Ragam

Cerita di Balik Ahli Qur’an Almarhum KH. Sya’roni Ahmadi Tentang Tembakau dan Rokok

Masih hangat diingatan para santri kehilangan Ulama Kharismatik asal Kudus, beliau adalah almarhum KH. Sya’roni Ahmadi. Telah wafat pada pertengahan Ramadhan, tepatnya pada hari selasa pon tanggal 27 April 2021 tahun umum bertepatan tanggal 14 Ramadhan 1442 Hijriyah pada pukul 08.43 WIB di Rumah Sakit Islam Kudus.

  1. Sya’roni Ahmadi seorang hafiz al-Qur’an, mahir dalam bidang tafsir al-Qur’an dan hafiz 7 dialek al-Qur’an (Qiroah Sab’ah). Qiroah Sab’ah sendiri salah satu disiplin ilmu langka, jarang sekali para Ulama’ Nusantara menguasainya semasa hidupnya KH. Sya’roni Ahmadi.

Selain itu, beliau juga mahir dalam bidang disiplin ilmu balaghoh, mantiq, badi’ ma’ani, fiqih, tauhid dan disiplin ilmu lainnya. Akan tetapi KH. Sya’roni Ahmadi lebih terkenal dengan sebutan ulama’ ahli dalam bidang al-Qur’an.

Sejak umur belasan tahun KH. Sya’roni Ahmadi sudah hafiz al-Quran dan  menguasai Qiroah Sab’ah. Bahkan cerita beliau sendiri saat masih hidup, ia sudah gemar mengaji sejak kecil sebelum balig. Walaupun saat itu tidak paham betul ilmu yang telah dipelajari, yang penting mengaji kata  KH. Sya’roni Ahmadi.

Hingga ia pernah duduk bersama gurunya (KH. Awani Amin al-Hafiz dan KH. Turaichan Adjhuri ahli falaq/perbintangan) mengaji tafsir ke salah satu tokoh pendiri organisasi NU KHR. Asnawi Kudus. Metode pembelajarannya memakai bahasa Arab. Saat itu ia pun masih sangat kecil dan bisa dikata paling muda diantara orang-orang yang mengaji lainnya yang sudah menjadi Kiai.

  1. Sya’roni Ahmadi betul-betul Kiai tanpa pesantren. Tidak pernah pergi mondok bahkan belajar ke Timur Tengah sekalipun. Ia hanya santri kalong yang datang saat mengaji kepada Gurunya, setelah selesai langsung pulang kembali. Dan di masa hidupnya hingga akhir hayatnya, ia pun tidak mempunyai pesanten sendiri.

Selain mengaji, sejak kecil waktunya dihabiskan dengan bekerja dan bekerja. Sebelum umur 8 tahun, ia membantu orang tuanya berdagang tembakau di kios sewaan emperan jalan selatan masjid al-Aqsha Menara Kudus.

Setelah ibunya meninggal umur sekitar delapan tahun, ia pun tetap membantu bapaknya bernama Ahmadi berdagang tembakau menggantikan ibuknya dengan menjaga kios. Sambil jualan tembakau itulah KH. Sya’roni Ahmadi dapat menghatamkan hafalan al-Qurannya hingga  Qiroah Sab’ah yang kemudian diwaktu senggangnya ditashihkan/disetorkan ke KH. Awani Amin al Hafiz. Ia khatam mengaji Qiroah Sab’ah umur sekitar belasan tahun.

Tak hanya itu, malam harinya ia pun habiskan waktunya dengan mengaji kitab bersama-sama santri lain. Salah satunya di Masjid desa Langgardalem Kota Kudus yang diampu oleh KH. Turaichan Adjhuri dekat tempat kelahiran H. Djamhari penemu rokok kretek.

Perlu diketahui bahwa kios tembakau milik ayah KH. Sya’roni Ahmadi berdekatan dengan pasar, yang kekinian di namai “pasar bubar atau  pasar weringin” sekarang dibangun Pemda Kudus menjadi taman dan pasar oleh-oleh peziarah karena lokasinya di sebelah timur Makam Sunan Kudus Kangjeng Sayyid Dja’far Shodiq.

Konon, setelah Sunan Kudus Wafat pasar ini pernah manjadi pusat perdagangan tembakau dunia. Di waktu tertentu pedagang Arab dan India datang kepasar tersebut, hanya untuk mengambil barang dagangan berupa tembakau.

Jadi tidak heran kalau munculnya rokok kretek ditemukan oleh H. Djamhari. Karena lokasi pasar dengan rumah H. Djamhari sangat dekat bahkan irisan dua desa, desa Langgardalem dan desa Kauman Menara Kudus.

Lima tahun kemudian terhitung mulai ibukya wafat, bapaknya KH. Sya’roni Ahmadi Meninggal dunia. Karena terbentur dengan permodalan dan uag sewa kios, akhirnya KH. Sya’roni Ahmadi tidak bisa lagi melanjutkan bejualan tembakau lagi.

Kemudian ia memilih menjadi kuli panggul di pasar Kliwon dan bedagang konveksi kecil-kecilan untuk menghidupi dua adiknya yang masih kecil-kecil. Bahkan diceritakan KH. Sya’roni Ahmadi, tidak jarang demi adiknya ia rela tak makan, karena pendapatannya menjadi kuli dan dagang konveksinya tak menentu. Namun walaupun dengan serba kekurangan, ia tetap semangat mengaji.

Berjalannya waktu, usianya bertambah tumbuh dewasa dan adik-adiknya tumbuh besar. Ia pun tetap semangat mengaji dan bekerja. Bahkan ia sempat bekerja di perusahaan rokok kecil di sekitar Menara. Ia menjadi “mandor” mengontrol karyawan dan hasil olahan tembakau. Pekerjaan ini dilakoninya hanya sebentar, karena aktifitas mengajar jamnya sudah mulai padat.

Tidak hanya itu, sedikit sedikit ia pun mulai di undang mengisi pengajian umum. Yang selanjutnya pernah mendapatkan julukan “singa podium”. Dalam ceramah pengajian umumnya, ia pun berkiblat pada gurunya KH. Turaichan Adjhuri dan KH. Bisri Mustofa ayah dari Gus Mus yang lantang saat berpidato.

Dalam kesibukan aktifitasnya, ia mengaku selalu membawa rokok. Jadi tiap saku pakaian jas yang dipunyai tiap sakunya tersedia rokok. Ia mengaku juga, aktifitas merokok sejak kecil saat membantu orang tuanya berjualan tembakau. Kios yang ia miliki tergolong besar, dan sering dibuat tengkulak pabrikan rokok kecil-kecil, ceita KH. Sya’roni Ahmadi sendiri saat belum meninggal.

Jadi wajar, ia sangat menghargai perokok. Saat sakit dan tidak bisa keluar kamar sendiri, memang ia sudah tidak lagi merokok. Tapi, ia tidak akan meminta bantuan orang lain saat dilihat orang yang akan dimintai tolong masih merokok, setelah selesai merokok baru ia minta tolong. Walaupun sebenarnya ia sangat butuh bantuan.

Saat beliau kontrol ke salah satu rumah sakit tulang terkemuka di Solo Jawa Tengah, dengan diantar pakai ambulance dan beberapa orang yang menemani di dalam ambulance dan ber AC. Ketika pulang dari kontrol, di jalan tol semarang ia celetuk “mesti iki tersiksa ora iso udud” “pasti tersiksa tidak bisa merokok”, lalu ada salah satu orang menjawab “jeh” “ya” dengan sangat pelan takut kedengeran.

Ternyata, walaupun pelan KH. Sya’roni mendengar, lalu sopir disuruh cari tempat berhenti disepanjang jalan tol semarang. Setelah berhenti, disuruhlah semuanya keluar dan merokok dahulu.

Dan hanya KH. Sya’roni ahmadi yang membubuhkan tanda tangan pada sampul kitab “Irsyadul Ihwan”  karya Syaikh Ihsan Jampes Kediri. Kitab ini menjelaskan kedudukan hukum mengopi dan merokok. Saat menandatangani kitab tersebut, ia berkata “kitab iki iso gawe ma’khot” “kitab ini bisa buat rujukan” hukum merokok. Dan juga secara tegas, ia mengatakan kalau ada Kiai yang mengharamkan rokok kasih kitab ini yang saya tendatangani, atau ajak kesini, demikian kata Muhyiddin salah satu tim yang melakukan wawancara di kediaman KH. Sya’roni Ahmadi semasa waktu sehatnya.

Kepadanya (almarhum KH. Sya’roni Ahmadi)  mari kita bacakan surat al Fatikhah bersama-sama, semoga bacaan kita di terima Tuhan Yang Maha Esa menjadi salah satu do’a yang bisa menghiasi taman KH. Sya’roni Ahmadi di alam kubur dan di akherat kelak, dan kembali memberkahi bagi kita semua, lahu al Fatikhah…..

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

You may also like

Comments are closed.

More in:Ragam