OPINI

Membaca Data Statistika, Jangan Meremehkan atau Panik Berlebihan

Memasuki bulan ke empat wabah corona yang bermula dari Wuhan, Cina merebak di muka bumi, jumlah manusia yang positif terinfeksi Covid-19 sudah mendekati satu juta orang di seluruh dunia. Dari total jumlah tersebut, hampir 50 ribu penderitanya meninggal dunia.

Dan ini belum usia. Hari-hari ke depan, jumlahnya akan kian bertambah. Belum ada yang bisa memastikan kapan wabah ini akan usai. Beberapa perkiraan berdasar hasil permodelan matematika memang sudah ada, namun itu sekadar perkiraan saja, hanya ramalan. Bukan sebuah kepastian.

Semua ini tidak bisa dianggap remeh, dan memang wabah ini bukan sesuatu yang remeh dan bisa diabaikan begitu saja. Namun begitu, statistika bisa menjebak banyak orang untuk meremehkan hal ini. Data-data kuantitatif berupa jejeran angka dan persentase dari wabah yang terjadi di muka bumi ini bisa menggiring manusia untuk meremehkan wabah ini.

Tenang saja, peluang selamat jika tertular covid-19 itu mencapai 97 persen. Angka kematian dari corona ini hanya 3 persen saja, kecil jika dibanding dengan banyak penyakit lain atau virus yang menginfeksi manusia lain di dunia. Jadi biasa saja.

Betul, bersikap tenang memang perlu. Jangan panik lebih lagi sembrono. Tetapi, sikap tenang itu juga jangan sampai membawa ke sikap meremehkan dan menganggap enteng wabah covid-19 ini.

Betul 3 persen kematian itu kecil jika dibanding 97 persen kemungkinan selamat dari covid-19. Tapi ini sekadar tipuan statistika saja. Atau jika enggan dibilang tipuan, inis sekadar penyamaran statistika semata.

Bisa jadi, virus covid-19 ini menjadi salah satu virus yang paling mudah tertular kepada manusia. Medium antara penularannya begitu banyak sehingga banyak orang mudah sekali terpapar virus jenis ini. Perkiraan ilmuwan, jika penanganan wabah ini tidak diusahakan semaksimal mungkin, atau menyerahkan pada mekanisme alamiah yang diberi istilah herd immunity, sekira 80 persen penduduk bumi pada akhirnya akan tertular virus ini. Artinya jika penduduk bumi saat ini kira-kira 4 milyar jiwa, yang akan tertular virus covid-19 sebanyak 3,2 milyar jiwa. Lantas 3 persen yang meninggal dunia akibat covid-19 dari 3,2 milyar jiwa itu berapa? 96 juta jiwa. Sebuah angka yang mengerikan.

Mari kita bawa data-data statistika ini ke Indonesia. Meskipun angka penduduk Indonesia sudah lebih dari 250 juta jiwa, saya pakai angka 250 juta jiwa saja untuk menyederhanakan hitungan. 80 persen dari 250 juta jiwa akan tertular virus corona di Indonesia, angkanya sebanyak, 200 juta jiwa. Jumlah yang meninggal dunia dari 200 juta jiwa akan mencapai 6 juta jiwa.

Lagi-lagi ini bukan angka yang sedikit dan bukan sebuah kasus yang bisa diremehkan. Seperenam saja yang meninggal dunia di negeri ini dari prediksi statistik yang dijabarkan ilmuwan perihal wabah corona ini, ini sudah menjadi sebuah bencana yang begitu besar di negeri ini. Jadi jangan sekali-kali meremehkan.

Tetapi jangan pula panik dan bertindak gegabah karena data statistik ini, karena selain bisa menjebak ke arah meremehkan, pembacaan data statistik juga bisa menggiring menuju kepanikan berlebih. Setelah itu, karena panik yang berlebih, segala macam berita yang beredar lantas begitu saja dipercaya tanpa proses saring yang ketat terlebih dahulu. Lebih lagi jika menyadari data statistik itu, kemudian mencari cara agar bisa terhindar dari penularan virus corona tetapi tanpa menyaring berita-berita yang berseliweran di luar sana.

Sudah terlalu banyak berita hoax yang beredar di luar sana yang memberi masukan dan anjuran apa saja yang mesti dilakukan dan mesti dikonsumsi agar terhindar dari penularan virus corona. Namun begitu, karena hoax yang beredar, alih-alih terhindar dari corona, malah bisa berakibat vatal yang membahayakan diri sendiri. Seperti contoh kasus di Arizona, Amerika Serikat misal.

Kasus di Arizona ini terjadi memang bukan karena hoax, namun karena kepanikan berlebih. Mendapat kabar bahwa klorokuin yang biasa digunakan untuk obat malaria bisa digunakan untuk obat covid-19, sepasang suami istri karena ketakutann

ya akan corona lantas mengonsumsi klorokuin. Namun mereka salah konsumsi karena saking paniknya. Yang mereka konsumsi bukan klorokuin yang biasa digunakan untuk obat malaria yang diderita manusia, tetapi klorokuin yang ada dalam obat penghilanv jamur pada ikan. Si suami meninggal dunia, istrinya kritis karena mengonsumsi klorokuin yang salah.

Jadi jangan panik, jangan pula meremehkan, kita berada di pertengahan saja. Tetap waspada, tetap jaga kesehatan, jaga lingkungan sekitar, dan jaga jarak aman.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
Baca juga:  Kretek dan Konsep Kemandirian Ekonomi
mm
Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

Comments are closed.

More in:OPINI