OPINI

Buruh Rokok Indonesia: Pemogokan dan Nasionalisme Tak Berujung

buruh rokok indonesia

Perayaan hari solidaritas buruh internasional (May Day) yang jatuh pada setiap tanggal 1 Mei selalu menyisakan cerita menarik. Jika melihat ke belakang, semangat May Day berkaitan langsung dengan nasionalisme para buruh. Gelora semangat yang berangkat dari kesamaan nasib tidak dapat dibendung biarpun dengan menggunakan politik kekerasan.

Ben Anderson dalam Imagined Community mengatakan bahwa ikatan nasionalisme meliputi beberapa dimensi diantaranya kesetiaan; komitmen; emosi; perasaan kepada bangsa dan negara; dan rasa memiliki bangsa dan negara tersebut. Nasionalisme berangkat dari kata dasar nation (bangsa?) adalah sebuah komunitas politik yang terbatas dan berdaulat.

Ikatan nasionalisme juga hadir di tengah buruh perusahaan rokok yang menghimpun diri dalam Serikat Buruh Rokok Indonesia (SBRI). Dengan modal solidaritas dan ikatan kesamaan nasib, SBRI hadir untuk mewadahi kepentingan kaum buruh. Masa paceklik ekonomi yang dirasakan buruh di awal tahun 1950an membuat pengusaha melakukan pemecatan buruh secara masif. Periode ini dikenal dengan massa-ontslag.

Merujuk pada koran Antara 18 November 1950, massa-ontslag menyisakan tangis kaum buruh karena kehilangan pekerjaannya. Di sisi lain, para buruh yang tidak terimbas pemecatan masif tersebut mempunyai ikatan solidaritas yang lebih kuat.

Kaum buruh yang bekerja dalam perusahaan BAT atau British American Tobacco di Surabaya melakukan aksi mogok. Pokok persoalan yang menjadi penyebab pemogokan buruh BAT bukan berangkat dari persoalan domestik di pabrik mereka.

Kaum buruh BAT melakukan mogok semata untuk bersolidaritas atas penderitaan yang dialami oleh buruh perusahaan tembakau di Cirebon. Sudah berminggu-minggu para buruh bersengketa dengan majikan perusahaan tembakau tanpa menemui titik kompromi.

Akhirnya, buruh rokok di Cirebon melakukan calling for solidarity kepada buruh BAT Surabaya untuk turut bersolidaritas dengan cara mogok bersama. Pemogokan yang juga dilakukan di Surabaya meningkatkan daya tawar buruh di depan majikan.

Menurut catatan koran Antara 2 September 1950, pemogokan yang dilakukan oleh buruh BAT membuat aktivitas di dalam pabrik lumpuh. Truk-truk yang mengantre untuk proses bongkar muat tidak dihiraukan oleh kaum buruh. Para buruh sibuk bermain kartu, bermain catur, dan bersenda gurau seolah-olah tidak mempunyai tugas dan tanggung jawab di hari pemogokan dilaksanakan.

Pemogokan di dua titik ini mewariskan semangat dan meningkatkan daya juang buruh. Ikatan atas kesamaan nasib memperluas jangkauan solidaritas kaum buruh. Tidak hanya di dalam permasalahan internal buruh, tapi lebih luas menyoal permasalahan negara.

Perayaan May Day yang diperingati oleh kaum buruh –sependek pengamatan penulis, juga dapat dimaknai sebagai sebuah implementasi nasionalisme buruh. Sayangnya, kita kerap terjebak memaknai nasionalisme dengan sifat simplifikatif, utamanya ketika hari-hari peringatan suatu peristiwa besar –misalnya, Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan Indonesia, Hari Kelahiran Pancasila, dsb.

Penulis ingin mengajak pembaca bahwa buruh juga mempunyai nasionalismenya sendiri. Pada peringatan May Day tahun 1964, Ketua SOBSI Cabang Surabaya mengajak segenap buruh di kota itu untuk menyisihkan sebagian rezekinya demi menyukseskan operasi Dwikora [Ganyang Malaysia].

Merujuk laporan koran Harian Umum 7 Mei 1964 buruh yang terafiliasi dengan SOBSI menyisihkan komoditas hasil produksinya untuk para relawan Dwikora. Buruh yang bekerja di pabrik sabun memberikan sabun; buruh yang bekerja di industri metal menyisihkan uang; terkhusus, buruh pabrik rokok yang tergabung dalam SBRI menyisihkan rokok untuk dikirim ke Kalimantan Utara.

Dwikora adalah sebuah aksi konfrontasi terhadap rencana Inggris yang ingin membentuk Negara Malaysia. Demi menyokong program nasional Bung Karno, kaum buruh mendesak pemerintah untuk segera menasionalisasi perusahaan-perusahaan Inggris. Desakan itu bertujuan untuk melumpuhkan akses akumulasi modal Inggris di Indonesia. Ini juga terjadi di perusahaan BAT.

Merujuk warta Trompet Masjarakat 25 Januari 1964, kaum buruh pabrik rokok BAT melakukan pemogokan dan menyegel kantor manajemen perusahaan. Koordinator pemogokan membacakan pidato yang membakar semangat massa aksi dan SBRI melakukan aksi simbolik dengan memasang plakat pada kendaraan-kendaraan dan Gedung-gedung perusahaan bertuliskan “Milik R.I”.

Sayangnya, aksi simbolik yang dilakukan oleh SBRI tidak sempat ditindaklanjuti pemerintah. Huru-hara politik yang terjadi pasca kegagalan petualangan G30S membuat organisasi-organisasi yang terafiliasi dengan paham komunisme dibubarkan, termasuk SBRI. Biarpun begitu, SBRI telah menggoreskan tinta sejarah pergerakan buruh di masa silam. 

Selain itu, SBRI juga telah memberikan warisan semangat pada dua aspek perjuangan. Pertama perjuangan untuk kepentingan kaum buruh industri rokok. Kedua warisan semangat nasionalisme untuk kepentingan nasional. Peringatan May Day pada tahun ini alangkah baiknya merefleksikan keberhasilan yang ditorehkan oleh SBRI. Utamanya, bagi kaum buruh sebagai ahli waris yang sah untuk meneruskan semangat perjuangan kaum buruh di masa silam.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Overseas Research Assistant National University of Singapore

    You may also like

    Comments are closed.

    More in:OPINI