REVIEW

LA Lights, Di Antara Kenangan dan Perpisahan

Ini cerita saya saat pertama kali mengenal merek rokok kretek Low Tar Low Nicotine (LTLN) kedua setelah Sampoerna Mild di tahun 97 saat pertama kali pindah ke Jogja. Sebelumnya, sejak lahir sampai SMA kelas 1 saya hidup di beberapa kota di Sulawesi, mulai dari menumpang lahir di Tomohon, kemudian pindah ke Manado, Gorontalo dan terakhir di Kota Palu. Di Palu saya pertama kali mengenal beberapa merek rokok, saat itu saya belum paham apa bedanya rokok kretek dan rokok putih, apalagi merek LA Lights.

Ingatan saya hanya merekam merek seperti Gudang Garam Filter dan Surya, Sampoerna King Size, Sampoerna A Mild merah dan mentol, Mustang Filter, Bentoel Biru atau Dji Sam Soe kuning, tanpa tahu itu jenis rokok apa dan kandungan cengkeh serta saus di dalamnya. Buat saya, rokok  adalah rokok, tidak ada yang membedakan. Di sulawesi, merek-merek tadilah yang sangat dikenal dan laris di pasaran, selain rokok putih macam Kansas, Ardath, Marlboro, Lucky Strike atau West.

Sampai akhirnya di pertengahan 1997 saya memilih untuk pindah sekolah di Jogja, di kota ini saya menemukan merek-merek rokok yang aneh menurut saya; Mulai dari Djeruk, Djarum 76, Camel, Commodore, Gudang Garam Djaja, Sukun, Minak Djinggo sampai dengan rokok jenis Mild seperti Star Mild dan LA Lights merah.

Khusus LA Lights merah, saya mengenal merek ini karena abang angkat saya, Mas Arief. Dia orang yang memberi saya tumpangan tempat tinggal saat pertama kali di Jogja, rumahnya  berada di sisi selatan perempatan Jl. Solo- Jl. Demangan, bersebelahan dengan gedung yang saat ini menjadi kantor BPJS Ketenagakerjaan. Kalau disuruh memilih, dengan kondisi Jogja seperti sekarang, saya tidak akan mau tinggal di sana dengan segala kemacetan dan polusi knalpot kendaraan bermotor yang melintas. Perempatan Jalan Solo-Demangan ini juga menjadi jalan yang dikenal karena demonstrasi besar Mei 98 dan 2 tahun terakhir sering digunakan untuk aksi Gejayan Memanggil.

Saat itu saya belum berani merokok di rumah Mas Arief, walaupun kamar saya ada di lantai dua dan aman saja kalau mau merokok secara sembunyi-sembunyi. Saya segan karena merasa hanya menumpang dan menurut saya orang sepertinya pasti akan melarang saya untuk merokok dengan berbagai alasan.

Tapi ternyata dugaan saya salah. Suatu sore, tanpa sengaja saya yang sedang duduk melamun di ruang tamu dihampiri oleh Mas Arief. Dia tiba-tiba duduk di dekat saya sambil membawa cangkir putih kecil berisi kopi, korek dan kemudian bertanya; apakah saya merokok?

Sesaat kemudian dia merogoh saku celana pendeknya dan mengeluarkan sebungkus rokok LA Lights Merah. Begitu diletakkan di atas meja, lalu dikeluarkannya sebatang LA Lights dari dalam bungkusnya, itu pertama kalinya saya melihat langsung dari dekat seperti apa bungkus, warna, desain dan ukuran batang rokok LA Lights. Sebelumnya saya hanya melihat rokok itu di etalase warung dan bertanya-tanya apakah ini jenis rokok seperti Marlboro, Sampoerna, A mild atau Gudang Garam Filter? Saat itu juga saya baru tahu kalau LA Lights ternyata diproduksi oleh Djarum.

Tanpa sadar, rasa penasaran membuat saya cukup lama memperhatikan bungkus rokok yang tergeletak di atas meja itu, Mas Arief lalu menawarkan saya untuk mencobanya dan berkata “Dirokok aja, ga apa, kamu mungkin segan, tapi kalau memang kamu merokok lebih baik aku tahu itu dari awal. Tidak sembunyi-sembunyi. Wong kamu itu udah gede, udah tau mana benar dan mana yang salah. Aku tahu kamu sering keluar rumah jalan-jalan di sekitar sini untuk membeli komik atau main “ding-dong”, dan aku yakin kamu juga sekalian merokok di luar rumah. Benar, bukan?” 

Mendengar pertanyaan itu saya sedikit mules karena canggung bercampur rasa segan tapi sekaligus ingin mengakui kalau saya memang merokok. Saya hanya diam dan mengangguk pelan. Mas Arief kemudian membakar rokoknya, menghisapnya cukup dalam lalu sesaat setelahnya keluar asap yang dihembuskan melalui mulutnya dengan perlahan, rileks dan dinikmati seperti sedang mensyukuri sesuatu.

la lights

Tak lama berselang, Istri Mas Arief, Mbak Novi, membawakan segelas teh panas untuk saya dan sepiring kue jajanan pasar sebagai teman ngobrol sore kami. Mas Arief seperti memberikan kode kepada Mbak Novi agar kami ditinggalkan berdua saja. Saya menebak, sore itu adalah hari pertama saya di Jogja mengobrol cukup dalam mengenai dunia laki-laki bersama Mas Arief. Mbak Novi pun meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Benar dugaan saya, Mas Arief memulai obrolan sore itu dengan bertanya apa rencana saya di Jogja? cukup sekolah saja atau ingin mengerjakan sesuatu seperti usaha, berdagang atau hanya menikmati masa muda sembari sekolah?

Sore itu saya enggan mengeluarkan rokok Gudang Garam filter dari kantong celana saya karena sungkan kepada Mas Arief sekaligus saya penasaran dengan rasa rokok LTLN bermerek LA Lights itu. Saya ingat saat itu saya memberanikan diri mulai merokok di depannya, dengan mencicipi LA Light pertama kali. Seingat saya, saya menghabiskan 6 batang LA Lights sepanjang  obrolan kami. 

Obrolan sore itu layaknya obrolan orang tua dan seorang pemuda pada umumnya, tentang bagaimana sosok laki-laki harus bertanggung jawab dengan diri sendiri, perbuatannya, keputusannya dan tentu kelak kepada istri dan anaknya, bagaimana pentingnya pendidikan di mata masyarakat dan seperti apa mental yang harus dibangun untuk menghadapi hari-hari depan sebagai seorang laki-laki. 

Mas Arief, dengan pengalaman hidupnya yang jauh di atas saya bercerita bagaimana masa mudanya hingga dia berada di posisinya saat itu. Saya memang tidak setuju dengan semua perkataannya, dalam hati, ada beberapa hal yang memang tidak saya sepakati, tapi di sisi lain saya menghormati dia sebagai pria dewasa yang ingin berbagi pengalaman dengan saya. Saya menghormati perannya sebagai kakak yang kelak bisa menjadi contoh di kemudian hari. Kami kemudian mengakhiri obrolan saat adzan maghrib sayup-sayup terdengar. Sejak saat itu saya diperbolehkan merokok, tapi tidak di semua ruangan di dalam rumahnya, hanya di area-area tertentu.

Bertahun kemudian, kami semakin dekat sebagai saudara, saling memposisikan diri layaknya kakak dan adik, mentor dan murid, atau sekedar teman bercerita beda generasi. Banyak hal juga yang kami tidak sepaham hingga berujung seteru, tapi tidak sedikit pula hal yang kami amini bersama dan berakhir dengan saling menghargai satu sama lain. Sejak pertama kali mengenal Mas Arief, saya nyaris tidak pernah melihatnya menghisap rokok lain selain L.A Lights sebagai rokok utamanya. Memang sesekali dia merokok Dji Sam Soe kuning sebagai rokok selingan, tapi selama saya kenal dengannya mungkin dia hanya merokok Dji sam Soe 3-4 kali di situasi tertentu.

Di suatu acara pernikahan saudara kami, saya pernah bertanya kepadanya kenapa dia selalu merokok L.A Lights merah. Menurutnya, L.A Lights merah adalah rokok mild pertama baginya yang memberikan kepuasan setara rokok kretek filter seperti Djarum Super atau Gudang Garam Surya. Sejak L.A Light dipasarkan, dia merasa cocok dengan citarasa rokok kretek LTLN ini, mulai dari rasa manisnya, aromanya, ringan saat dihisap, kepulan asap yang cukup tebal serta kemasannya yang putih bersih membuat L.A Lights “pantas” dibawa ke situasi apapun; bertemu pejabat, rekan bisnis, bersantai dengan teman hingga berkumpul bersama keluarga. Baginya, L.A lights sudah seperti “atribut” wajib yang digunakan, punya nilai, dipandang, memiliki kekhasan yang tidak dimiliki rokok lain di kelasnya, citarasanya yang baik dan kepuasan tersendiri yang akan sulit dipahami orang lain. Saya pun hanya mengiyakan perkataannya meski tidak sepenuhnya saya pahami.

Kalau dihitung sejak saya mengenal Mas Arief, berarti sudah sekitar 20 tahun dia menghisap L.A Lights sebagai rokok utama yang menemani kesehariannya sejak bangun tidur, sarapan, bertemu orang penting, mengobrol dengan supir pribadinya, makan siang dengan kolega, menikmati sore hari dengan tenang selepas rutinitasnya bekerja, makan malam bersama keluarga besar, hingga malam-malam saat dia sulit tidur karena pikirannya yang meraba kemungkinan hari esok sebagai seorang suami, ayah, orang yang dipandang dan sebagai anak tertua di keluarganya.

LA Lghts

Bertahun-tahun pula saya dan Mas Arief mengalami pasang-surut dalam sebuah hubungan, dia sebagai sosok yang disiplin dan bertanggung jawab dengan keluarga besarnya, bertolak belakang dengan saya yang seringkali memberontak saat dihadapkan dengan keteraturan hidup. Tapi selama itu pula saya selalu memperhatikan hal kecil darinya; dia dan merek rokok kegemarannya yang tidak pernah terpisah, caranya menikmati rokok LA Lights kegemarannya dalam berbagai situasi, nyaris tidak pernah berubah sedikit pun, mulai sejak membakar rokok, menghisap hingga menghembuskan asapnya, sampai saat dia mematikan rokok ke dalam asbak. Hal kecil yang mungkin tidak semua orang memperhatikannya. Jangan coba berdebat soal rokok baik atau tidak kepadanya, dia akan balik memberikan “wejangan” semalam suntuk tentang kehidupan kepada lawan bicaranya.

20 April 2021 kemarin, Mas Arief ternyata harus lebih dulu meninggalkan kami semua. Sebuah kabar yang sangat mengagetkan bagi saya dan keluarga. Mas Arief, dengan segala sikap kerasnya kepada saya selama ini ternyata meninggalkan banyak sekali kenangan, tapi namanya manusia, saya baru merasa sangat kehilangan saat Mas Arief sudah tidak adai.

Rasa kehilangan hari itu berlanjut sepanjang perjalanan pulang dari rumah duka yang akhirnya membuat saya mendadak mampir ke warung rokok sekedar untuk membeli LA Lights dan belum juga saya buka sampai tulisan ini dibuat. Bingung juga, saya bukan perokok LA, walaupun aliran rokok kretek saya rokok kudus-an. Tapi, rasanya, dengan membeli sebungkus LA Lights dan membuat tulisan ini saya seperti sedang duduk mengobrol dengan Mas Arief, menyampaikan apa yang belum sempat kami bicarakan, dan memperbaiki beberapa hal yang harusnya bisa kita lakukan bersama. Sugeng tindak, Mas Arief.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Lelaki yang Mencintai Banyak Hal

    You may also like

    Comments are closed.

    More in:REVIEW