REVIEW

Kiai Muntaha Bertemu Kiai NU Perokok Berat

kretek

Dalam lintasan sejarah pesantren, khususnya di pulau Madura, mengenal sosok KH Muntaha Jengkebuan Bangkalan atau juga dikenal dengan panggilan Ndoro Thaha adalah sangat penting. Sebab, beliau akan mempertemukan kita dengan cerita kiai-kiai lainnya, dari para penggerak Aswaja al-Nahdliyah (NU) dalam ruang gerak tradisi pesantren di sekitar Madura dan Nusantara pada umumnya.

Tapi, sayang sekali sosok Ndoro Thaha sangat sulit ditemukan jejaknya secara utuh. Yang ada hanyalah serpihan-serpihan cerita beliau yang ditulis oleh beberapa teman sejaringan Ulama Nusantara. Padahal, ketokohan Ndoro Thaha sulit disangsikan sebab beliau selalu hadir dalam setiap momen pertemuan akbar NU di awal perintisan dan perjuangan di kantor Hoofdbestuur NU Surabaya bersama KH M Hasyim Asyari, KH Abdul Wahab Chasbullah dan lain-lain.

Ndoro Thaha adalah mewakili poros Karesidenan Madura dalam setiap rapat NU dalam menyikapi problem kebangsaan dan keagamaan; tepatnya kontestasi ideologis dengan Wahabi. Dan tulisan ini, hanya coretan singkat tentang bukti kealiman beliau dalam lingkaran jejak ulama Nusantara dan bagaimana beliau berdakwah dalam lingkup tradisi lokal.

Kiai NU dan Rokok

rokok tahlil

Satu hal menarik dari Kiai NU adalah ketegasannya, sekaligus kelenturannya dalam menyikapi tradisi lokal. Begitu juga sosok Kiai Muntaha yang selalu sangat hati-hati dalam memberikan hukum dan dipandang allamah dalam menyikapi hukum tentang kebiasaan masyarakat lokal. Salah satunya pandangan beliau tentang kebiasaan merokok.

Menariknya, ngopi dan merokok adalah beberapa kebiasaan—selain pecel, sambel terong—para Kiai NU seperti KH Wahab Chasbullah, KH Mahrus Ali Lirboyo, KH Ihsan Dahlan Jampes, KH Ahmad Djazuli Ploso, Syekh Yasin Padang, KH Sahal Mahfudz, Habib Luthfi, dll.

Sebagaimana diceritakan menukil penjelasan KH Barizi Lanbulan Sampang dalam bukunya Fath al-Ilah al-Mannan, suatu ketika Kiai Muntaha pulang ke Sumenep dan kembali ke Bangkalan dengan naik kereta api, beliau sempat bertemu dengan seseorang yang duduk di dalam kereta api, persis di samping beliau.

Ketika itu, terjadilah dialog Kiai Muntaha dengan laki-laki itu, yang konon adalah santri asal Pamekasan, sebagaimana berikut, Kiai Muntaha mengawali dialog:

Kiai Muntaha: Monggo rokok kang Mas?

Santri: Terima kasih pak rokoknya. Saya tidak terbiasa merokok.

Kiai Muntaha: Kenapa anda tidak merokok? Apakah karena dokter atau karena hukum syar’i?

Santri: Saya ini orang awam. Tapi jika ingin tahu tentang hukum merokok, aku akan bertanya kepada Kiai Muntaha dari Jengkebuen Bangkalan, sebab beliau dikenal sebagai ulama allamah yang paham betul hukum merokok (dia tidak tahu kalau lawan bicaranya adalah Kiai Muntaha)

Kiai Muntaha: Saya adalah Muntaha sebagaimana anda kenal.

Tanpa berpikir panjang (sambil menutupi rasa malu), santri Pamekasan yang duduk berdampingan seraya bersalaman penuh hormat sebagaimana menjadi tradisi santri pesantren dan terdiam membisu.

Lantas Kiai Muntaha berkata: jika orang terbiasa merokok, maka ia tidak akan berhenti dari merokoknya kecuali jika ada salah satu dari tiga hal, yakni mendapat taufiq atau pertolongan dari Allah Swt, disebabkan sakit, dan bersumpah untuk tidak merokok lagi.

Jadi, dari dialog Kiai Muntaha dengan santri Pamekasan menunjukkan bahwa Kiai Muntaha adalah perokok, sekaligus beliau tetap sadar untuk memberikan tips-tips agar terhindar dari rokok, dengan kesadaran tanpa paksa. Baginya membagi ilmu adalah keniscayaan. Sementara hukum merokok tidak tunggal.

Dialog di atas juga menunjukkan bahwa masyarakat Madura sangat menghormati kiai. Bahkan posisi kiai selàlu dijadikan bimbingan dan rujukan dalam berkehidupan, khususnya dalam urusan agama sebab mereka sangat dekat dengan kultur religius.

Jika kemudian ada pergeseran sikap sebagian masyarakat Madura terhadap kiai, maka sangat mungkin adanya faktor eksternal yang merubah mental, bisa jadi karena fanatisme pilihan politik atau karena efek berada di era post truth dengan warna-warni fasilitas medsos.

Akhirnya, perokok adalah manusia sebagaimana yang lain. Dan dari Kiai Muntaha kita diajari untuk peduli pada sesama, termasuk tetap santai dan penuh tawadhu’. Dengan begitu kita merasa tidak ada jarak, sekalipun status sosial berbeda sehingga komunikasi dakwah dengan orang lain bisa cair dan penuh berkah. Semoga. Amin.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
Wasid Mansyur
Wakil Ketua PW LTN NU Jawa Timur

    Comments are closed.

    More in:REVIEW

    Next Article:

    0 %