REVIEW

Michael Bloomberg, Orang Terkaya di Dunia yang Mendanai Gerakan Antirokok

bloomberg
foto: us

MICHAEL Rubens Bloomberg lahir di Boston, Amerika Serikat, 14 Februari 1942. Ayahnya, William Henry Bloomberg, seorang imigran Yahudi-Rusia yang bekerja sebagai agen properti. Sedangkan ibunya, Charlotte, adalah putri dari seorang imigran Rusia yang menikahi perempuan kelahiran New Jersey.

Sampai usia dua tahun, Michael tinggal bersama keluarganya di lingkungan Bloomberg Allston, Boston. Mereka kemudian pindah ke Atherton Road, Brooklyn, Massachusetts, selama dua tahun, dan akhirnya menetap di Medford, pinggiran Kota Boston. Di sinilah Michael tinggal sampai ia lulus kuliah.

Ia kemudian menempuh studi di Jurusan Teknik Elektro Johns Hopkins University. Pada masa mahasiswa inilah ia bergabung dengan Phi Kappa Si. Ia lulus pada 1964 dengan meraih gelar Bachelor of Science (BS). Selanjutnya ia kuliah di Harvard Business School dan mendapat gelar Magister of Business Administration (MBA).

Pada 1975, Michael Bloomberg menikah dengan Susan Brown. Pasangan ini melahirkan dua orang anak perempuan, yaitu Emma (lahir tahun 1979) dan Georgina (lahir 1983).

Pernikahan Michael dan Susan berakhir pada 1993 karena perceraian. Sang suami dituduh melakukan perbuatan kasar terhadap istrinya selama 18 tahun walau tuduhan ini tidak terbukti. Perceraian mereka juga konon terjadi karena

Michael terlibat skandal cinta dengan Diana Taylor, seorang mantan pengawas perbankan di Bank of New York.

Michael mengawali bisnisnya di Wall Street dengan bekerja di Salomon Brothers, sebuah perusahaan perdagangan ekuitas yang kemudian berkembang menjadi perusahaan sistem keuangan. Di sini ia sempat menjadi Kepala Staf Perdagangan Ekuitas, lalu Kepala Bagian Sistem Pengembangan. Pada 1972, ia bahkan menjadi mitra bagi Salomon Brothers.

michael bloomberg

foto: media.vanityfair.com

Pada tahun 1981, Michael dipecat dari Salomon Brothers dan diberi pesangon sebesar 10 juta dolar AS. Dengan menggunakan uang ini, ia mendirikan sebuah perusahaan pengembang perangkat lunak (software) finansial yang diberi nama Innovative Market Systems. Pada 1982, Merrill Lynch menjadi pelanggan pertamanya dengan proyek pembuatan 22 Market Master Terminal senilai 30 juta dolar.

Innovative Market Systems kemudian berganti nama menjadi Bloomberg LP pada 1986. Dengan perusahaan ini Michael Bloomberg membangun bisnis layanan komputerisasi informasi keuangan dan revolusi keamanan data. Hasilnya, perusahaan ini meraih sukses dalam waktu cepat. Dalam jangka waktu satu tahun, pelanggannya semakin banyak. Ia pun mulai membuat produk tambahan, termasuk Bloomberg Tradebook (platform trading), Bloomberg Messaging Service, dan PR Wire Bloomberg. 

Pada 1987, Bloomberg LP telah memasang 5.000 terminal. Bahkan pada 2009 perusahaan ini memiliki lebih dari 250.000 terminal di seluruh dunia. Kemajuan lainnya adalah berdirinya suatu jaringan kerja radio yang sekarang memiliki stasiun siaran utama, yaitu 1130 WBR-AM di Kota New York. Michael kemudian melebarkan sayapnya ke bisnis media dengan lebih dari 100 kantor cabang di seluruh dunia.

Pada Maret 2009, majalah Forbes menurunkan laporan yang menyebutkan bahwa Michael Bloomberg memiliki kekayaan sebesar 16 miliar dolar. Artinya, ia adalah orang terkaya di Kota New York dan salah seorang miliarder paling sukses di AS selama resesi ekonomi. Peringkat kekayaannya melonjak dari Nomor 142 ke Nomor 17 hanya dalam waktu dua tahun, yaitu Maret 2007 hingga Maret 2009.

Bloomberg saat ini diperkirakan memiliki kekayaan bersih USD 62,4 miliar atau Rp 861,7 triliun menurut Forbes. Gelimang kekayaan itu membuatnya berada di urutan orang terkaya nomor 9 di dunia atau orang paling kaya sepenjuru Amerika Serikat nomor enam.

Dengan harta yang berlimpah, Bloomberg dikenal sebagai filantropi dunia. Melalui Bloomberg Family Foundation, jumlah sumbangan yang lain dari Michael adalah 138 juta dolar (2004), 144 juta dolar (2005), 165 juta dolar AS (2006), dan 205 juta dolar (2007). Tak heran bila pada 2007 ia menjadi penyumbang individual terbesar ketujuh untuk filantropi di AS. 

demo rokok dibiayai bloomberg

Para penerima sumbangan itu antara lain Campaign for Tobacco-Free Kids (Washington), U.S. Center of Disease Control and Prevention Foundation (Atlanta), Johns Hopkins University Bloomberg School of Public Health (Baltimore), World Lung Foundation and The International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (New York dan Paris), serta WHO Tobacco-Free Initiative (Jenewa).

Bloomberg Philanthropies, yayasan amal milik multi miliarder sekaligus Wali Kota New York Michael Bloomberg, mengumumkan pemenang Bloomberg Awards untuk pengendalian tembakau global. Penyerahan plakat piala kepada pemenang dilakukan langsung oleh Bloomberg. Pemberian penghargaan ini sudah dihelat dua kali. Yang pertama digelar pada 2007. Adapun para peraih Bloomberg Awards 2012 adalah:

  • Health Justice, Filipina (Kategori Monitoring). Ini adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang menyediakan informasi industri untuk pemerintah agar mengeluarkan kebijakan yang melindungi langkah-langkah terhadap pengawasan tembakau.
  • Turkish National Coalition on Tobacco or Health, Turki (Kategori Protecting). Ini adalah sebuah koalisi yang berisi 40 organisasi yang fokus terhadap pengendalian tembakau. Mereka memonitor untuk memastikan hukum pengendalian tembakau nasional yang kuat dan menyeluruh.
  • Kementerian Kesehatan Uruguay (Kategori Warning). Kementerian ini menjadi yang terdepan dalam peringatan rokok dalam kemasan. Uruguay memiliki peringatan kemasan terbesar di dunia, yakni sekitar 80 persen dari area kosong kemasan.
  • Corporate Accountability International Colombia (CAI) dan Fundación para la Educación y el Desarrollo Social (FES), Kolombia (Kategori Enforcing). Keduanya bersama-sama telah bekerja agar iklan dan sponsor rokok di lima kota besar di Kolombia tetap dilarang. Pelatihan dilakukan dan dipantau dengan melaporkan jika ada pelanggaran.
  • Kementerian Keuangan Mesir (Kategori Raising Tobacco Taxes). Kementerian ini menerapkan pajak tembakau tinggi, termasuk pajak 100 persen untuk shisha, yaitu tembakau uap yang dihisap menggunakan pipa. Kementerian ini juga menerapkan pajak 70 persen untuk merek rokok yang paling populer di Mesir dan telah menghasilkan lebih dari 2,2 dolar miliar pendapatan pemerintah setiap tahun.

Selain Bloomberg, turut hadir Margaret Chan, selaku Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia ( WHO) dan Presiden Konferensi Dunia tentang Tembakau dan

Kesehatan (WCTOH) ke-15, Philip Eng. Nominasi dan seleksi penghargaan dilakukan sebelumnya secara panel oleh para ahli internasional.

Pemberian penghargaan itu sebenarnya berada dalam rangkaian yang sama di tengah perang besar memperebutkan nikotin antara industri farmasi dan industri rokok di AS sejak 1990-an. Nikotin menjadi rebutan karena punya banyak manfaat medis, namun tidak bisa dipatenkan. Nikotin terkandung secara alami pada tembakau, tomat, kentang, dan banyak jenis sayuran lain. Hanya senyawa “mirip nikotin” dan sarana pengantar nikotin yang bisa dipatenkan. 

Kepentingan industri rokok atas nikotin sudah jelas, sementara kepentingan industri farmasi adalah bisnis perdagangan obat yang dikenal dengan Nicotine Replacement Therapy (NRT).

WHO dan badan-badan pemerintah federal AS membuat industri farmasi berada di atas angin. Merangkul dalam hal ini adalah menjadi sponsor; mengucurkan dana untuk kepentingan kampanye anti-rokok. 

Pada 1998, Pharmacia Upjohn, Novartis, dan Glaxo-Wellcome menjadi sponsor terbentuknya WHO Tobacco Free Initiative (TFI). Mengungkap Sosok Agen Industri Farmasi di Balik Filantropi Kampanye Anti Rokok Ketiganya adalah perusahaan farmasi yang memasarkan produk produk-produk NRT. Pharmacia Upjohn menjual permen karet nikotin, koyo transdermal, semprot hidung, dan obat hirup. Novartis menjual koyo habitrol. Sedangkan Glaxo-Wellcome menjual zyban.

Salah satu misi TFI adalah mempromosikan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), sebagai landasan hukum internasional dari WHO untuk memerangi tembakau. Pada 2000, ketiga perusahaan farmasi terkemuka di atas kembali menggerakkan kampanye dunia memerangi tembakau dengan menggelar Konferensi Dunia tentang Tembakau dan Kesehatan ke-11 di Chicago. Bedanya, kali ini amunisi mereka bertambah dengan partisipasi SmithKline Beecham. 

SmithKline Beecham, yang melakukan merger dengan Glaxo-Wellcome sesudah konferensi tersebut, adalah perusahaan farmasi yang menjual produk NRT seperti koyo nikotin Nicoderm CQ dan permen karet Nicorette. WHO, World Bank, Centers for Disease Control, dan Cochrane Tobacco Addiction Group, memberikan dukungan di konferensi tersebut.

Michael Bloomberg sendiri ikut merapat ke WHO. Melalui Bloomberg Initiative, pada 2006 ia mengucurkan 125 juta dolar AS, kemudian 250 juta dolar di tahun 2008, sebagai komitmennya dalam memerangi tembakau. Bloomberg Initiative bergerak di lima lini organisasi, yaitu Campaign for Tobacco Free Kids, Centers for Disease Control and Prevention Foundation, Johns Hopkins Bloomberg School  of Public Health, serta WHO, and World Lung Foundation.

Kepentingan Bloomberg melalui Bloomberg Initiative tidaklah sulit dibaca. Ia juga bersama Bill Gates membela para eksekutif farmasi yang dikambing-hitamkan dalam perdebatan layanan kesehatan. Gates melakukannya antara lain karena istrinya, Melinda, mempunyai saham di industri farmasi.

Bloomberg adalah sosok yang sangat dekat dengan kalangan industri farmasi dunia. Padahal industri farmasi sangat getol mendukung kampanye anti-rokok. Mereka menawarkan produk-produk yang membantu orang untuk berhenti merokok. Pada 2008, mereka mencetak penjualan hingga tiga miliar dolar dan diprediksi akan terus meningkat di tahun-tahun setelahnya.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Ketua Komite Nasional Pelestarian Kretek

    You may also like

    Comments are closed.

    More in:REVIEW