OPINI

Mampukah Industri Kretek Melalui Badai Krisis Akibat Wabah Korona?

Hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau tahun lalu, pemerintah lewat menteri keuangan mengumumkan kenaikan cukai rokok. Tak tanggung-tanggung, cukai dinaikkan hingga lebih dari 20 persen. Ini menyebabkan harga rokok mesti dinaikkan hingga mencapai 35 persen.

Kenaikan cukai rokok yang waktunya hampir bersamaan dengan puncak musim panen tembakau di tahun lalu itu membikin pabrikan membatasi pembelian tembakau dari petani. Ini dilakukan sebagai antisipasi karena dengan kenaikan cukai yang juga mendongkrak naik harga rokok, penjualan rokok diprediksi akan menurun. Tentu saja produksi juga akan diturunkan.

Belum selesai sampai di situ, pada triwulan pertama di tahun 2020, wabah korona menjalar hampir di seluruh wilayah di bumi. Bermula dari kota Wuhan di Cina, wabah korona membikin banyak negara membatasi gerak warganya sehingga menyebabkan laju roda perekonomian bergerak sangat lambat.

Akibatnya, banyak industri yang terdampak karena wabah korona ini. Di Indonesia saja, per 9 April 2020, sudah hampir 1,5 juta orang kehilangan pekerjaan. Ini masih akan terus bertambah karena wabah korona belum tampak akan berakhir. Beberapa pengusaha berujar, jika masih terus dalam kondisi seperti ini, mereka hanya akan mampu bertahan hingga bulan Juni 2020. Setelah itu, mereka angkat tangan.

Industri rokok kretek dalam negeri, tentu saja juga menjadi bagian yang terdampak dari goncangan ekonomi akibat wabah korona ini. Kondisi industri rokok dalam negeri sudah cocok jika memakai perumpamaan ‘sudah jatuh tertimpa tangga’. Sehabis dihantam kenaikan cukai yang sangat tinggi dan terpaksa menaikkan harga jual rokok, datang pula wabah korona. Lengkap sudah.

Lantas, apakah industri rokok kretek dalam negeri mampu keluar dari badai besar krisis ekonomi akibat wabah korona ini? Mari saya ajak Anda semua melihat bagaimana industri rokok kretek menghadapi krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya, baik krisis berskala nasional, maupun krisis berskala internasional.

“Industri kretek telah membuktikan diri menjadi hanya sedikit, bahkan mungkin satu-satunya, dari industri nasional yang mampu bertahan dari berbagai terpaan badai pergolakan sosial dan politik, perang dan pemberontakan bersenjata, juga krisis perekonomian global maupun lokal.” (Topatimasang, Roem, (ed), dkk, Kretek: Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota, Indonesia Berdikari, Yogyakarta, 2010, hal. 139)

Ya, sejarah telah mencatat, industri kretek menjadi sebuah anomali dalam tahapan sejarah industri nasional dalam menghadapi ragam bentuk badai krisis yang melanda negeri ini dan dunia. Dan memang bisa jadi industri kretek menjadi satu-satunya industri yang tercatat dalam sejarah nasional sebagai industri yang mampu bertahan bahkan berkembang pesat di saat industri lain bergelimpangan dihantam badai krisis.

Anomali pertama terjadi ketika perang dunia pertama bergejolak di bumi. Di Nusantara, saat imbas perang dunia pertama terasa hingga menyebabkan jalur transportasi perdagangan terhambat, industri-industri kolonial membutuhkan subsidi pemerintah penjajah agar bisa bertahan, industri kretek yang diinisiasi oleh pribumi malah mulai bermunculan. Industri ini malah menjamur di beberapa kota di pulau Jawa.

Selanjutnya, saat resesi ekonomi besar-besaran terjadi di dunia pada periode 30an, industri kretek nasional malah sedang mencapai puncak kejayaannya. Pada masa itu, pabrikan Tjap Bal Tiga yang berpusat di Kudus malah mampu menyewa beberapa pesawat guna mendukung promosi produk rokok mereka.

Ketika pergolakan perang kemerdekaan Indonesia, saat larangan mengimpor beberapa produk dari luar negeri diberlakukan, industri kretek masih tetap mampu bertahan dalam terpaan badai krisis. Pun begitu ketika krisis ekonomi melanda Indonesia di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu, negara sampai harus melakukan pemotongan nilai mata uang nasional akibat krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri. Akan tetapi, di masa seperti itu, industri kretek dalam negeri lagi-lagi mampu bertahan dari goncangan badai ekonomi.

Anomali lainnya terjadi ketika krisis ekonomi dan politik melanda Indonesia pada periode 90an. Ketika itu, begitu banyak industri nasional yang kolaps karena kondisi krisis, akan tetapi, industri kretek malah berkembang pesat di masa itu. Ia menjadi satu dari sedikit industri yang mampu bertahan dan bahkan berkembang pesat, mampu menyumbang dana yang tak sedikit bagi negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

Kini, ancaman krisis ekonomi kembali mengintai akibat wabah korona yang melanda bumi. Apakah industri kretek kembali mampu bertahan melewati krisis yang tidak sebentar ini? Kelak saat wabah korona usai dan perekonomian kembali bergeliat, jawabannya akan kita temukan. Akan tetapi, saya pribadi memprediksi industri kretek akan kembali mampu melalui krisis ini dengan cukup baik.

Dalam kondisi wabah yang mengharuskan banyak manusia banyak berdiam diri di rumah saja, risiko stress besar kemungkinannya menimpa siapa saja tanpa kecuali. Bagi perokok, salah satu cara termudah menghilangkan stress adalah dengan mengisap rokok. Sudah sejak lama rokok dipercaya sebagai sarana relaksasi penikmatnya. Ia mampu membantu manusia mengatasi ketegangan dan stress yang datang menyapa manusia.

Ini pulalah yang saya kira menjadi sebab utama mengapa industri kretek mampu bertahan dalam rangkaian badai krisis yang melanda baik dalam skala nasional maupun skala global. Fungsi rokok sebagai sarana relaksasi membikin Ia tetap dicari konsumennya apapun kondisi yang sedang terjadi.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
Baca juga:  Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang
mm
Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

Comments are closed.

More in:OPINI