OPINIREVIEW

Mempertanyakan Nasionalisme dan Patriotisme Anies Baswedan

mempertanyakan nasionalisme anies

Mempertanyakan Nasionalisme dan Patriotisme Anies Baswedan

Terbongkarnya Surat Gubernur DKI Anies Baswedan kepada Bloomberg tanggal 4 Juli 2019 tentang ucapan terima kasih dan permintaan kerjasama berkelanjutan, kemudian munculnya Sergub No. 8 Tahun 2021 satu rentetan bentuk memusuhi saudara sendiri secara terang-terangan.

Bloomberg adalah orang kaya Amerika yang bertujuan memerangi salah satu basis ekonomi bangsa Indonesia, yaitu sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Yang dimaksud IHT tak lain ada kaum perokok, petani tembakau, petani cengkeh, buruh tani, pabrik rokok kretek, buruh pabrik rokok dan pedagang kecil maupun besar.  

Sektor IHT adalah rakyat yang sangat patuh pada negara, paling taat bayar pajak, bahkan aktivitas mereka selama ini tidak menggantungkan pada pemerintah dan lebih mandiri. Sistem ekonomi yang terbangun dari mereka adalah kemandirian dan berdaulat. 

Apa yang mereka lakukan tak lain adalah warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Mereka itu, tidak melakukan hal yang baru. Mereka hanyalah penjaga tradisi budaya orang-orang terdahulu. 

Satu-satunya, sektor yang memperkuat ekonomi bangsa ini sejak penjajahan hingga sekarang tidak lain hanyalah produk rokok kretek. Bahkan banyak ekonom mengatakan, produk rokok kretek sangat tahan guncangan krisis moneter, buktinya eksistensinya dari dulu hingga sekarang masih terlihat, dan tetap sebagai sumber pendapatan kas Negara. 

Bicara masalah sejarahnya, tumbuhan tembakau di Indonesia sudah ada sejak dulu. Kalau ada yang mengatakan tumbuhan tembakau bukan asli tanaman nusantara, sah-sah saja. Perlu dimengerti sejak jaman kewalian tumbuhan tembakau di bumi nusantara ini sudah ada dan dikenal. 

Bahkan ceritanya, dahulu tembakau sebagai bahan dasar obat oleh Kyai Ageng Makukuhan seorang ulama’ dan tabib asal Tionghoa, yang kemudian keilmuannya diturunkan ke putranya. Cerita tembakau yang beredar di masyarakat Temanggung asal dari kata “tomboku”.  

Baik bapak (Kyai Ageng Makukuhan ) dan anak mendapatkan nama julukan kebesaran “Sunan Kedu”. Kedu adalah wilayah yang berada di Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Jadi nama “Sunan Kedu” adalah nama laqab atau julukan lain untuk Kiai Ageng Makukuhan dan putranya.  

Kyai Ageng Makukuhan dimakamkan di pemakaman umum daerah kecamatan Kedu Temanggung, sedangkan putranya dimakamkan di Desa Gribig Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus. 

Selain jaman kewalian, banyak informasi baik narasi atau foto para bangsawan Indonesia ini dari masa kerajaan hingga menjadi negara kesatuan, bahkan sampai zaman Presiden Soeharto terlihat aktivitas merokok. 

Para raja Jawa sampai abdi dalemnya merokok, Presiden pertama Ir. Soekarno merokok, KH. Agus Salim, Kyai AR Fachruddin tokoh Muhammadiyah, Presiden kedua Soeharto juga terlihat merokok. 

Tak hanya itu, para Kiai dahulu sumber ekonominya dari berdagang tembakau dan cengkeh. Bahkan ada seorang Kiai yang bernama KH. Hasan Mangli dari Magelang, tiap lawatan pengajian ke daerah Jepara dan Kudus selalu membawa bibit cengkeh untuk ditanam.

Kyai Sya’roni Ahmadi Kudus seorang mufassir al-Quran, juga ahli qiro’ah sab’ah ( 7 dialek al-quran), dari kecil hingga dewasa mewarisi perdagangan tembakau dari bapaknya. Tiap orang datang menanyakan hukum merokok, ia memberikan kitab “irsyadul Ikhwan” karya Syekh Ihsan Jampes Kediri yang telah dibubuhi tanda tangannya sebagai bentuk pertanggungjawaban KH. Sya’roni Ahmadi bahwa kitab ini bisa sebagai rujukan. Dan juga KH. Sya’roni Ahmadi menceritakan keputusan hasil musyawarah Ulama’ yang dipimpin KH. Turaichan Adjhuri, bahwa merokok itu hukumnya bisa makruh, haram bahkan bisa wajib sesuai kebutuhan. 

Kyai Turaichan Adjhuri asal Kudus ahli dalam bidang falak (perbintangan) dan fikih dalam memutuskan hukum rokok ada yang wajib. Saat itu ada seorang Ulama’ bernama KH. Hambali bertanya kepada KH. Turaichan Adjhuri “Kiai saya tidak bisa mengajar kalau tidak merokok, bagaimana?”. KH. Turaichan Adjhuri menjawab “wajib merokok”. Keadaan ini dalam forum Bahtsul Masail Diniyah di Masjid al-Aqsa Menara Kudus.

Ini membuktikan, bahwa orang-orang terdahulu mulai dari zaman kewalian, Sunan, Bangsawan Keraton/Kerajaan, pejabat pemerintahan hingga para Ulama’ mempunyai budaya dan kebiasaan merokok dari bahan tembakau, yang mempunyai tujuan untuk pengobatan, rekreasi, relaksasi bahkan sampai meningkatkan daya semangat. 

Pada abad 18 seorang anak bangsa bernama H. Djamhari melakukan inovasi konten rokok dicampur dengan cengkeh. Hasilnya sangat memuaskan dirinya sendiri, kerabat dan temannya, bisa menyembuhkan derita sakit bengek. 

Kemudian, temuan tersebut diproduksi massal oleh Niti Semito menjadi pabrikan besar dan terkenal seantero dunia. Bahkan menjadi sektor ekonomi yang sangat strategis. Dimana masa penjajahan semua pabrikan skala kecil dan besar hancur dan tumbang, terkecuali pabrikan rokok kretek. Kemudian menjadi donatur tetap untuk perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan dari kaum penjajah. Jadi sudah sewajarnya Nitisemito banyak disebut dalam pidato dan tulisan Ir. Soekarno sang proklamator.          

Hal ini membuktikan bahwa keberadaan rokok kretek di Indonesia mempunyai akar kuat dari lini budaya/tradis hingga kini sebagai kekuatan ekonomi bangsa Indonesia. Jadi bisnis rokok kretek adalah satu-satunya cerminan kedaulatan ekonomi bangsa yang tangguh dan kuat. 

Menjadi rancu disaat seorang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berkolaborasi dan meminta bekerjasama dengan asing (Bloomberg), untuk memerangi basis budaya sendiri yang mempunyai basis kekuatan ekonomi bangsa Indonesia. Hal ini, apa yang menjadi pembeda dengan anak bangsa yang membantu penjajah Belanda?.  

Keadaan ini, juga harus dimengerti oleh para pejabat-pejabat lain di Indonesia, bahkan sampai Presiden sekalipun. Jangan sampai sebagai anak bangsa membunuh rakyatnya sendiri, membunuh saudara sebangsa dan setanah air, apalagi bekerjasama atau meminta bantuan asing.    

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

Comments are closed.

More in:OPINI