Ragam

Mengingat Kembali Ragam Rokok Kretek Khas Nusantara

Sementara yang sering kita lihat macam rokok kretek yang beredar dipasaran hanya dua yaitu non filter dan filter atau sigaret kretek tangan (SKT) dan sigaret kretek mesin (SKM). Memang dua model rokok ini banyak disukai konsumen.

Berbeda di tahun 1930 yang lalu, banyak model rokok kretek yang beredar dipasaran. Makin hari makin kesini ragam rokok pelan-pelan dan sedikit-sedikit mulai menghilang dari peredaran. Sejatinya ragam rokok tetap ada, namun peredarannya hanya disekitar, tidak seperti dulu beredar sampai kemana-mana.

Kawung rokok khas Jawa Barat, rokok ini sudah hampir punah. Sudah langka dipasaran di warung warung rokok pada umumnya. Tapi kalau ada acara ritus masyarakat, terkadang rokok ini muncul. Juga ada sebagian kecil masyarakat di pelosok desa masih ada penggemar kawung. Rerata mereka bikin sendiri atau –tingwe–.

Rokok kawung sesuai namanya, dibuat dengan menggunakan bungkus dari daun pohon kawung. Bagi masyarakat Jawa pada umumnya, pohon kawung dikenal dengan sebutan pohon aren.

Kali pertama, rokok kawung di produksi tahun 1905 di Bandung. Perkembangan produksinya melebar di Garut pada tahun 1908 dan pada tahun 1910 produksi di Tasikmalaya. Pada tahun 1911 juga produksi di Bogor dan Purwakarta.

Rokok kawung ini selalu berkembang produksinya di daerah Jawa Barat, hingga tahun 1920 di produksi di Sukabumi, tahun 1923an di produksi di Batavia dan pada tahun 1931 berdiri perusahaan rokok Kawung di Cirebon.

Pasar rokok kawung tidak hanya di daerah Jawa Barat, namun sampai ke daerah Sumatra. Satu-satunya produksi kawung yang mengirim rokoknya ke daerah Sumatra adalah produksi dari Garut. Pangsa pasarnya para pekerja di perkebunan.

Klembak rokok asal dari daerah Banyumas nasibnya sama seperti rokok kawung. Perkembangan dari rokok klembak ada rokok siong juga asal dari daerah Banyumas. Rokok siong ini diprodusksi secara masal semenjak masa perang dunia I tahun 1914.

Rokok siong ini diproduksi masal oleh seorang Tionghoa asal daerah Kebumen bernama Tan Eng Siang. Agar mudah di ingat konsumen rokok ini di beri merek “Eng Siong” arti dalam bahasa Indonesianya kurang lebih “selalu sukses”. Dahulu rokok ini didaerah Jawa bagian selatan sangat terkenal dan digemari masyarakat.

Bahan dasar rokok siong ini tembakau dari daerah Muntilan Magelang dan Weleri Kendal Jawa Tengah, serta dicampur cengkeh lokalan. Kemudian bahan dasar tersebut di campur “klembak” yang didatangkan langsung dari Negara Tiongkok dan di olah di Magelang. Selain klembak ada sedikit kemenyan. Kemenyan yang dipakai bukan kemenyan biasa yang dibakar saat upacara sesaji atau ritual, melainkan kemenyan khusus untuk rokok yang tidak membahayakan bagi tubuh. Lalu ditambah lagi yang namanya saus. Sausnya diproduksi sendiri dengan bahan rebusan kayu manis.

Klobot, jenis rokok dari tembakau dan cengkeh dan dibungkus daun jagung yang sudah kering, kemudian di setrika atau dipanasi, supaya halus dan bulu lembut daun hilang, sehingga tidak mengakibatkan gatal di bibir. Setelah dibuat media pembungkus, klobot di tali dengan benang tipis dari ujung hisap, tengah dan ujung bakar. Rokok jenis ini sangat disuka oleh masyarakat pesisir pantai. Rokok klobat ini, memang baranya cepat mati, tapi tidak cepat rusak saat kena air. Jadi para nelayan yang kesehariannya bersama air, lebih menyukai klobot, karena awet –tidak cepat rusak–. Beda dengan rokok bahan papier –kertas—kena air kertasnya dipastikan rusak.

Baik Kawung Siong maupunklobot  embrionya adalah rokok kretek yang muncul asal kota Kudus yang ditemukan oleh H. Jamhari sekitar akhir abad 19. Pada tahun 1925 (abad 20) rokok kretek berkembang hampir di seluruh kabupaten di Indonesia.

Dinamai rokok kretek itu sendiri karena olahan tembakau dan cengkeh. Sedang penamaan kawung, siong dan klobot adalah memakai bahan tambahan atau bahan pembungkusnya, konten dasarnya sama yaitu tembakau dan dibubuhi sedikit cengkeh pada tembakaunya.

Kekinian yang terkenal hanya dua jenis, sigaret kretek tangan dan sigaret kretek mesin, atau kretek filter dan non filter. Namun bagi masyarakat awam penyebutan kretek sampai saat ini masih salah kaprah, yang dinamai rokok kretek itu rokok yang tidak berfilter, sedang rokok yang filter bukan kretek tapi dinamai “rokok filter”. Pemahaman inipun terjadi pada komunitas dokter, mereka kebanyakan sampai sekarang menganggap bahwa rokok kretek itu hanya yang tidak memakai filter.

Pemahaman masyarakat di atas memang wajar, akan tetapi jika ada rokok tanpa cengkeh hanya memakai tembakau saja akan menjadi rancu. Karena rokok tanpa cengkeh bukan kategori kretek tapi rokok putih sehingga rokok tanpa cengkeh ini klausulnya masuk pada kategori sigaret putih mesin (SPM).

Jadi yang menjadi pembeda sebutan itu hanya dua kategori yaitu rokok kretek (bercengkeh) atau rokok non kretek (tanpa cengkeh). Baik kawung, klobot, siong, non filter dan berfilter selama memakai cengkeh dalam olahan tembakaunya disebut “kretek” khas Nusantara.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

You may also like

Comments are closed.