REVIEW

Pertanian Cengkeh di Tengah Pandemi

cengkeh

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di tengah tahun, antara bulan Juli hingga Agustus yang ditandai dengan puncak musim kemarau di beberapa tempat di negeri ini, saya kembali mengenang pengalaman saya tiga tahun lalu ketika memimpin sebuah tim yang bertugas melakukan kajian dan penelitian mengenai pertanian cengkeh.

Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, di banyak tempat yang menjadi daerah sentra pertanian cengkeh, panen cengkeh mulai berlangsung. Tiga tahun lalu, ketika musim panen cengkeh tiba, saya memimpin tim yang tersebar di lima provinsi di Indonesia untuk hidup lebih dekat dengan petani cengkeh. Melihat dari dekat bagaimana mereka memperlakukan kebun-kebun cengkeh milik mereka, dan ikut dalam proses panen cengkeh yang sedang berlangsung.

Selain itu, dalam keseharian, selama lebih sebulan, kami juga tinggal bersama keluarga petani cengkeh di Bali, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Tenggara. Dari aktivitas ini, dengan melihat dan berinteraksi dengan petani cengkeh dari dekat sekali, kami mencoba menyelisik penghidupan mereka para petani cengkeh yang ada di negeri ini.

Tiga tahun lalu, riset itu dimulai dari Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali. Seluruh tim yang berjumlah 13 orang berkumpul di desa dengan lanskap pegunungan yang lereng-lerengnya didominasi pohon-pohon cengkeh. Kami bertigabelas berdiskusi, dan merancang bersama mulai dari metodologi penelitian, sistem penulisan laporan, hingga perkara-perkara administrasi seperti pengaturan keuangan selama proses penelitian berlangsung.

Dua minggu hingga satu bulan di Desa Munduk, dengan persiapan riset hingga melakukan riset lapangan awal di sana, tim kemudian dipecah menjadi empat, tiap tim berangkat ke Aceh, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Maluku Tenggara.

Saya, kebetulan seorang diri kebagian ke Aceh. Di Aceh, saya berkunjung ke tiga kabupaten penghasil cengkeh di sana. Kabupaten Simeulue, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Barat Daya. Sepanjang bulan Agustus 2017, seorang diri saya berkeliling ke tiga kabupaten itu mendatangi desa-desa penghasil cengkeh dan bertemu langsung dengam banyak keluarga petani cengkeh di sana.

Sebulan di Bali, dan sebulan di Aceh, saya belajar cukup banyak mengenai berbagai hal di seputar pertanian cengkeh dan keseharian keluarga petani cengkeh di sana. Salah satu yang terus menerus saya ingat, betapa harga cengkeh yang cukup menjanjikan untuk menjamin kesejahteraan para petani cengkeh dan keluarga mereka, juga keluarga yang tidak punya kebun cengkeh namun terlibat dalam proses panen karena mereka ahli dalam memetik bunga-bunga cengkeh yang siap panen.

Setahun lalu, sebelum pandemi korona melanda negeri ini dan seluruh bumi, harga jual cengkeh di tingkat petani mengalami penurunan. Ini terjadi karena di musim-musim panen cengkeh pada tahun lalu pemerintah mengumumkan kenaikan cukai rokok hingga lebih dari 20 persen. Tentu saja pertanian cengkeh terpukul karena lebih dari 90 persen hasil cengkeh nasional diserap oleh industri rokok kretek di negeri ini.

Harga cengkeh yang sebelumnya masih bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, pada tahun lalu turun pada angka Rp60 ribu hingga Rp70 ribu. Kondisi ini merata di seluruh wilayah penghasil cengkeh di negeri ini. Hingga pada penghujung musim panen tahun lalu, di beberapa tempat harga cengkeh mampu naik hingga Rp75 ribu hingga Rp80 ribu. Tapi sedikit sekali yang merasakan harga cukup baik seperti ini.

Lantas, bagaimana dengan musim panen tahun ini, di tengah gencetan kenaikan cukai rokok dan lesunya kondisi perekonomian dunia akibat pandemi korona?

Beberapa rekan saya yang terus mengamati dunia pertanian di negeri ini memprediksi harga jual cengkeh di tingkat petani akan kembali turun, bisa mencapai Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram keringnya. Bahkan ada yang memprediksi lebih ekstrem lagi, harga cengkeh per kilogramnya bisa anjlok hingga mencapai Rp40 ribu per kilogramnya.

Di Bali, di wilayah Desa Munduk dan sekitarnya yang merupakan titik utama wilayah penghasil cengkeh di sana, musim panen cengkeh sesungguhnya bisa membantu banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena sektor pariwisata yang menjadi andalan di provinsi Bali hancur lebur akibat pandemi korona ini.

Mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor pariwisata, kembali ke desa mereka masing-masing. Dan di saat musim panen cengkeh seperti sekarang ini, mereka bisa mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dengan bekerja sebagai buruh panen pemetik cengkeh.

Meskipun terpukul akibat kenaikan cukai dan pandemi korona, terbukti, di masa-masa sulit seperti sekarang ini pertanian cengkeh tetap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi korona. Di Bali contoh nyatanya.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

You may also like

Comments are closed.

More in:REVIEW