OPINI

Harapan Vaksin Penyembuh Covid-19 Datang dari Tembakau Dan Nikotin

Dunia masih berperang melawan wabah pandemi Covid-19, terhitung sudah 4 bulan lebih sejak ditemukannya awal kasus penyebaran virus ini di Cina. Dan sampai dengan hari ini para ilmuwan belum menemukan vaksin yang mujarab sebagai obat dari Covid-19. Umat manusia masih berharap agar vaksin dapat ditemukan.

Kabar tak terduga muncul pada bulan Maret ketika sebuah perusahaan rokok terbesar di dunia, British American Tobacco (BAT) berupaya mengembangkan vaksin yang berasal dari tembakau bersama dengan anak perusahaan bioteknologi AS, Kentucky BioProcessing (KBP). Pengembangan tembakau sebagai vaksin menggunakan teknologi tanaman tembakau yang cepat tumbuh, serta memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi vaksin konvensional. Di antaranya lebih aman lantaran tembakau tidak dapat menyimpan patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.

Banyak pihak yang meragukan pengembangan vaksin dari tembakau yang dilakukan oleh BAT. Pihak-pihak yang meragukan ini, telah termakan kampanye kelompok antirokok yang selalu menstigmakan tembakau dan produk turunannya sebagai biang penyakit. Padahal dalam beberapa riset para ahli, menyebutkan bahwasanya tembakau memiliki manfaat bagi kesehatan. Seharusnya kabar ini menjadi secercah harapan bagi kita, bukan malah dibantah dan diperdebatkan, kita tunggu saja hasilnya.

Tapi sejak BAT mencetuskan diri untuk mengembangkan vaksin dari tembakau, para ahli di berbagai dunia mulai melirik tembakau dan kandungan nikotin di dalamnya sebagai potensi vaksin obat bagi Covid-19. Ketertarikan para ahli ini didorong oleh beberapa fakta mengejutkan bahwa diantara pasien Covid-19, jumlah perokok yang terjangkit jumlahnya kecil dibandingkan bukan perokok.

Seorang kolumnis dari Amerika Serikat, Phil Kerpen, memberikan data dari riset ahli yang menyebutkan perokok nampaknya sangat jauh untuk tidak masuk rumah sakit karena covid-19 ketimbang non-perokok dan ini seperti nampak terlihat di berbagai wilayah. Riset tersebut dilakukan di Cina dengan menyajikan analisis prevalensi merokok saat ini di antara pasien rawat inap dengan COVID-19 di Cina, dibandingkan dengan prevalensi merokok di Cina (52,1% pada pria dan 2,7% pada wanita).

Baca juga:  Dana Pajak Rokok yang Turut Dinikmati Pihak Kesehatan

Riset tersebut diterbitkan dalam New England Journal of Medicine bulan lalu yang menunjukkan bahwa 12,6 persen dari 1.000 orang yang terinfeksi di Cina adalah perokok. Angka tersebut jauh lebih rendah daripada jumlah perokok reguler di populasi umum Cina, sekitar 26 persen, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kabar termutakhir mengenai tembakau dan kandungan nikotin yang berpotensi menjadi obat Covid-19 datang dari sebuah penelitian di Perancis yang mengungkapkan bahwa nikotin bisa melindungi orang dari infeksi virus corona.
Temuan tersebut muncul setelah para peneliti di rumah sakit terkenal Paris memeriksa 343 pasien virus corona bersama dengan 139 orang yang terinfeksi corona dengan gejala ringan. Mereka menemukan bahwa sejumlah kecil dari mereka merokok, dibandingkan dengan tingkat merokok sekitar 35 persen pada populasi umum Prancis.

Teorinya adalah bahwa nikotin dapat melekat pada reseptor sel, oleh karena itu menghalangi virus memasuki sel dan menyebar dalam tubuh, menurut ahli neurobiologi terkenal Jean-Pierre Changeux dari Institut Pasteur Prancis yang juga ikut menulis penelitian ini.

Para peneliti sedang menunggu persetujuan dari otoritas kesehatan di Perancis untuk melakukan uji klinis lebih lanjut. Mereka berencana untuk menggunakan nikotin pada petugas kesehatan di rumah sakit Pitie-Salpetriere di Paris. Kemudian setelahnya penelitian awal dilakukan untuk melihat apakah itu melindungi mereka dari tertular virus.

Mereka juga telah menerapkan untuk menggunakan patch pada pasien terjangkit Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Hal ini dilakukan guna melihat apakah itu membantu mengurangi gejala dan juga pada pasien perawatan intensif yang lebih serius.

Para peneliti sedang menyelidiki apakah nikotin dapat membantu mencegah “badai sitokin”, reaksi berlebihan yang cepat dari sistem kekebalan tubuh yang menurut para ilmuwan dapat memainkan peran kunci dalam kasus COVID-19 yang fatal.

Baca juga:  Lima Pertimbangan Sri Mulyani Penentuan Tarif Cukai Kurang Relevan

Meskipun masih ada penelitian lanjutan untuk pembuktiannya, tentu ini bisa menjadi sebuah harapan di tengah ketidakpastian umat manusia menghadapi wabah pandemi Covid-19. Pada masa seperti ini kita tak boleh terus berhenti berharap, termasuk kepada tembakau dan nikotin yang selama ini dikampanyekan agar dibenci seluruh orang di dunia. Siapa tahu apa yang dibenci itu terkandung manfaat di dalamnya.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Ketua Komite Nasional Pelestarian Kretek

    Comments are closed.

    More in:OPINI