PERTANIAN

Kretek Adalah Salah Satu Produk Jamu Mahakarya Putra Bangsa

Banyak orang mengartikan Jamu sama dengan obat dalam. Kata jamu tergolong bahasa Jawa ngoko (pasaran), sedang kromo inggilnya (bahasa halusnya) jamu adalah “Djampi”. Kok bisa jamu disamaartikan dengan obat? Saya tidak membahas terlalu detail persamaan arti jamu dan obat. Jelasnya, ketika bicara jamu masyarakat paham bahwa itu obat. Dan produk kretek adalah olahan tembakau dan cengkeh diracik untuk obat pada abad 19 oleh anak bangsa bernama H. Djamhari.

Menurut Klinkert dalam kamus bahasa Melayu Belanda, jamu di maknai minuman atau minuman herbal. Dalam kamus KBBI dijelaskan kalau kata “jamuan” itu asal kata dasar dari “jamu”. Sedangkan jamuan punya arti hidangan atau barang yang dihidangkan pada tamu.
Banyak pemerhati jamu dari kalangan medis, bahwa arti kata jamu tidak hanya obat tapi juga sajian (hidangan). Bahkan jamu yang bermakna obat tidak selamanya minuman (cair), juga yang padat dan dimakan.


Baik jamu dimaknai obat atau sajian/ hidangan, bagi kretek sah-sah saja. Munculnya kretek memang untuk mengobati sakit bengek, dan kretek bagi sebagian masyarakat Indonesia duhulu sebagai bahan sajian saat kedatangan tamu.


Jamu bermakna jamuan atau bermakna obat tradisional, dua-duanya merupakan tradisi dan budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia sejak dulu. Dahulu nenek moyang kita saat sakit cara pengobatannya dengan tanaman yang ada disekeliling.


Tak hanya itu, nenek moyang kita punya tradisi dan kebiasaan tiap hari memakan dan meminum barang yang berkhasiat/berguna bagi kesehatan tubuh. Seperti halnya memakan dan meminum dengan bahan yang campur empon-empon atau rempah-rempah. Dan di Indonesia empon-empon atau rempah-rempah tumbuh subur.


Jika disederhanakan, bangsa Indonesia terjajah karena banyak empon-empon dan rempah-rempah. Karena saking banyaknya empon-empon atau rempah-rempah tumbuh subur di bumi nusantara ini hingga banyak negara ingin menguasainya.


Dari dulu hingga sekarang yang namanya empon-empon atau rempang-rempah dipercaya masyarakat sebagai bahan yang dapat menyehatkan tubuh. Sehingga, nenek moyang kita dahulu punya tradisi empon-empon atau rempah-rempah sebagai media untuk pengobatan ketika sakit.


Bahkan para dokter kebanyakan masih percaya empon-empon atau rempah-rempah baik bagi tubuh manusia. Kalau dijelaskan wujud empon-empon atau rempah-rempah seperti; jahe, kunyit, temulawak, kunci, cengkeh, parijoto dan lainnya masih banyak tanaman yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Bahkan ditiap wilayah di bumi nusantara ini ada tanaman khas yang sering dikonsumsi masyarakat, bahkan sebagai media pengobatan.


Di jawa misalnya, empon-empon atau rempah-rempah dibuat minuman atau dibuat jamu. Selain buat obat ya buat jamuan. Tiap hari tiap rumah saat memesak atau membuat minuman pasti memakai bahan empon-empon atau rempah-rempah.


Tak hanya itu, tiap rumah jaman dulu bisa dipastikan ada tanaman empon-empon atau rempah-rempah. Sehingga muncul yang saat ini dinamakan jamu gendong, yaitu minuman yang terbuat dari bahan empon-empon atau rempah-rempah dan punya khasiat tersendiri di tiap minuman. Ada minuman kunir asem, beras kencur, minuman temulawak, minuman jahe, minuman asem dan lain-lain.


Revolusi industri bahan tersebut dibuat dan dikemas kemudian dikompersilkan. Dahulu banyak industri kecil atau besar berinovasi memproduksi jamu dari bahan tersebut dengan perpaduan atau digabungkan dari empon-empon atau rempah-rempah tujuannya untuk media pengobatan dan kesehatan badan.


Di Maluku ada cengkeh yang dipercaya masyarakat sebagai media pengusir penyakit atau untuk media kesehatan tubuh manusia. Bahkan dalam catatan sejarah, gara-gara cengkeh penjajah ingin menguasai wilayah Maluku dan menguasai perdagangan cengkeh di dunia. Karena mereka tau akan banyaknya manfaat cengkeh untuk bahan pengawet alami pada makanan, penghangat badan dan kebutuhan medis (kesehatan).


Sehingga, baik Room Topatimasang atau Putut Ea penulis buku ekspedisi cengkeh, berpendapat jika Indonesia tak ada cengkeh, penjajahan tak akan terjadi, sejarah Indonesia akan beda.
Berjalannya waktu, keberadaan empon-empon atau rempah-rempah yang dikonsumsi untuk kesehatan tubuh maupun untuk media pengobatan seakan terkikis oleh obat pil atau sejenisnya yang saat ini tersedia di apotek.
Bahan empon-empon atau rempah-rempah tidak lagi bisa didapat dengan mudah diapotek tergeser keberadaan pil dan sejenisnya. Empon-empon atau rempah-rempah hanyabisa didapat di pasar tradisional itupun jumlahnya berkurang karena peminatnya berkurang.


Orang sakit ringan entah itu flu atau batuk sekarang lebih memilih membeli obat pil atau sejenisnya di apotek dari pada membeli atau membuat obat dari bahan empon-empon atau rempah-rempah.


Cerita orang Tionghoa Kudus cik lien (nama samaran), toko rokok yang saat ini ia kelola adalah warisan turun temurun dari nenek moyangnya.


“Dahulu nenek moyangnya seorang tabib, tiap mengobati pasien pasti memakai bahan tumbuh-tumbuhan. Dan dulu ceritanya sering juga mendatangkan tanaman dari negara China. Sebagai seoarang tabib wajib ada persediaan tanaman obat itu. Karena sering menjadi tujuan masyarakat, akhirnya dibuatlah toko untuk menjual umum tumbuhan obat yang dikemudian hari dinamakan apotek. Menjual segala macam tumbuhan obat rempah-rempah termasuk cengkeh, juga menjual tembakau di tempat toples besar (tempat makanan yang terbuat dari kaca). Dikemudian hari, keberadaan rempah-rempah terkikis obat pil, karena banyak orang membeli pil atas rekomendasi dokter. Karena pasarnya pil, ya persedian obat sesuai pasaran. Tapi masih ada itu sedikit rempah-rempah, cengkeh dan tembakau. Lambat laun aturan apotek makin ribet akhirnya apoteknya tutup beralih jualan rokok kretek sampai sekarang. Dan masih sedikit menyediakan pil yang kecil-kecil untuk obat sakit ringan”.


Rokok kretek itu obat dan juga sebagai tradisi masyarakat untuk jamuan bagi tamu. Tradisi dan budaya ini telah ada sejak dulu kala dan sebagai warisan turun temurun dari nenek moyang. Rokok kretek olahan tembakau dengan rempah yang bernama cengkeh. Selain itu, dalam sejarahnya cairan bumbu yang dicampur pada rokok kretek memakai bahan empon-empon, seperti kayu manis, kapulogo dan lainnya.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

You may also like

Comments are closed.

More in:PERTANIAN