RagamREVIEW

Di tangan Djarum Group, Klub Legendaris Italia ini Bangkit dari Keterpurukan

como 1907
foto: tstatic.net

Ketika Djarum Group di bawah kepemimpinan Robert Budi Hartono dan Robert Wijaya Suwanto mengakuisisi klub sepak bola asal Italia, Como 1907, fans, loyalis, hingga kelompok ultras dari kesebelasan tersebut bertanya-tanya. Siapakah Hartono? Bisnis apa yang dia lakoni? Apa motivasinya membeli klub kebanggan mereka? Pertanyaan itu tak mereka temukan jawabannya. Namun perlahan-lahan, prestasi dan kebangkitan Como 1907 sepertinya menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut.

Klub berjuluk Lariani hanya semacam pesakitan saat dimiliki oleh Akosua Puni Essien, istri dari pesepak bola legendaris asal Ghana yang pernah bermain untuk Persib Bandung, Michael Essien. Pada musim 2019-2020 sebelum dibeli oleh Djarum Group, Como 1907 hanya bercokol di papan tengah klasemen dengan menelan 8 kekalahan dan 25 kali kebobolan dalam semusim.

Kondisi itu diperparah dengan fasilitas stadion yang kian lama kian mengkahawatirkan. Manajemen yang buruk serta hutang dan tagihan bertumpuk di meja staf keuangan. Bahkan Istri Essien tak pernah hadir untuk memperbaiki masalah tersebut, membawa pergi uang, dan melewati kota di tengah malam.

Como dalam Ingatan Orang Italia

Como 1907 sebenarnya bukan klub kacangan. Memang klub asal bagian utara Italia ini tak pernah mencicipi gelar paling prestisius di kontestasi sepak bola  tertinggi di sana. Namun, setidaknya persaingan panas di Serie A pernah mereka rasakan. Atau, juara kompetisi Serie B dan C sering mereka raih. 

Pertama kali mereka mentas di Serie A mulai tahun 1949, naik turun performa, lalu terakhir kali nampak di kompetisi teratas pada 2003 lalu. Bisa dibilang masa itu jadi tahun terakhir yang membanggakan bagi publik Kota Como. Mereka setelah itu jatuh, bahkan ke dasar kompetisi yang paling jauh

Bagi publik Italia, Como 1907 lebih dikenal sebagai klub penghasil sepak bola bermental juara. Diantaranya adalah pemain yang sukses bersama Juventus dan Inter Milan di era 1980 hingga 70an, Marco Tardelli. Lalu ada Tommaso Rocchi, striker asal Italia yang menyumbangkan 82 gol dalam 235 caps bersama Lazio. Dan yang terakhir ada Gianluca Zambrotta, putra asli Como yang pernah bermain untuk Barcelona dan membawa Timnas Italia juara Piala Dunia 2006.

Ingatan orang-orang Italia akan prestasi Como 1907 tersebut hancur seiring prestasi klub tersebut yang kian anjlok. Bagi orang-orang di sana, Como hanya dikenang sebagai kota yang tenang dengan berlatarkan danau terbesar ketiga di Italia  yang sangat indah, serta pernah didatangi oleh dua tokoh terkenal di dunia asal Amerika Serikat, George Clooney dan Barack Obama. Hanya sekadar itu.

Masa Depan yang Cerah

stadion como 1907

doto: football5star

Jika fans Liverpool mendambakan penggalan lirik lagu Youll Never Walk Alone yaitu ‘at the end of the storm there’s a golden sky’ menjadi kenyataan, Como 1907 sudah dalam proses tersebut. Babak baru ini menjadi kian menyenangkan dan jadi perjalanan yang menantang, setidaknya bukan hanya untuk direksi manajer klub namun juga untuk fans.

Pembelian pemain dimulai dengan cara yang tepat. Tak banyak juga pemain lama yang tersisa, hanya yang memiliki komitmen serta kualitas yang baik dipertahankan. Pembelian pemain baru pun menarik, salah satunya adalah Ismail H’Maidat. Pemain berdarah Maroko ini punya masa lalu kelam sebagai narapidana, namun Como 1907 memberinya kepercayaan dan peluang.

Saat ini Lariani dibesut oleh Giacomo Gattuso, taktisi handal berusia 52 tahun ini sebenarnya juga merupakan eks pemain Como 1907 di era 80an dan melatih klub tersebut pada musim 2005-2006. Sisanya, ia menghabiskan waktu menahkodai Novara Calcio, klub yang juga bernaung di Serie C.

Giacomo Gattuso tentu mengenal karakteristik Kota Como, sangat mengenal juga dengan kompetisi Serie C. Seakan berada di waktu yang tepat, prestasi muncul dari tangan dinginnya. Ismail H’Maidat dkk sukses memastikan satu tiket untuk bermain di Serie B musim depan. Bahkan di akhir musim mereka juga berpeluang besar menjadi juara Serie C. 

Bukti Kehandalan Djarum Group

Saya percaya kesuksesan di tingkatan mikro bermula dari kejadian besar di skala makro. Akuisisi yang dilakukan oleh Djarum Group kini mulai memperlihatkan dampaknya. Secara profesional mereka mengelola Como 1907, dimulai dari satu hal yang paling dasar adalah memilih Michael Gandler, mantan manajer pemasaran dan pemasukan Inter Milan sebagai Chief Executive Officer (CEO).

Saat pertama kali datang markas Como 1907, Gandler seperti menghadapi rumah mewah besar namun usang, kumuh, dan rawan roboh. Tapi berkat kepercayaan dan dukungan penuh Djarum Group, pria asal Amerika Serikat tersebut perlahan-lahan berhasil mengatasinya. 

Bukan hanya tiket mentas di Serie B yang sudah dimiliki Lariani saat ini. Televisi sendiri mereka punya, manajemen yang sehat juga, stadion juga perlahan-lahan diperbaiki. Bahkan, Garuda Select yang menjadi program PSSI untuk pengembangan pemain muda pun dipercayakan kepada Como. 

Djarum bukan anak baru dalam dunia olahraga. Tanda bukti slogan ‘Bakti pada Negeri’ memang terus mereka pertahankan. Mereka punya PB Djarum yang berhasil menghasilkan pebulutangkis handal kelas dunia yang bisa dibanggakan Indonesia. Saat ini, mereka mempersiapkan anak-anak muda Indonesia yang bisa hebat bermain sepak bola dan membanggakan bangsa.

Bukan tanpa alasan bahwa Como 1907 bisa bermain di Serie A dalam waktu dekat-dekat ini. Pesepak bola muda Indonesia yang dititipkan di sana, juga bisa bermain di kasta tertinggi sepak bola Italia suatu saat nanti. Sungguh, saya sangat merinding membayangkannya! Forza Como!

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang lelaki yang tak pernah merasa kesepian

    You may also like

    Comments are closed.

    More in:Ragam