PERTANIAN

Seperti Apa Mata Rantai Ekonomi Industri Rokok di Sektor Hilir?

Selama ini mungkin kita hanya mengetahui sumbangsih industri rokok bagi perekonomian Indonesia dari skala mikro saja, seperti pendapatan negara dari cukai rokok yang nilainya ratusan triliun rupiah hingga penyerapan tenaga kerja yang menyerap hingga jutaan orang. Padahal jika ditelusuri lebih jauh lagi, masih sangat banyak kontribusi industri rokok skala mikro bagi perekonomian.

Pembahasan kali ini menyangkut soal perputaran ekonomi di sektor hilir industri rokok atau lebih spesifik lagi di tingkat distribusi dan konsumsi. Perputaran ekonomi di tingkat ini sangat luar biasa yang kemudian berdampak kepada berputarnya roda perekonomian masyarakat dan distribusi kesejahteraan.

Ada 3 layer penting yang ada di level distribusi: Pertama, aktivitas kanvas brand rokok. Kedua, aktivitas perdagangan retail (eceran). Ketiga, aktivitas perdagangan grosir (agen besar). 

Mari kita mulai dari layer pertama menyoal aktivitas kanvas brand rokok. Bisa dibilang produk rokok merupakan produk yang paling masif dalam melakukan aktivitas branding. Hampir di setiap warung ataupun toko di seluruh penjuru Indonesia terdapat kanvasing brand rokok. 

Bentuknya bermacam-macam, mulai dari POSM (Point of Sales Material) berbentuk poster, stiker, sunscreen/spanduk hingga neon box. Belum lagi yang berada di area publik seperti bilboard atau videotron. Aktivitas kanvas brand ini memiliki perputaran ekonomi serta penyerapan tenaga kerja yang besar. Dari pemasangan POSM saja disana terdapat ribuan sales rokok yang bekerja, ada juga ribuan orang yang bekerja secara freelance hanya untuk mengerjakan ini.

Dari sisi suplai bahan material POSM, disana terdapat aktivitas ekonomi percetakan yang tidak ada hentinya bekerja memproduksi sehingga percetakan mendapatkan omzet yang besar untuk menghidupi bisnisnya. Sementara dari sisi objek pemasangan POSM, warung dan toko diuntungkan dengan nilai estetika untuk mempercantik dan media promosi menarik pelanggan.

Aktivitas kanvas lainnya yang biasa dilakukan brand rokok adalah mengadakan program bagi retail dan grosir. Jika ditanya satu-persatu pemilik warung, produk apa yang paling sering mengadakan program, mereka pasti akan menjawab kompak: Rokok!!. Program yang diberikan oleh brand rokok sangat menarik, ada beli 2 bungkus bonus 1 bungkus, ada program cangkang (bungkus kosong ditukar uang), ada bonus kopi hingga insentif penambahan modal usaha. 

sales rokok

Hampir semua brand rokok pernah mengadakan program, terutama brand rokok yang baru launching. Program tersebut menambah gairah penjualan warung-warung, hal ini sangat menguntungkan bagi mereka. Program brand rokok turut menyasar konsumen, sehingga mata rantai di hilir merasakan manfaat dan keuntungan dari program yang dibuat oleh brand-brand rokok.

Kemudian layer kedua mengenai aktivitas perdagangan retail. Sebelum memulai pembahasan, perlu diketahui bahwa sektor perdagangan menyumbang 13 persen PDB, setara dengan sumbangan sektor pertanian, tapi sudah menjadi sumber nafkah bagi 27 juta pekerja. Salah satu nyawa dari perdagangan, adalah subsektor retail. 

Perdagangan retail merupakan fondasi utama dari proses distribusi produk rokok.

Hampir seluruh retail baik tradisional ataupun modern pasti menjual rokok, sebab rokok dikategorikan sebagai produk consumer good dan membutuhkan distribusi level 1 yang memanfaatkan retail sebagai media distribusi produk.

Menurut data dari Nielsen Jumlah retail (tradisional dan modern) di Indonesia mencapai 2,5 juta toko. Jumlah yang sangat banyak ini dalam konteks hubungan pendistribusian produk rokok melalui retail mendorong perputaran ekonomi yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Perusahaan rokok mendapakatkan pemerataan distribusi, sementara retail mendapatkan profit penjualan dari brand-brand rokok yang dijual.

Margin keuntungannya memang tidak besar, berkisar antara Rp 500 – Rp 1.500. Namun rokok merupakan produk yang memiliki volume RO (Repeat Order) yang tinggi jika dibandingkan dengan produk lainnya. Artinya rumus profit penjualan rokok di tingkat retail adalah receh dikalikan banyak dan cepatnya penjualan. Bahkan bagi beberapa retail, penjualan rokok dapat memancing pelanggan untuk membeli produk konsumsi yang lainnya.

Bisa dibilang penjualan rokok dapat menghidupi sektor retail. Dan dari retail-lah brand rokok dapat tumbuh dan berkembang. Sebanyak-banyaknya aktivitas iklan brand rokok, tetapi tidak ditopang oleh distribusi retail, aktivitas branding tersebut hanya sia-sia.

pedagang rokok eceran

Layer terakhir adalah aktivitas perdagangan grosir. Biasanya setelah brand rokok selesai melakukan distribusi di tingkat retail, mereka akan bergeser untuk ‘memanen hasil’ dengan mendistribusikan produknya di tingkat grosir. Di tingkat inilah perdagangan besar terjadi. Perputaran uang begitu besar, ada transaksi perdagangan bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Di tingkat retail jarang sekali terjadi transaksi penjualan rokok dengan jumlah yang besar, mungkin paling besar 1 sampai 2 karton (istilah dus rokok). Hal ini dikarenakan retail hanyalah alat bagi pemerataan distribusi.

Adapun penjualan retail berjenis eceran, istilah rokok ketengan dan pembelian per bungkus. Lain halnya dengan grosir, penjualan rokok dapat mencapai puluhan hingga ratusan karton, dikarenakan fungsi grosir sebagai penyuplai barang untuk retail.

Perputaran ekonomi di tingkat grosir sangat dahsyat, transaksi ekonomi terus terjadi setiap saat, uang keluar dan masuk per menit dari retail ke grosir menuju ke produsen, begitupun sebaliknya dari produsen ke grosir lalu ke retail. Mata rantai inilah yang menjadi titik didih dari konsep perdagangan di sektor hilir industri rokok.

Bayangkan ada jutaan orang yang saling menghidupi di mata rantai ini. Selain sales, pedagang retail dan orang-orang yang terlibat di kanvasing brand rokok, disini terdapat kuli angkut, supir, perusahaan logistik hingga masyarakat sekitar yang kecipratan rezeki dari mata rantai ini. Jadi bukan sekedar bualan semata jika terdapat kurang lebih 6 juta orang yang hidup dari industri rokok.

Dari ketiga layer di atas, sudah dapat dipastikan kontribusi ekonomi dari industri rokok luar biasa besar bagi perekonomian Indonesia. Hal inilah yang jarang sekali disorot oleh pemerintah, sehingga dalam membuat kebijakan menyoal industri rokok menjadi berat sebelah. Atau jangan-jangan ada pihak yang menginginkan untuk mengambil alih keuntungan di sektor ini?

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Apa Reaksimu?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0
mm
Ketua Komite Nasional Pelestarian Kretek

    You may also like

    Comments are closed.

    More in:PERTANIAN