OPINI

Kretek: Dari Kesehatan Menjadi Basis Ekonomi yang Berbudaya

kretek

Dari sisi historis, lahirnya rokok kretek justru dilatarbelakangi oleh aktivitas pengobatan. Kretek diciptakan dalam sejarahnya, untuk menjadi obat asma atau sesak nafas. Asal muasal kretek sebenarnya berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Kalau rokok non-kretek barangkali umumnya diciptakan untuk sekedar motif ekonomi, maka rokok kretek diciptakan justru dalam rangka mengatasi masalah kesehatan. Melalui perjalanan sejarahnya yang panjang dan kompleks, rokok kretek yang ditemukan oleh Haji Jamahri itu kini berkembang dengan berbagai nama Industri yang ada.

Menurut Hanusz, kretek ini mempunyai nilai tersendiri dan kebesarannya dalam konteks Indonesia. Seberapa besar rokok kretek dalam kultur masyarakat Indonesia, terutama ketika berhadapan dengan produk rokok asing?  Ketika kretek ditemukan pada 1870 di Kudus, telah dikukuhkan sebagai obat penyembuh asma. Sehingga rokok kretek juga dijual di apotik. Karenanya, saat itu, kalau ada orang yang tidak bisa membeli rokok kretek di toko atau industri yang mengolahnya, maka orang tersebut bisa membeli bahannya di apotek dan dibuat sendiri – tingwe–. 

Seperti telah disinggung di atas, meski Haji Jamahri merupakan penemu rokok kretek, namun dirinya keburu meninggal dunia sehingga tidak sempat mengembangkan rokok kretek menjadi produk komersial. Dalam sejarahnya, pasca meninggalnya Haji Jamahri, orang yang pertama kali mengembangkan ide untuk memproduksi rokok kretek secara massal adalah Nitisemito, dengan menggunakan sebuah merek.

Nitisemito sendiri tidak menyadari bahwa ide dan langkahnya untuk memproduksi rokok kretek secara massal itu bakal merubah wajah industri tembakau di Indonesia. Nitisemito pertama kali memproduksi rokok kretek dengan merk Bal Tiga pada tahun 1906 dan kemudian menjadi Bal Tiga Nitisemito pada 1908.

Rokok kretek produksi Nitisemito ini menuai kesuksesan. Salah satu faktor kesuksesan Nitisemito dalam mengembangkan rokok kreteknya itu adalah karena sistem promosinya yang ditetapkan pada 1920. Pada tahun ini perusahaan kretek Nitisemito membuat sistem promosi bahwa barang siapa yang berhasil membeli sekian banyak rokok kretek Bal Tiga maka akan mendapatkan hadiah sepeda ontel. Sistem promosi seperti ini akhirnya mendorong masyarakat untuk membeli rokok kretek buatan Nitisemito. Sehingga rokok kretek Nitisemito bisa berkembang pesat. 

Pada tahap selanjutnya, tepatnya di pertengahan tahun 1920-an, industri rokok kretek di Kudus berkembang dengan pesatnya. Pada periode itu, banyak sekali industri-industri rokok kretek tersebar hampir di seluruh wilayah Kudus.  Perkembangan industri rokok kretek yang luar biasa di kota Kudus waktu itu ditandai dengan semakin membanjirnya produk rokok kretek dan juga ditambah dengan tersedianya tenaga kerja yang memadai.

Dengan kemampuan marketing yang dijalankan oleh saudara iparnya Nitisemito sendiri yang bernama Karmain, maka pada tahun 1924 perusahaan rokok kretek Nitisemito, Bal Tiga mempunyai lebih dari 15 ribu karyawan dan muncul sebagai industri pribumi terbesar saat itu di Hindia Belanda.  Perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito saat itu bisa dikatakan sebagai simbol kejayaan rokok kretek di era pertama kretek.

Memang, perjalanan rokok kretek ini mengalami pasang surut. Jauh sebelumnya, meski rokok kretek saat itu diproyeksikan sebagai obat, namun hingga pada 1950-an rokok kretek masih dipandang sebagai rokoknya orang-orang miskin. Rokok kretek saat itu umumnya hanya digunakan oleh kalangan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan juga orang-orang kota yang berpenghasilan rendah seperti pekerja bangunan atau supir angkut. 

Menurut Hanusz lagi, keadaan tersebut imbas dari banyaknya impor rokok putih dari Eropa secara masal. Seiring dengan merebaknya rokok putihan, isu yang terbangun di tengah-tengah masyarakat adalah “kalau seseorang yang hendak meningkatkan gengsinya maka dirinya harus menggunakan rokok putih di ruang publik dan rokok kretek hanya digunakan di ruang privat”. 

Isu tersebut selalu bergulir dan bertahan meracuni pikiran masyarakat Indonesia, hingga industri kretek dibuat kelabakan, dan akhirnya banyak industri kretek skala rumahan merelakan kebangkrutannya, terkecuali perusahaan milik Nitisemito. Apalagi diiringi dengan adanya pungutan pemerintah berupa cukai. 

Mengatasi hal tersebut, pada tahun 1956, Presiden Soekarno mengeluarkan UU Nomor 16 tentang Pengubahan dan Penambahan Ordonansi Cukai Tembakau. peraturan ini dimaksud mengurangi dampak yang dialami industri kretek skala rumahan yang bangkrut. Dalam hal ini, pemerintah memberikan subsidi, menurunkan biaya pungutan cukai dan bahkan sampai pembebasan cukai selama satu tahun.    

Pada tahun 1970-an rokok kretek mulai mengalami kebangkitan. Ditandai dengan munculnya dua peristiwa dalam dunia kretek yaitu konsolidasi industri rokok kretek dan munculnya strategi baru untuk revolusi kretek Indonesia. 

Peristiwa pertama terjadi untuk merespon oil boom yang mendorong membanjirnya arus modal ke dalam ekonomi Indonesia. Saat itu Presiden Soeharto menstimulasi perkembangan industri-industri dalam negeri termasuk industri rokok. 

Peristiwa yang kedua yakni revolusi kretek terjadi karena adanya lisensi bagi industri-industri rokok kretek untuk melakukan produksi berbasis mesin. Dari revolusi kretek ini maka munculah yang namanya rokok kretek filter buatan mesin. Rokok kretek filter buatan mesin ini kemudian mempunyai status atau penampilan yang sekelas dengan rokok putih. Sehingga rokok kretek yang filter ini kemudian juga diminati oleh kelas menengah ke atas. Konsekuensinya, menjelang akhir 1970-an rokok kretek bersaing secara head-to-head dengan rokok-rokok asing.

Selain dua peristiwa di atas, perkembangan secara cepat industri rokok kretek di akhir 1970-an itu adanya penyebaran rokok-rokok kretek ke luar pulau Jawa akibat diterapkannya kebijakan transmigrasi. Akibat transmigrasi inilah, pada tahap perkembangan selanjutnya, rokok kretek  dalam bentuknya yang modern bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Mulai dari ujung barat pulau Indonesia, Sumatra, hingga ke ujung timur, yakni di Papua tersebar rokok kretek. Hal ini berbeda jauh dengan era sebelum Perang Dunia II, di mana para produsen rokok kretek hanya menjual rokok kretek di area sekitar produksi saja yang tentunya sangat sempit dan terbatas. Dari sini industri kretek selanjutnya terus mengalami pasang surut dan dinamika yang berliku-liku hingga detik ini. 

Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kretek dalam diri manusia Indonesia sudah begitu melekat dan sulit dipisahkan. Karenanya tidak diragukan lagi bahwa kretek merupakan unsur tradisi penting dalam masyarakat Indonesia. Awalnya berbasis sebagai pengobatan merambah ke basis nilai ekonomi yang menghidupi puluhan juta masyarakat Indonesia hingga sekarang.

Jelas, terlihat pemerintah orde lama dan orde baru sangat memperhatikan dan peduli terhadap kondisi industri kretek representasi industri dalam negeri. Apa yang mereka perbuat menuai hasil dengan masih beroperasionalnya industri kretek hingga saat ini. Pertanyaannya, bagaimana nasib industri kretek kedepan dan apa yang telah dilakukan presiden-presiden  setelah reformasi?. Tunggu jawabannya dilain kesempatan. 

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

You may also like

Comments are closed.

More in:OPINI