OPINI

Merokok Tetap Kaya dan “Perokok Pasif” Tetap Sehat

merokok tetap kaya

Merokok tetap kaya, bukan bualan semata!

Minggu lalu, saya kembali berkunjung ke Rembang, sebuah kota kecil di Jawa Tengah bagian timur. Tidak dalam rangka piknik atau sejenisnya, kebetulan dapat tugas sebagai supir yang harus mengantar-jemput dengan rute Jogja-Rembang PP. Walaupun PPKM, tetap saya trabas bermodalkan sertifikat vaksin dan surat SWAB dengan hasil negatif.

Bukan bermaksud melanggar, tapi kondisi keuangan mengharuskan saya untuk bisa mencari celah rejeki sekecil apapun. Kan belajar dari pemerintah; harus bisa survive!

Selama 3 hari 2 malam di Rembang, saya menghabiskan waktu hanya mandi dan istirahat di hotel, ke rumah tamu saya apabila diperlukan, mengantar tamu, keliling kota Rembang selesai bekerja, lalu kembali lagi ke hotel.

Tapi di hari kedua saya sore itu, saya iseng mampir di salah satu warung kopi dekat alun-alun Kota Rembang, tidak sengaja saya menemukan warung tersebut, karena kebetulan mampir di Indomaret yang bersebelahan dengan warung kopi itu, sore itu saya tidak ada jadwal ke mana-mana dengan tamu saya. Daripada langsung pulang ke hotel lalu menghabiskan waktu di kamar, saya putuskan untuk mampir dan mencicipi kopi lelet khas Rembang.

Suasana warungnya biasa saja, kalau anda tinggal di Jogja, bayangkan saja warung burjo berukuran 10 meter dengan kursi dan meja kayu hasil bikinan pemilik warung; reot enggak, kokoh juga enggak. Atau lebih gampangnya, ruang tamu rumah yang disulap jadi warung kopi kaki lima berkapasitas 8-10 orang.

Saat saya masuk, sudah ada 3 pengunjung yang sedang asyik ngobrol dengan 1 orang lagi, si pemilik warung. Karena bentuk meja warung seperti huruf L dan berhadapan langsung dengan penjual serta pembeli yang lain, otomatis saya mendengar apa pembicaraan mereka, dan mau tidak mau saya akhirnya terlibat obrolan, daripada bengong, mati gaya.

Ternyata obrolan yang saya ikuti sudah berada di tengah-tengah, alias saya sudah ketinggalan awal pembicaraannya seperti apa. Tapi dari yang saya tangkap, ada 2 hal penting yang mereka bahas dan sedikit menjadi perdebatan; merokok bikin kere/miskin dan perokok pasif akan sangat dirugikan oleh perokok. Padahal, mereka berempat ini semuanya merokok. Ini menarik, dan pelan-pelan saya mencair dengan obrolan mereka berempat.

Setelah menyeruput kopi hitam, menghabiskan sebatang Djarum Super, saya memesan sebotol air mineral biasa, membakar sebatang rokok kretek lagi, lalu memulai pembicaraan dengan memberikan pendapat saya. Ini standar, mencair dengan obrolan orang asing sering kita temui di warung kopi, angkringan atau warung nongkrong kaki lima yang lain. Itu sah saja, selama tetap menjaga kesantunan, ga asal njeplak.

Kira-kira seperti ini kalimat yang saya ucapkan kepada mereka berempat; Pertama, soal merokok itu memiskinkan. Pernyataan bahwa bila orang miskin tak merokok, akan dapat keluar dari garis kemiskinan telah mengacaukan informasi kepada publik akan persoalan sebenarnya dari kemiskinan. Terlebih jika informasi itu ditulis oleh para jurnalis dari media ternama, yang mempunyai tugas menyampaikan informasi dengan cermat kepada publik.


Baca: Rokok Memang Penyebab Kemiskinan


Tidak mengeluarkan anggaran untuk beli rokok bukan berarti bisa menghemat biaya. Kebutuhan yang lain tetap banyak, jadi tidak serta merta akan ditabung. Tidak ada jaminan jika tidak belanja rokok uangnya akan ditabung, tidak menjamin bisa dipakai untuk nyekolahin anak.

Perlu diingat kalau kebutuhan masyarakat itu banyak. Bukan cuma soal beli rokok yang buat mereka nggak mampu beli mobil atau rumah mereka.

Dalam hal seperti ini, kita perlu adil dalam melihat berbagai keperluan masyarakat. Karena, hidup tidak se matematis itu, hidup tidak juga melulu soal logika.

Belum lagi soal masalah korupsi dari level atas sampai bawah, masalah upah yang murah, sistem kerja kontrak, masalah akses terhadap pendidikan, pembangunan yang tak merata, masalah kesempatan kerja yang sempit, ditambah mafia yang hidup nyaman dari kerja orang lain, penggusuran, lahan pertanian atau sumber daya alam yang semakin habis, dll.

Jadi, menyebut rokok itu sebagai faktor penyebab kemiskinan tidaklah tepat. Itu seperti “simplifikasi” dan penyederhanaan pola pikir yang mudah disampaikan dan mudah dipercaya oleh sebagian besar masyarakat di negara ini. Dan bagi saya itu sangat tidak adil.

Topik kedua yang jadi perbincangan sore itu adalah perokok pasif. 

Pertama, penelitian tentang rokok tidak pernah berimbang. Selain tidak pernah membicarakan hal positif tentang rokok, penelitian yang biasa dijadikan bahan kampanye antirokok tidak pernah diperbarui. Padahal, ada beberapa penelitian tentang rokok yang selain sudah tidak relevan, juga tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Penelitian soal perokok pasif, misalnya. Selama ini isu perokok pasif selalu dijadikan alat perang garda utama bagi antirokok. Mereka selalu menggunakan mitos-mitos, yang didukung dengan penelitian lama yang sudah tidak relevan.

Penelitian yang dilakukan oleh Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat pada tahun 1992, misalnya. Mereka menyamakan perokok pasif dengan perokok aktif. Dalam asumsinya, karena ada hubungan antara perokok aktif dan kanker paru-paru, maka juga harus ada hubungan sama antara perokok pasif dan kanker paru-paru.


Baca: Industri Rokok Kecil: Berkembang Tak Boleh, Matipun Tak Boleh


Dengan asumsi tersebut, mereka mengklaim perkara Perokok Pasif merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, yang membunuh sekitar 3.000 non perokok Amerika setiap tahun akibat kanker paru-paru. Dan laporan ini kemudian digunakan oleh gerakan pengendalian tembakau dan lembaga pemerintah, termasuk departemen kesehatan masyarakat, untuk membenarkan hal ini dan menaruh ribuan larangan merokok dalam ruangan di tempat umum.

Namun kemudian asumsi itu telah dibantah sejak lama juga. Pada tahun 1995, penelitian tersebut dibantah oleh Congressional Research Service di amerika serikat. Lembaga ini menganalisis secara kritis dan mendalam penelitian soal ancaman kesehatan bagi perokok pasif yang dipublikasikan oleh Badan Perlindungan Lingkungan.

Laporan tersebut dibantah setelah Congressional Research Service (CRS) melakukan studi selama 20 bulan. Bulan November 1995, CRS merilis analisis rinci laporan yang sangat kritis terhadap metode dan kesimpulan EPA. Tahun 1998, hakim federal kemudian menyatakan hal itu batal dan tidak berlaku. Satu poin buruk penelitian soal rokok mulai diungkap.

Kemudian, pada tahun 2003, dalam British Medical Journal dirilis sebuah makalah definitif tentang perokok pasif dan kematian akibat kanker paru. Dalam laporan ini, para penulis mempelajari sekitar 35.000 orang orang California tidak pernah merokok selama 39 tahun dan tidak menemukan hubungan statistik yang signifikan antara paparan perokok pasif dan kematian kanker paru-paru.


Baca: Menjadi Miskin karena Merokok?


Kebanyakan masyarakat kita memang belum adil dalam menyikapi persoalan rokok dan perokok. Ditambah lagi, produksi opini dan wacana berlabel stigma negatif terus digulirkan oleh pihak antirokok dan media arus mainstream pendukungnya, yang tentunya makin menyesakkan isi kepala masyarakat kita untuk semakin berlaku tidak adil terhadap rokok dan perokok.

Tapi, soal menghargai orang yang tidak merokok itu perlu, dan penting. Mungkin mirip seperti situasi pandemi Covid ini, tetap jaga jarak, dan ada area-area khusus yang bisa digunakan oleh perokok agar tidak mengganggu mereka yang tidak merokok supaya tidak perlu ada kalimat; perokok aktif sangat diuntungkan dan perokok pasif selalu dirugikan. Menyebalkan sekali.

Kadang, yang mendatangkan manfaat, belum tentu disukai banyak orang. Rokok kretek misalnya. Bahwa rokok kretek adalah salah satu penyumbang terbesar kas negara sejak awal kemerdekaan, banyak yang sepakat, bahwa perokok dengan pajak konsumsinya selalu menyumbang besar ke kas Negara, semua juga sepakat. Meski banyak mendapatkan manfaat, namun tetap saja rokok dan perokok dihujat maupun disudutkan banyak orang.

Sayup-sayup suara orang mengaji di masjid mulai terdengar, karena sebentar lagi sudah masuk waktu maghrib di kota Rembang. Saya sebenarnya malas menjelaskan panjang lebar seperti itu kepada mereka, tapi perlu juga untuk mengedukasi ke masyarakat tentang pemahaman-pemahaman yang kadang salah terima karena framing kampanye yang menurut saya pribadi sudah sangat salah.

Contohnya soal rokok memiskinkan dan perokok pasif tadi.

Ya, walaupun saya tidak pernah berhadapan langsung dengan antirokok di media sosial, mungkin dengan membuka obrolan kecil seperti yang terjadi di warung kopi tadi sudah cukup untuk disebut kampanye kecil soal kesadaran sebagai perokok yang bertanggung jawab, dan bukan yang merugikan seperti kata anti rokok. Walaupun aktivis antirokok sepertinya tidak peduli juga dengan hal-hal semacam ini. Bangke juga kalau dipikir mereka itu.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Lelaki yang Mencintai Banyak Hal

    Comments are closed.

    More in:OPINI