OPINIREVIEW

Hari Santri: Melawan Ketidakadilan, Menyayangi Petani Sepanjang Zaman

21-22 Oktober 1945 silam, wakil-wakil NU seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. Pertemuan itu menelurkan satu putusan yang memantik semangat juang kaum muda dalam melawan penjajahan. Ialah Resolusi Jihad yang kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Resolusi Jihad sejatinya adalah keresahan kaum santri dan kiai karena Sekutu bersama NICA dan AFNEI ingin menjajah Indonesia kembali pasca kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, dan juga jawaban atas permintaan saran yang diajukan Bung Karno kepada Hadratusyaikh.

Membaca teks Resolusi Jihad, kita akan dibawa kepada gemuruh perjuangan: bahwa mempertahankan kedaulatan bangsa dari obok-obok kaum penjajah adalah wajib hukumnya. Pada poin “mendengar”, Hadratussyaikh dengan tegas memberi gambaran, bahwa di seluruh Jawa dan Madura memiliki hasrat yang besar untuk mempertahankan dan menegakkan kedaulatan bangsa.

Resolusi Jihad memiliki dampak besar. Pada hari-hari berikutnya, ia bak api yang menyulut bahan bakar, mengobarkan spirit, khususnya warga Nahdliyin, untuk turut serta dalam pertempuran 10 November di Surabaya.

Buya Ahmad Syafii Maarif dalam bukunya Islam dan Politik: Teori Belah Bambu, Masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965, menyebut NU melahirkan milisi tempur bernama Hizbullah yang dilatih oleh tentara Jepang.

Pasca pertempuran 10 November tidak kemudian membikin sprit Resolusi Jihad padam. Buku Jihad Membela Nusantara: Nahdlatul Ulama Menghadapi Islam Radikal dan Neo-Liberalisme (2007) mengungkap, Muktamar NU di Purwokerto pada 26-29 Maret 1946 Hadratussyaikh terus menggelorakan semangat di hadapan para muktamirin.

Bagi Hadratussyaikh, tidak akan bisa seorang umat menjalankan syariat agama jika negara dalam keadaan terjajah. “Tidak akan tercapai kemuliaan Islam dan kebangkitan syariatnya di dalam negeri-negeri jajahan,” kata Kiai Hasyim.

Resolusi Jihad akan selalu relevan dengan perkembangan zaman. Ia akan selalu kontekstual dan menuntut para santri berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa sesuai konteks zamannya.

Pada konteks hari ini, rasanya Resolusi Jihad relevan untuk membangkitkan -setidaknya- perhatian terhadap beragam gaya penjajahan baru. Misalnya saja, perampasan tanah-tanah petani dengan dalih pembangunan negara. Tanah-tanah subur digantikan gedung, atau sumur besar bekas kerukan tambang. Tidak sedikit petani yang harus menelan ludah pahit ketika mempertahankan tanah-tanah sumber kehidupannya.

Terkait persoalan lingkunan ini, khususnya dalam bertani, Hadratussyaikh sendiri pernah menulis sebuah artikel berjudul KEOETAMAAN BERTJOTJOK TANAM DAN BERTANI, dengan judul kecil Andjoeran Memperbanyak Hasil Boemi dan Menjoeboerkan Tanah, Andjuran Mengoesahakan Tanah dan Menegakkan Ke’adilan, yang diterbitkan Majalah Soera Muslimin No. 2 Tahun ke-2, 19 Muharom 1363.

Kecintaan Hadratussyaikh terhadap dunia pertanian tak bisa diragukan lagi. Saking cintanya, Hadratussyaikh sendiri, seperti data diri yang diserahkan ke penjajahan Jepang, pekerjaan resminya adalah petani dan guru agama. (NUOnline).

Perhatian khusus Hadratussyaikh terhadap dunia pertanian juga turun dalam organisi besar NU. Nahlatul Ulama, pada waktu itu, sangat peduli pada nasib petani.Lihat saja dalam bahtsul masail (majlis para ulama untuk membahas persoalan-persoalan keumatan) yang diselenggarakan NU dari tahun 1926-1945, banyak pertanyaan-pertanyaan yang berkait dengan pertanian, tanah, tambak, zakat petani, hingga sedekah bumi (ritual kaum tani untuk mensyukuri nikmat Tuhan). Bahkan, berdirinya NU, salah satu tujuannya, adalah untuk melindungi kaum tani,”Mendirikan badan-badan untuk memajukan urusan pertanian, perniagaan, dan persahabatan, yang tiada dilarang syara’ agama Islam.”

Euforia Hari Santri Nasional semoga memantik spirit para santri untuk meneladani Resolusi Jihad Hadratussyaikh. Tidak hanya bermodalkan nyetatus “Selamat Hari Santri Nasional”, tapi juga berani memaknai Resolusi Jihad sesuai konteks zaman dan berjuang seperti santri dulu dengan konteks zaman yang kini.

Tentu saja, penjajah zaman dahulu lebih mudah dideteksi ketimbang penjajah era sekarang, yang kadang-kadang bisa mengelabui kita untuk menghantarkan mereka pada kursi kuasa.

Selamat Hari Santri Nasional. Rahayu.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
Ibil S Widodo
Manusia bodoh yang tak kunjung pandai

You may also like

Comments are closed.

More in:OPINI