REVIEW

Musim Tanam Tembakau di Tengah Wabah Korona

Setiap bulan Februari hingga bulan Mei, setidaknya sejak 2016, saya rutin berkunjung ke Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah. Dalam sepekan di bulan-bulan tersebut, minimal sehari saya habiskan di Temanggung. Kadang bisa hingga berminggu-minggu. Namun untuk tahun ini, rutinitas itu tidak bisa lagi saya lakukan. Tentu saja Anda semua sudah tahu apa sebabnya.

Tahun ini, terakhir saya berkesempatan ke Temanggung, terjadi di awal bulan Maret, sesaat sebelum wabah korona masuk di negeri ini sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menerapkan penjarakan sosial dan penjarakan fisik. Kala itu, para petani tembakau di Temanggung sedang menyiapkan bibit-bibit tembakau, mengikuti penyuluhan-penyuluhan pertanian, serta menyiapkan lahan untuk memulai musim tembakau tahun ini.

Setiap tahunnya, di Temanggung, sejak pekan ketiga di bulan Maret hingga akhir April, musim tanam tembakau berlangsung. Masa waktu tanam yang tidak terlalu berbarengan, dalam rentang Maret hingga April ini terjadi di Temanggung karena kondisi geografis lahan.

Untuk lahan-lahan yang berada di wilayah pegunungan, lahan gunung, masa tanam berlangsung lebih awal. Sedang yang di dataran lebih rendah, masa tanam berlangsung belakangan. Sebaliknya pada musim panen, wilayah tanam dataran lebih rendah, panen lebih dahulu dibanding lahan yang terletak di wilayah pegunungan.

Maret hingga April dipilih sebagai awal musim tembakau, di mana para petani mulai menanam tembakau-tembakau mereka, karena Maret hingga April biasanya musim peralihan dari hujan ke kemarau terjadi. Tanaman tembakau membutuhkan cukup air di masa awal ditanam, Maret hingga April kebutuhan air itu akan dicukupkan oleh hujan. Selanjutnya, perkembangan tanaman tembakau tidak membutuhkan banyak air, malah sebaliknya, ia harus tumbuh di cuaca panas yang bagus, karena jika hujan, perkembangan tembakau akan buruk, daun bisa-bisa membusuk.

Pada tahun-tahun sebelum ini, sembari mengurus program beasiswa untuk anak-anak petani tembakau di Temanggung, saya menyempatkan diri berkunjung ke petani-petani tembakau kenalan saya untuk melihat langsung proses penyuluhan pertanian, dan yang utama, melihat langsung proses tanam tembakau berlangsung di lahan-lahan yang telah disiapkan petani.

Ini menjadi pelajaran tersendiri bagi saya, dan tentu saja menjadi sarana paling penting untuk saya bersikap dalam polemik di dunia pertembakauan versus anti-tembakau. Berada dekat sekali dengan petani, dan bisa menyaksikan langsung kehidupan keseharian mereka, mengantar saya untuk bersikap berpihak pada mereka para petani tembakau.

Sayangnya tahun ini rutinitas berkunjung ke Temanggung di musim tanam tembakau tidak bisa saja jalani akibat wabah korona. Lantas saya coba mengontak dua orang petani sahabat saya di Temanggung, Pak Yanto di kecamatan Kledung, lereng timur gunung Sindoro dan Pak Rofi’i di kecamatan Tlogomulyo, lereng timur gunung Sumbing. Yang pertama saya tanyakan kepada keduanya, apakah wabah korona ini mengganggu musim tanam tembakau di wilayah mereka. Keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

Menurut Pak Yanto, di Kledung, wabah korona cukup mengganggu musim tanam kali ini. Para pemilik lahan kesulitan mencari pekerja penanam tembakau karena wabah korona, dan berita yang beredar tentangnya membikin banyak warga di Kledung enggan keluar rumah terlalu lama. Imbasnya, proses tanam tembakau cukup terganggu untuk musim tanam tahun ini.

Di Desa Tlilir, Tlogomulyo, menurut Pak Rofi’i, wabah korona tidak mengganggu musim tanam kali ini. Petani-petani tembakau di Desanya mulai menanam pada akhir Maret lalu dan puncaknya terjadi sekarang-sekarang ini di awal April. “Kami warga desa, Mas, bisa memantau penduduk kami, bisa melacak jaringan pertemanan di desa. Paling-paling kami keluar paling jauh ya ke pasar. Jadi kami merasa cukup aman dan berani ke ladang untuk tanam mbako. Ya kalau ada yang baru mudik dari zona merah, itu baru kami pantau terus, buat jaga-jaga. Sekadar begitu saja.” Ujar Pak Rofi’i memberi keterangan perihal antisipasi wabah korona di desanya.

Obrolan selanjutnya tentu saja terkait musim tanam tahun ini, dan prediksi musim tembakau di tahun ini. Lagi-lagi keduanya mempunyai jawaban yang berbeda.

Pak Rofi’i cukup puas dengan kondisi cuaca di awal musim tanam begini. Hujan cukup sehingga bibit-bibit tembakau yang ditanam mendapat asupan air yang cukup di awal musim tanam. Ini sesuai dengan kondisi tembakau dan kebutuhan tembakau akan air di awal musim tanam. Menurut Pak Rofi’i, tinggal tunggu ke depannya saja, lihat kondisi cuaca ke depan, kalau kemarau bagus, hasil panen tembakau tahun ini akan baik.

Sedang menurut Pak Yanto, di Kledung, di musim pancaroba kali ini, yang juga bertepatan dengan musim tanam tembakau, hujan lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bibit-bibit tembakau yang baru ditanam. Karena terlalu banyak hujan juga tidak baik bagi tanaman tembakau di awal masa tanam, serangan jamur bisa terjadi dan membunuh tanaman tembakau yang baru ditanam.

Pak Yanto bahkan sampai membagikan pengumuman yang disebar ke petani-petani kepada saya. Isi pengumuman itu menghimbau petani tembakau di Kledung untuk menyemprotkan fungisida karena tanaman tembakau rawan berjamur dalam kondisi hujan yang terlalu tinggi. Dalam pengumuman itu juga ditekankan agar para petani memperhatikan drainase di lahan mereka agar tidak ada genangan air. Karena genangan air bisa menimbulkan serangan jamur pada tanaman tembakau.

Namun begitu, Pak Yanto tetap optimis, tahun ini Ia yakin hasil tembakau akan baik. “Doakan saja, Mas, semoga betul baik hasilnya di tahun ini.” Ujar Pak Yanto menutup perbincangan kami.