OPINI

Nikotin Melawan Covid-19

covid

Banyak penelitian yang mengungkap nikotin mampu melawan virus covid-19. Ini menjadi harapan bagi masyarakat dunia.

Beberapa hari ini ramai beredar di group whatsapp sebuah video tahun 2020 berdurasi 3 menit dari salah satu channel berita, NTV atau Nusantara TV. Saya coba mencari versi lengkapnya di youtube, ternyata masih ada di channel NTV dengan durasi yang lebih lama 2 menit dari yang disebarkan via grup whatsapp. Silahkan disimak sendiri di sini.

Kalian pasti sering mendengar narasi seperti ini; “Perokok itu orang yang dengan risiko tinggi terinfeksi virus corona jenis baru.” Belum lagi kalau ada tambahan embel-embel; “menurut sebuah penelitian dalam Chinese Medical Journal, kelompok perokok ini biasanya menderita bentuk penyakit yang lebih parah dan lama, yang kemudian menyebabkan COVID-19, dibanding kelompok yang bukan perokok. Mereka juga lebih sering meninggal dunia karenanya.” Serem dan pas pokoknya kalau narasi itu muncul di tengah badai pandemi seperti sekarang. 

Namun, narasi itu berbanding terbalik dengan video yang saya sebut tadi. Dalam video itu, para peneliti Prancis yang dipimpin oleh Jean-Pierre Changeux, seorang ahli saraf di Institut Pasteur, menduga bahwa plester nikotin mampu membantu mencegah infeksi virus corona. Mereka telah menerbitkan hipotesis ini di portal sains Qeios. 

Kesimpulan ini mereka dapatkan karena data yang mereka miliki berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Cina, yang menunjukkan bahwa tampaknya hanya ada sedikit perokok yang menjadi pasien COVID-19.

Para peneliti ini mengamati sekitar 500 pasien COVID-19, dengan 350 di antaranya telah dirawat oleh rumah sakit dan 150 lainnya merupakan pasien dengan perkembangan penyakit ringan. “Hanya 5% perokok,” kata kepala penelitian yang juga merupakan seorang profesor penyakit dalam, Zahir Amoura, kepada kantor berita AFP.

Ini berarti jumlah perokok di antara pasien COVID-19, 80% lebih sedikit dibanding populasi umum dengan kelompok usia dan gender yang sama.

Tidak hanya Prancis semata yang meneliti soal ini, negara seperti Tiongkok, Israel dan Italy turut membagikan hasil penelitian mengenai keampuhan nikotin dalam melawan virus corona. (selengkapnya)

Kalau dipikir, masalah rokok dan nikotin ini selalu muncul mendadak di situasi yang tidak diduga. Sedikit melihat kebelakang, Anda mungkin pernah membaca soal U.S. Congress pada tahun 1990 yang menyatakan nikotin membuat tubuh merasa relaks, lebih energik dan bersemangat. Efek ini biasanya dikenal sebagai biphase effect. Nikotin akan diserap tubuh (darah), diiringi dengan pelepasan adrenalin dan penghambatan beberapa hormon.

covid

Lalu ada juga penelitian tentang tembakau menjadi elemen yang dikembangkan untuk menangkal virus Ebola. Beberapa penelitian di beberapa negara menunjukkan fakta yang mengejutkan. Salah satu penelitian yang dilakukan The Scripps Research Institute, sebagaimana dikutip oleh Reuters menunjukkan bahwa tembakau merupakan salah satu bahan dasar yang baik untuk memperkuat sistem antibodi. Obat berbahan baku tembakau yang dikembangkan adalah ZMapp.

Belum lagi soal tembakau yang menghasilkan protein anti kanker,  obat diabetes dan antibodi,  obat HIV/AIDS. Kalau dilihat, nikotin di dalam tembakau ini muncul di banyak persoalan kesehatan, dan munculnya pun sebagai alternatif solusi, bisa dibilang “menolong” saat terjadi krisis atau bencana di dunia kesehatan. 

Ah, tapi itu tadi mungkin bagi sebagian orang hanya subjektivitas saya sebagai perokok. Perokok kan selalu denial, membela diri dan tidak mau disalahkan. Gimana, sering dengar kata-kata itu?

Saya seharusnya tidak seserius ini membuat tulisan untuk bolehmerokok.com. Anda tahu kan, tulisan receh adalah jalan ninja saya? Tapi entah karena efek setelah selesai vaksin, atau saya bangun kepagian hari ini, rasanya semangat sekali mengetahui bahwa masih ada orang yang terus menggali manfaat baik tembakau. Dan semoga semakin banyak penelitian yang dibuat untuk mencari manfaat positif tembakau. Amin.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Lelaki yang Mencintai Banyak Hal

    Comments are closed.

    More in:OPINI

    Next Article:

    0 %