OPINI

Rokok Penyebab Penyakit Pernapasan?

rokok penyebab sakit pernafasan

Rokok selalu menjadi kambing hitam atas berbagai penyakit pernapasan, terutama kanker paru. Hal ini dikarenakan kesepakatan dalam dunia kesehatan yang mendaulat rokok sebagai faktor tunggal atas penyebab penyakit tersebut, ditambah lagi framing media dan kampanye kelompok antirokok yang terus-menerus membuat stigma demikian.

Padahal berbagai faktor penyebab penyakit pernapasan selalu mengintai keseharian kita. Salah satunya adalah polusi udara dan paparan zat kimia lainnya. Fakta ini menjadi bias ketika rokok dikambing hitamkan atas persoalan penyakit pernapasan, akibatnya kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita sangat dekat dengan faktor penyebab lainnya.

Polusi Udara 

Polusi udara kota ternyata tidak cuma berdampak pada pernapasan. Polusi udara ‘tersembunyi’ di dalam kantor atau rumah kita. Pakar kesehatan memperingatkan kualitas udara akibat asap kebakaran hutan, pembakaran batubara menghasilkan PM2,5 yang sangat kecil untuk dilihat, karena ukurannya yang sekitar 30 kali lebih kecil dari lebar sehelai rambut manusia. 

Namun sesungguhnya partikel ini cukup berat. PM2,5 berbobot sekitar 2.500 nanometer (nm), sementara nanopartikel dihitung memiliki berat 100nm ke bawah.

Zat pembunuh yang lebih ampuh tidak pernah disebut-sebut, tidak diregulasi, bahkan diperbincangkan oleh orang-orang di luar lingkaran ilmuwan tertentu: ia adalah nanopartikel. PM2,5 dan PM10 (10.000 nm) adalah partikel yang bisa menyebabkan penyakit paru-paru dan pernapasan. Sementara nanopartikel bisa mencapai, dan merusak, nyaris seluruh organ di dalam tubuh kita.

Penelitian mengenai polusi udara sudah pernah dilakukan oleh tim dari Universitas Rochester New York dan Institut Kesehatan Publik Nasional Finlandia.


Baca: Paradigma Ramah Lingkungan


 Saat para relawan menyusuri trotoar, mereka terpapar pada minimal 36.000 sampai 130.000 partikel pada waktu yang sama. Ketika mereka mengambil rute sama dengan sepeda, angka maksimal dan minimal itu melonjak naik hingga 20.000.

Menariknya, jumlah rata-rata partikel polutan tertinggi tercatat ada di dalam mobil dan bus: semakin dekat kita dengan sumber polusi, atau dengan pipa knalpot yang mengeluarkan asap emisi, semakin tinggi pula jumlah nanopartikel.

Perbedaan paparan bila kita berjalan di trotoar yang sama, yang satu di sisi yang dekat dengan jalan dan yang satu di sisi yang dekat dengan gedung — meski hanya berjarak beberapa langkah saja — rata-rata sebanyak 82.000 dan 69.000 partikel. Tidak ada perbedaan di alat pengukur PM2,

Polusi udara mengintai kita setiap hari, terutama di perkotaan. Platform kualitas udara iqair.com merilis sejumlah kualitas udara di beberapa kota besar di dunia. Hasilnya DKI Jakarta dinobatkan sebagai kota keempat dengan kualitas udara terburuk di dunia. 

Urutan pertama dengan indeks kualitas udara/air quality indeks (AQI) tertinggi adalah New Delhi India dengan nilai AQI di angka 177, disusul Wuhan China dengan nilai AQI 153. Urutan ketiga terdapat Beijing dengan nilai AQI sebanyak 153, dan DKI Jakarta dengan nilai AQI 152. Indeks AQI Jakarta dengan nilai 152 tersebut dikategorikan sebagai kategori tidak sehat dengan polutan utama PM 2.5.

Air Quality Life index (AQLI) memperkirakan bahwa harapan hidup warga Jakarta akan berkurang sekitar 5,5 tahun akibat polusi udara. Peringatan itu menurut Kenneth Lee, Direktur AQLI dari Universitas Chicago seharusnya membuat pemerintah sadar akan berbahayanya polusi udara dan segera membuat kebijakan yang tepat.

Zat Kimia Lainnya yang Terdapat Di Sekeliling

Karena rokok terus-menerus diberitakan sebagai faktor utama penyebab kanker paru, kita menjadi tidak sadar bahwa di sekeliling kita terdapat faktor risiko lainnya penyebab penyakit pernapasan seperti kanker paru. Paparan zat kimia yang bersentuhan dengan keseharian kita, tak pernah kita hitung sebagai faktor penyebab kanker paru.

Beberapa jenis pekerjaan yang berkaitan dengan zat kimia punya risiko terkena kanker paru. Terdapat beberapa jenis zat kimia yang bersifat karsinogenik antara lain, radon, asbes, arsenik, senyawa nikel, produk batubara, limbah diesel serta eter chloromethyl.

Zat-zat kimia tersebut bisa bercampur dengan udara yang dihirup. Zat sulit dideteksi karena tak memiliki bau dan rasa. Selain di tempat kerja, zat-zat kimia ini bisa saja ditemukan di rumah, misal pada perabot rumah tangga.


Baca: Asap Tembakau dalam Tiga Narasi Kebersahajaan


Paparan radon di rumah, misalnya, salah satu yang jarang sekali diketahui oleh banyak orang. Apa itu radon? Menurut dr. Achmad Hudoyo, SpP(K), radon adalah zat radioaktif dari tanah, uranium yang ada di tanah yang memancar ke permukaan. Zat ini tidak berbau, tidak berwarna, dan hambar. Radon sulit dideteksi dan Anda bisa terpapar tanpa menyadarinya.

Radon yang juga merupakan gas yang paling berat dan berbahaya bagi kesehatan, unsur kimia dengan nomor atom 86 yang dalam ilmu kimia diberi lambang Rn.

Berdasarkan data diatas, maka sangat jelas bahwa rokok tidak bisa dikatakan sebagai faktor utama penyakit pernapasan. Lalu mengapa selalu rokok yang disebut-sebut sebagai penyebab penyebab utamanya? Sehingga seakan-akan hanya rokok satu-satunya faktor seseorang mengidap penyakit pernapasan. 

Untuk memahami hal ini tentunya kita harus mengetahui bahwa terdapat perang bisnis nikotin antara industri kesehatan dan industri rokok, atau yang sering kami sebut sebagai “Nicotin War”.

Maka Anda tak usah heran jika rokok diframing bertentangan dengan kesehatan, karena semua semata hanyalah akal-akalan pihak industri kesehatan untuk memenangi pertarungan bisnis nikotin tersebut.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Ketua Komite Nasional Pelestarian Kretek

    Comments are closed.

    More in:OPINI