PERTANIAN

Kondisi Petani Cengkeh di Maluku Saat Pandemi

Kondisi petani cengkeh di tahun ini (2020), sama kondisi petani tembakau. Harga yang didapat saat panen tidak sebagus seperti yang diharapkan. Bukan masalah kualitas dan kuantitas cengkehnya yang bermasalah, akan tetapi mungkin kondisi pandemi dan kelesuan produk olahan tembakau dan cengkeh di pasaran, hingga harga cengkeh rata-rata kurang dari seratus ribu di tahun ini. Tapi ternyata kondisi ini tidak mematahkan semangat petani cengkeh, mereka punya strategi tersendiri dan biasa mereka lakukan ketika ada masalah pada tanaman cengkehnya.

Di Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat mengatasi masalah cengkeh saat pandemi dengan bersabar. Berharap di tahun depan pandemi selesai dan panen berikutnya harganya stabil. Karena faktor penyebab merosotnya harga cengkeh sudah diluar kemampuannya.

Masa pandemi ini, mengakibatkan harga cengkeh lumayan jatuh. Rata-rata petani sudah memprediksi akan berpengaruh terhadap harga jual buah cengkehnya. 

Harga jual cengkeh tahun ini, dirasakan berdampak terhadap perekonomian petani cengkeh, namun pengaruhnya tidak signifikan. Mereka hanya terancam tidak memiliki tabungan yang biasanya untuk keperluan mendadak, membangun rumah, dan keperluan yang lain yang mengeluarkan sumber dana besar. 

Kebiasaan unik para petani cengkeh di Maluku salah satunya, petani tidak akan menjual seluruh hasil panennya, ada sebagian yang disimpan, kemudian dijual secara perlahan sesuai kebutuhan dikemudian hari. 

Merasa punya strategi tersendiri dalam penyimpanan cengkehnya agar tetap berkualitas. Penyimpanan cengkeh biasanya dimasukkan dalam karung dan di beri alas kayu, ditaruh di tempat yang teduh, terlebih tidak boleh kena hujan atau terkena air. Biasanya disimpan dalam dalam rumah, atau gudang. 

Berdasarkan informasi dari petani, cara menyimpan cengkeh yang baik ditaruh dalam kantong plasting, baru kemudian dimasukkan karung. Dengan perlakukan itu, memberikan hawa hangat pada cengkeh dan kualitas cengkeh terjaga.

Praktis para petani cengkeh saat menyimpan cengkehnya, tidak terlalu memikirkan akan terjadi penyusutan timbangannya. Karena menurut perkiraan para petani, penyusutannya tidak signifikan. Malah justru cengkeh yang disimpan akan semakin berkualitas, selama proses penjemuran kondisi cengkeh kering dengan sempurna.

Selain menanam cengkeh, rata-rata  petani mempunyai tanaman lain dan pekerjaan lain. Tanaman yang ada sangat beragam ada kelapa, sagu, coklat, jambu mete, sayuran, dan chili. Di Kabupaten Maluku Tengah, tanaman lain tersebut sebagai tanaman tumpangsari, sedangkan di Kabupaten Seram Bagian Barat lebih bersifat monokultur. Hal ini disebabkan luas lahan di Maluku Tengah lebih sempit dibanding lahan di Seram Bagian Barat.

Pekerjaan selain  petani cengkeh sangat beragam, semisal sebagai nelayan, pekerja kebun, buruh bangunan, berdagang bahkan ada yang menjadi pegawai negeri. 

Saat panen raya cengkeh tiba, mereka disibukkan beraktifitas memanen, bahkan kebanyakan dari mereka akan meninggalkan pekerjaannya dan lebih memilih memanen cengkeh.

Ambil contoh para pemetik buah cengkeh, sebetulnya mereka sudah punya pekerjaan, tetapi saat panen cengkeh mereka memilih meninggalkan pekerjaan hariannya. Tidak ada sektor apapun mengalahkan pendapatan saat panen cengkeh tiba. Pengakuan tukang ojek dari Negeri Rutah, pendapatannya sebagai tukang ojek di kota Masohi, sehari rata-rata mendapatkan Rp. 80.000, sedangkan sebagai pemetik cengkeh saat panen tiba dalam 2 bulan mendapatkan hasil Rp. 12.000.000. Ini baru buruh pemetiknya belum yang lain.

Dilihat dari hasil pendapatan buruh di atas, kayaknya memang pendapatan hasil dari cengkeh lebih besar dibanding lainnya. Untuk itu petani dan orang yang bekerja dalam sektor percengkehan, sangat mengharapkan di tahun depan harganya dan kondisinya kembali normal dan pohonnya tidak mati akibat hama.

Memang selain pandemi covid 19 ini, petani juga menghadapi adanya serangan hama pada pohon cengkehnya. Serangan hama semisal penggerek batang, lawa-lawa putih (daun kering dan tidak jatuh) dan lainnya, mengakibatkan pohon cengkeh lambat laun akan mati. 

Keberadaan hama tersebut, sebetulnya sudah lama diketahui, namun para petani tidak mampu membasmi hama yang sudah menyerang pohon cengkehnya. 

Kasus di desa Nuduasiwa Kecamatan Kairatu, seorang petani mencoba mengatasi hama dengan di infus pakai obat pestisida yang digunakan untuk sayuran, hasilnya pun tetap mati.

Akhirnya, setiap ada kejadian yang sama, petani membiarkan hingga pohonnya mati sendiri, kemudian baru ditebang dan diremajakan dengan bibit yang baru.

Kasus pembiaran pohon yang terkena hama, hampir semua petani cengkeh melakukan hal yang sama. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk perawatan dan budidaya tanaman cengkeh agar tidak diserang penyakit hama. 

Bahkan petugas penyuluh lapangan (PPL), yang mereka harapkan tidak hadir diantara mereka Walaupun PPL hadir, mereka juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman cengkeh.

Merosotnya harga di tahun 2020, tidak mematahkan semangat para petani. Karena tanaman cengkeh bagi petani Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat, sebagai tabungan untuk kebutuhan jangka panjang, sedangkan kebutuhan kesehariannya ditopang dengan pekerjaan lain dan tanaman lain.

 , 

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

You may also like

Comments are closed.

More in:PERTANIAN