REVIEW

Meluruskan Istilah Rokok Herbal

rokok herbal
Sumber foto: KlikDokter

Banyak merek rokok yang mengklaim herbal beredar di pasaran. Kebanyakan rokok herbal tidak diedarkan umum di warung-warung atau toko-toko, bahkan di retail indomaret ataupun alfamart. Jadi bukan perkara mudah mendapatkan rokok klaim herbal, harus punya member atau kenalan di salah satu kelompok yang mengkonsumsi rokok klaim herbal tersebut.

Kata herbal bagi masyarakat luas disederhanakan dengan mengartikan sesuatu yang menyehatkan dan alami. Jadi kalau ada kata-kata herbal dalam apupun dianggap lebih menyehatkan terbuat dari bahan alami. Bahkan ada sebagian orang mengatakan kalau herbal itu alami tanpa proses kimia, sementara kimia itu tidak menyehatkan.

Asumsi demikian tak boleh disalahkan, karena memang promosi herbal masuk Indonesia nyatanya demikian. Ia yang paling alami dan paling menyehatkan. 

Nyatanya herbal sendiri itu bermakna tanaman atau tumbuhan yang mempunyai kegunaan atau nilai lebih dalam pengobatan. Atau semua jenis tanaman yang mengandung bahan zat aktif berguna untuk pengobatan. Ada juga yang memaknai herbal sebagai tanaman obat, sehingga dalam perkembangannya dimasukkan dalam kategori pengobatan alternatif. 

Bagi mayoritas masyarakat Indonesia rokok herbal adalah jenis rokok yang membawa atau berdampak pada kesehatan seseorang. Memang terjadi pemaknaan yang berbeda tentang herbal dengan negara-negara diluar sana. Rokok herbal bagi negara luar itu yang tidak berbahan baku tembakau namun dari tumbuh-tumbuhan lainnya. Tapi ada juga yang memaknai mirip-mirip orang Indonesia yaitu China. Di China rokok herbal tetap memakai bahan dasar tembakau kemudian ditambah atau dicampur lagi dengan tumbuh-tumbuhan lainnya yang berkhasiat. 

Seakan munculnya rokok herbal itu sendiri membawa makna paling  sehat, paling alami. Memaknai demikian boleh-boleh saja, tetapi salah. Rokok yang dikalim herbal dan yang tidak diklaim herbal itu sama. 

Memang rokok yang kekinian agak berbeda sedikit dengan memakai perisai atau saus rasa terbuat dari ekstrak sari buah-buahan. Dan mayoritas industri perisai atau saus tersebut beli instan bahkan import. 

Ini berbeda dengan rokok kali pertama ditemukan hingga disebut kretek yang bahan bakunya hanya tembakau dan cengkeh saja. Kemudian terjadi inovasi industri dengan diberikan rasa hasil buatan sendiri dari bahan-bahan alami –sesuai keinginan –, ada kayu manis, kapulaga, dan sejenisnya banyak macam.  

Proses pembuatannya pun masih tergolong tradisional, dijadikan satu dalam tempat dengan komposisi sesuai keinginan si pembuat, kemudian di kasih air dan didihkan. Setelah mendidih air dan bahan-bahan tadi disaring dan didinginkan. Setelah dingin, baru air tersebut disemprotkan atau dicampurkan pada tembakau yang siap diolah. Setelah air dicampurkan tidak serta merta langsung diproduksi, akan tetapi didiamkan sejenak dan harus ditutup rapat kurang lebih 3-6 jam, agar tembakau dan rasa buatan menyatu dengan baik.

Setelah diperkirakan menyatu dengan durasi tertentu , baru tembakau diolah dan dicampur dengan cengkeh secukupnya. Kemudian proses produksi membuat rokok baru bisa dilakukan. 

Selanjutnya, inovasi industri menambahkan rasa dari ekstrak buah-buahan, ada yang cenderung manis ada yang cenderung gurih. Untuk produksi di Jawa tengah rerata suka yang manis. Beda produksi dari Jawa Timuran cenderung gurih –agak ada asinnya–. Sedangkan konsumen di Yogyakarta, Jawa Barat dan daerah-daerah lainnya campuran ada yang suka manis ada juga suka gurih. 

Jadi campuran tembakau selain cengkeh berupa saus atau perisai dengan proses pembuatan sendiri atau beli instan adalah inovasi industri. Niatnya, untuk menambah kesehatan dan menambah kenikmatan. 

Kemudian, muncul cairan baru untuk campuran tembakau dan cengkeh sekitar tahun 2010-2011 yang disebut cairan “divine”, ditemukan dan dipopulerkan oleh Dr. Gretha Zahar ahli kimia radiasi/ahli radikal bebas-biradikal dan Prof. Sutiman Bambang Sumitro, MS, D.Sc ahli biologi seluler, molekuler dan nanobiologi. 

Temuan cairan divine untuk rokok ini dengan pendekatan nanosains, nanoteknologi, nanobiologi dan memanfaatkan radikal bebas dan biradikal dengan teknologi bernama scavenger. Dari hasil uji yang dilakukan beberapa kali hingga mencapai ukuran validitas dan ketetapan, cairan divine yang dicampurkan ke rokok kretek hasilnya bagus untuk tubuh manusia. 

Setelah temuan cairan divine ini, kemudian muncul banyak merek rokok yang mengklaim herbal hingga sekarang.

Terlihat sebetulnya proses pembuatan rokok kretek melalui beberapa fase inovasi. Dari awalnya hanya cengkeh hingga campuran air saus atau perisai buatan sendiri ataupun beli. Baik yang buatan sendiri ataupun beli, kesemuanya dari bahan yang sehat dan menyehatkan. 

Ketika ada istilah rokok herbal saat ini, sebetulnya dari awal ditemukannya rokok kretek hingga terjadi inovasi-inovasi campurannya ya kategori herbal. Karena yang dibuat untuk meramu rokok kretek dari dulu hingga sekarang dari bahan-bahan alami dan menyehatkan.

Pasti masih banyak yang masih ingat rokok samsu 234 dengan bungkus kuning, dahulu dibungkusnya tertulis tulisan klaim untuk obat batuk. Dan masyarakat percaya demikian, saat sakit batuk maka rokoknya samsu kretek, ketika batuknya reda kembali lagi ke rokok kretek merek semula –kesukaannya–.  

Dengan demikian rokok kretek khas nusantara ini pada dasarnya sama dan herbal semua. Kalaupun ada perbedaan ya dengan rokok bukan kretek. Karena rokok bukan kretek bahannya hanya memakai tembakau saja.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

You may also like

Comments are closed.

More in:REVIEW