OPINI

Sekilas Makna Ramadhan dan Idul Fitri Bagi Perokok

Saat berpuasa di bulan Ramadhan, bagi umat Islam tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan aktifitas merokok. Ternyata perokok pun bisa menahan diri dari aktifitas merokoknya sehari penuh. Ini menjadi bukti bahwa rokok bukan zat adiktif.

Yang terpenting  di bulan Ramadhan umat Islam dapat membelenggu nafsu dari sifat liarnya. Karena nafsu kunci aktifitas manusia.

Di hari hari biasa, sewajarnya nafsu sangat sulit terkotrol oleh diri sendiri. Dan justru lebih cenderung dikuasai setan. Akibatnya nafsu yang menggerakkan jiwa, pikiran dan raga cenderung  ke hal-hal yang negatif.

Makanya nafsu harus dikendalikan dan dikontrol, salah satunya dengan berpuasa. Dengan berpuasa (tanpa asupan gizi) nafsu akan melemah dengan sendirinya. Nafsu menjadi tidak sekuat  dibanding saat dapat asupan gizi (tidak dalam puasa). Tanpa asupan gizi, Ia akan menjadi lesu dan malas untuk melakukan aktifitas apapun, walaupun yang positifvsekalipun (seperti ibadah).

Makanya saat bulan Ramadhan diimbangi dengan pemberian pahala berlimpah, bagi orang yang berbuat kebaikan. Tidak hanya itu, tidurnya orang yang puasa di bulan Ramadhan tetap akan mendapatkan pahala. Pokoknya enak betul mencari pahala di bulan suci Ramadhan.

Ramadhan bulan berkah, bulan diturunkannya empat kitab suci, Taurat, Zabur, Injil kemudian disempurnakan al-Qur’an.

Ancaman bagi orang yang berpuasa, namun tidak melakukan ibadah wajib, maka puasanya sia-sia tanpa pahala, hanya merasakan lapar dan haus.

Kesepakatan ulama’ dalam kitab fiqih, yang dinamakan  asupan gizi tidak selamanya aktifitas makan dan minum, akan tetapi semua barang yang dimasukkan melalui lubang  dan bisa memberikan gairah atau semangat jasad dan nafsu. Seperti aktifitas suntik dengan jarum dan sejenisnya, sampai aktifitas merokokpun menjadi salah satu pemberi semangat.

Orang yang berpuasa memasukkan gizi termasuk merokok, dapat membatalkan puasa. Jika memasuknya barang tanpa sengaja, atau proses alami (seperti mandi) dan sangat kecil pengaruhnya, maka dihukumi makruh (tidak sampai membatalkan puasa).

Meninggalkan aktifitas merokok saat berpuasa bagi perokok, ternyata bukanlah hal yang memberatkan.  Karena memang rokok bukan barang yang tergolong candu. Merokok dan tidak merokok adalah pilihan, tidak bisa dipaksakan.

Saat waktunya kepingin merokok, ya merokok, disaat tidak ingin merokok pasti rokok ditinggalkan dengan sendirinya. Kegiatan merokok bagi masyarakat Indonesia sudah menjadi budaya  yang mengakar sejak duhulu.

Rokok pada dasarnya teman sejati yang dapat mengurai kejenuhan, kebuntuan pikir, teman mencari ide-ide kreatif, dan bahkan menjadi pelampiasan saat suntuk.

Walaupun demikian, saat puasa perokok  tetap diwajibkan meninggalkan aktifitas merokoknya dan merokok temasuk membatalkan puasa.  Jadi hanya boleh dilakuakan dimalam hari.

Setelah satu bulan penuh merokok dibatasi waktunya, datanglah bulan kemenangan bagi perokok, yaitu bulan sayywal, atau hari raya Idul Fitri. Di bulan ini awal kebebasan merokok lagi.

Di bulan ini juga, menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia untuk saling memaafkan satu sama lain. Budaya hari raya Idul Fitri di Indonesia dibarengi dengan makan ketupat. Yang dimaksud melebur semua “kelepatan” “kesalahan”.

Jadi hubungan dengan Tuhan sudah dilaksanakan slama bulan suci Ramadhan dengan berpuasa, kemudian dilanjutkan saling memaafkan di hari raya Idul fitri (hubungan dengan manusia), ditengah-tengahnya ada ibadah sosial yaitu membayar zakat.

Dengan demikian, manusia kembali bersih “fitroh”, bagaikan kertas baru putih kosong.  Setelah hari raya Idul Fitri ketas sudah siap dicorat coret lagi. Harusnya ketas dibiarkan bersih tanpa coretan, namun tidak mungkin bisa dilakukan, tetap kedepan manusia kembali mencorat coret lagi kertas baru tersebut. Maka berhati-hatilah kalau mau memberikan coetan. Caretan dianalogikan dengan amal perbuatan manusia.

Untuk itu hari raya Idul Fitri bukanlah bulan dengan pakaian serba baru, akan tetapi hari raya Idul Fitri bagi perokok merupakan bulan kemenangan dan kebebasan kembali aktifitas merokoknya, setelah selama satu bulan penuh berpuasa membelenggu nafsu gairah merokoknya. Ternyata bisa dan berhasil.

Menjadi bukti, kalau rokok bukan zat adiktif seperti halnya banyak tuduhan, kalau merokok tidak bisa ditinggalkan.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar …Walillahil Hamdu,  waktunya kemenangan dan kebebasan tiba, mohon maaf lahir dan batin atas semua kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

You may also like

Comments are closed.

More in:OPINI