PERTANIAN

Pertanian Tembakau dan Perubahan Iklim

tembakau

Tanaman tembakau memang unik. Ia satu dari sedikit jenis tanaman semusim yang sedikit membutuhkan air untuk perkembangannya. Sedikitnya air menjamin kualitas baik tembakau yang ditanam. Sebaliknya, terlalu banyak air malah membikin kualitas tembakau jadi buruk. Membusuk. Dan tentu saja tidak laku di pasaran.

Air yang cukup banyak dibutuhkan tanaman tembakau hanya pada masa-masa awal tembakau ditanam. Selanjutnya, kebutuhan air kian berkurang sampai sama sekali tidak membutuhkan air, yaitu di masa-masa jelang tembakau dipanen.

Inilah yang menjadi sebab mengapa tembakau biasanya ditanam oleh para petani di akhir musim hujan. Karena pada masa-masa itu hujan masih cukup untuk mengairi tanaman tembakau yang baru ditanam.

Selanjutnya, tumbuh kembang tanaman tembakau terjadi pada musim kemarau, di mana tanaman lain kesulitan tumbuh, tembakau malah sebaliknya, ia tumbuh subur dan akan menghasilkan kualitas daun yang baik jika musim kemarau berjalan baik seperti biasanya. Tidak ada hujan seperti di musim penghujan yang dapat mengganggu tumbuh kembang daun tembakau.

Sekali waktu, salah seorang petani di Desa Tlilir, Temanggung pernah berujar kepada saya ketika musim kemarau sedang pada puncaknya, “di musim kemarau seperti ini, rumput saja nggak bisa tumbuh, mati dia.” Sembari menunjuk serumpun pohon pisang yang di dekatnya juga ada pohon pepaya, ia melanjutkan, “lihat itu, pohon pisang dan pepaya, mati semua, kemaraunya pol-polan ini.”

“Tapi ini yang paling bagus buat tembakau. Kalau kemaraunya seperti ini, tembakau kita nanti hasilnya bagus. Pasti bagus.” Begitu ia menutup keterangannya.

Terik matahari menjamin daun tembakau berkualitas bagus, nikotin yang dihasilkan maksimal, dan terutama, ia melindungi daun-daun tembakau dari ancaman daun membusuk jika terlalu banyak terkena air.

Saat ramai-ramai kampanye anti-tembakau yang salah satu gerakannya adalah dengan mendorong petani untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan jenis tanaman lain yang produktif, mereka yang memberi anjuran itu sesungguhnya tidak paham konteks. Dan bisa dipastikan, mereka tidak pernah turun ke lapangan, ke kebun-kebun tembakau, bertemu dengan petani dan berbincang dengan mereka.

Mengapa saya berani bilang seperti itu, karena mereka tidak paham konteks tumbuh kembang tembakau di musim kemarau, di saat tumbuhan-tumbuhan lain kesulitan untuk tumbuh dan berkembang. Sebutkan satu saja, komoditas yang bisa menggantikan tembakau untuk ditanam petani di musim kemarau, yang bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu banyak air, dan harganya semenjanjikan tanaman tembakau. Saya yakin mereka yang mengusulkan itu akan kesulitan mencarinya.

Akhir-akhir ini, perubahan iklim benar-benar mengacaukan siklus musim di penjuru bumi, termasuk di Indonesia, dan termasuk juga di wilayah-wilayah pertanian tembakau di negeri ini. Siklus waktu antara musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa lagi diprediksi. Kadang hujan turun sepanjang tahun, tanpa jeda musim kemarau sama sekali, menyebabkan banjir di banyak tempat.

Di sisi lain, adakalanya kemarau berkepanjangan melanda, menyebabkan kekeringan di banyak tempat, hingga kebakaran hutan yang menggila. Saya sedang tidak ingin membahas sebab-sebab mengapa perubahan iklim menuju ketidakteraturan ini bisa terjadi, meskipun saya bisa menjelaskan itu karena memang bidang studi master saya mendalami perubahan iklim di bumi.

Mari kita lihat akibat perubahan iklim ini terhadap petani tembakau dan komoditas pertanian tembakau. Ketidakpastian cuaca yang terjadi akibat perubahan iklim di bumi, betul-betul membikin petani tembakau ketar-ketir. Saat semestinya musim kemarau berlangsung, tetapi hujan deras berkali-kali tetap turun, petani akan mengalami kesulitan. Tanaman tembakau mereka akan gagal berkembang dengan baik. Risikonya, modal yang sudah mereka keluarkan untuk menanam tembakau, tidak akan bisa kembali karena tembakau yang mereka tanam gagal tumbuh dengan baik dan tidak laku di pasaran.

Dalam sepuluh tahun terakhir saja, bukan sekali dua itu terjadi. Perubahan iklim membikin tembakau para petani hancur berantakan, rusak dan tidak laku di pasaran.

Sudah semestinya badan nasional milik pemerintah yang terkait dengan amatan perubahan iklim ini memberikan informasi rutin kepada para petani tembakau terkait kondisi cuaca, kelembapan, dan curah hujan di wilayah pertanian tembakau. Ini agar petani bisa terbantu, bukan lagi menjadi spekulan yang harap-harap cemas terhadap cuaca agar tembakau mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

You may also like

Comments are closed.

More in:PERTANIAN