OPINI

Rokok Digoreng Antirokok di Atas Wajan Pandemi Covid-19

digoreng antirokok
Beberapa hari lalu saya agak kaget melihat akun twitter @laporcovid yang sudah centang biru itu tiba-tiba mengunggah sebuah poster dan cuitan yang mengatakan “Saat ini banyak pasien Covid-19 mengalami sesak nafas. Mirisnya, masih saja banyak yang sengaja merusak organ pernafasan dirinya dan orang lain dengan merokok. Ayo berhenti merokok! ” dan lengkap dengan tagar #RokokPerparahPandemi #RokokRisikoPandemi #TerjebakDuaPandemi.


Sepersekian detik saturasi emosi saya mendadak berwarna merah cerah. Bagaimana tidak, sudah susah-susah saya berusaha menularkan kepada perokok di sekitar saya  tentang adab merokok yang benar dan bagaimana menghormati orang yang tidak merokok, tiba-tiba ada cuitan yang isinya seperti itu.

Dalam pikiran saya, apa mereka sudah melakukan penelitian, atau hanya menghubung-hubungkan saja teori seperti itu, karena rokok berurusan dengan organ dalam yang bernama Paru-paru, dan secara kebetulan Covid-19 juga berurusan dengan organ dalam tersebut.

Tapi setelah melihat di dalam posternya ada nama Suara Tanpa Rokok (STR), saturasi emosi saya akhirnya kembali berwarna biru muda yang menenangkan. Saya tahu siapa STR.cs dan bagaimana kekonyolan kampanye antirokok mereka selama ini. Tidak usah dragukan, mereka akan cari celah sekecil apapun untuk menelurkan narasi-narasi kampanye antirokok. Parahnya, mereka selalu menyamaratakan perokok itu semuanya buruk.

Mereka yang berpandangan bahwa merokok adalah kebiasan yang buruk dan rokok adalah barang yang membunuh, biasanya kekeuh dengan pandangannya. Meskipun sangat banyak orang yang berpandangan demikian, faktanya mereka adalah orang yang tidak yakin dengan pandangannya. Tidak sulit untuk membuktikannya.

Tunjukkan saja fakta penelitian di Kanada dan Prancis, bagaimana penelitian tentang plester nikotin yang mampu mencegah Covid-19. Bahkan di Kanada saat ini penelitian tentang nikotin sebagai pencegah Covid-19 sudah masuk fase ke-3. Itu kalau mau bicara soal Covid-19. Secara cepat mereka yang berpandangan merokok itu buruk akan merevisi pandangannya.

Merevisi bukan berarti pandangannya langsung pudar. Karena tentu saja anggapan bahaya rokok telah melekat. Barangkali lebih tepatnya akan mengelak. Mengelak bahwa bukan hanya rokok yang mempengaruhi usia dan kesehatan seseorang, ada faktor gaya hidup, polusi, dan lain-lain. Tetapi argumentasi ini justru menegasikan, pandangannya sendiri.

Namun bila bertemu dengan orang berusia muda yang merokok, pandangan yang sama akan menguat kembali. Bisa jadi justru akan menyalahkan, dan menyuruhnya untuk meninggalkan kebiasaan merokok. Tetapi kalau melihat orang berusia lanjut yang merokok dan tetap sehat, ia kembali merevisi pendapatnya.

Kebiasaan mengkonsumsi tembakau di Indonesia sudah sangat lazim, mulai dari penggunaannya untuk konsumsi sehari-hari sampai pada penggunaannya untuk acara adat. Dan kebiasaan merokok pun bukan hal yang baru.

Di Film “Mereka Yang Melampaui Waktu” itu hanya menggambarkan sedikit dari sekian banyak orang-orang yang merokok sampai usia tua, dan tetap sehat.

Ini artinya, pandangan dan stigma bahwa kebiasan merokok adalah kebiasan paling buruk yang bisa membunuh, tentu saja kurang benar. Sebagai hasil kajian keilmuan mereka  kurang benar secara empiris.

Sebagai pandangan mereka kurang benar karena menutup mata dan terlalu menghakimi. Tapi celakanya, inilah yang sedang terjadi di lingkungan sosial kita. Mereka tentu tidak salah, mereka juga korban dari fasisme pengetahuan.

Kembali ke soal cuitan @laporcovid, sebagai warga negara digital yang baik, saya pribadi tidak pernah bermasalah dengan akun tersebut, terlebih di kondisi sekarang, informasi yang mereka berikan sangat membantu sekali bagi warganet yang terdampak pandemi.

Tapi, kembali lagi ke soal kampanye titipan dari STR kepada @laporcovid, kesannya memaksakan sekali, memanfaatkan celah dengan sangat jeli, sehingga dengan mudah STR melakukan kampanye tanpa harus bersusah payah atau bahkan mengirit anggaran.

Cuitan @laporcovid itu juga menimbulkan banyak reaksi di kolom balasannya. Banyak yang berpendapat bahwa @laporcovid fokus saja ke soal informasi pandemi tanpa harus ikut-ikutan kampanye.

Terakhir, saya agak penasaran, dalam Somasi Terbuka kepada Bapak Presiden, Kemenkes dan Kemendag yang diinisasi oleh beberapa organisasi/lembaga/aliansi masyarakat seperti LBHI dan @laporcovid beberapa di 25 Juli kemarin, kenapa tidak ada nama-nama organisasi antirokok seperti STR, Keren Tanpa Rokok atau bahkan YLKI? Padahal kan STR baru saja kampanye bahaya rokok bersama @laporcovid? Saya jadi berasumsi macam-macam kalau begini. Menurut kalian kenapa?
Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Lelaki yang Mencintai Banyak Hal

    Comments are closed.

    More in:OPINI