase kritis)
    11 – 21 HSS : 2x Sehari
    22 – 35 HSS : 1x Sehari
    36 – 45 / 50 HSS : Periode stress air/kering
  6. Dilakukan penjarangan & populasi
  7. Pemupukan, dilakukan apabila pertumbuhan bibit kurang baik (21 HSS)
    Pupuk yang digunakan adalah KNO3 (30 – 50 gram per bedeng / 4 – 5 sendok teh KNO3) untuk bedengan 1×5 m. Kemudian dicampur dengan air ±10 liter, terakhir bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan)
  8. Hardening
     Bibit dibiasakan untuk terkena sinar matahari langsung (jangan sampai terkena air hujan).
     Pelaksanaan dilakukan secara bertahap :
  • Hari pertama bibit terkena matahari berapa jam
  • Hari berikutnya ditambah waktu terkenanya matahari
  • Sampai akhirnya bibit sudah terbiasa terkena matahari
  • Mendekati transplanting ke areal tanam, bibit dibiarkan terkena matahari secara penuh.
     Mengatur frekuensi penyiraman bibit
  1. Klipping
     Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya.
     Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2/3 daun bibit tembakau.
     Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah)
     Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam.
     Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai.
  2. Pengendalian Hama
    dan Penyakit
     Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol
     Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong
  3. Pencabutan Bibit
    o Siram bedengan 2 – 3 jam sebelum cabut bibit.
    o Cabut bibit sebaiknya pada pagi hari.
    o Cabut bibit untuk kapasitas tanam satu hari.
    o Bibit yang di cabut hindari terkena sinar matahari langsung.
    o Sortasi bibit terlebih dahulu (bibit yang cacat dibuang)
    o Tempatkan bibit di wadah yang sudah di persiapkan.
    o Tanam dipagi hari ( 08.00 )

Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut:

Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

You may also like

Comments are closed.

More in:REVIEW