RagamREVIEW

Cengkeh Tanaman Pusaka Nusantara Asal Maluku

cengkeh tanaman pusaka

Tanaman cengkeh di Maluku dalam sejarahnya bukan sekedar barang dagangan. Ia telah menjelma menjadi bagian keseluruhan dalam kehidupan masyarakat Maluku. Ia juga menjadi satu-satunya tanaman warisan nenek moyang, yang wajib dijaga dan dilestarikan. 

Di beberapa tempat, seperti di Negeri Haruku ada banyak aturan adat setempat dalam memperlakukan tanaman cengkeh. Misal, larangan bagi semua penduduk Negeri Haruku tanpa terkecuali dalam beraktifitas yang membuat kebisingan atau kegaduhan selama bunga tanaman cengkeh mulai muncul dan berkembang. 

Aturan adat ini bukan muncul baru, namun sudah dilembagakan sejak ratusan tahun dalam sistem hukum adat yang biasa disebut “sasi”. Kemudian pelaksana pengawas aturan ada ditangan satu dewan tertua disebut “Kewang Darat”.

Tentunya bagi yang melanggar aturan akan diberikan sanksi sosial yang jauh lebih berat dibanding sekedar sanksi denda ekonomis. 

Menurut kepercayaan masyarakat Negeri Haruku, kebisingan dan kegaduhan saat muncul kuncup kembang cengkeh dapat menghambat pertumbuhan, dapat menjadikan pertumbuhan bunga cengkeh tanaman pusaka tidak sehat bahkan gugur (tidak Jadi). 

Sejak abad 14 tanaman cengkeh di Maluku termasuk rempah yang diperebutkan negara-negara dunia seperti Portugis, Spanyol, Belanda hingga Inggris dalam kerangka kolonialisme. 

Bisa dikata “tak ada rempah tak ada cengkeh tak ada penjajahan di bumi nusantara ini”. Sejarah bangsa Indonesia akan berbeda. Takdir tak bisa dirubah, dengan kearifan lokal dan kesuburan bumi pertiwi menjadikan tanaman rempah seperti cengkeh tumbuh dan subur bahkan punya kualitas terbaik di dunia. 

cengkeh munduk bali

Petani menjemur cengkeh

Satu kisah menarik dituturkan oleh Toni Tabeary penduduk asal Negeri Hunitetu Kecamatan Inamosol Kabupaten Seram Bagian Barat, konon terjadi operasi penumpasan tanaman cengkeh disebut “operasi Hongi Tochten” oleh kolonial Belanda pada abad 17. Operasi ini dimaksudkan membumihanguskan tanaman cengkeh di Maluku. Tujuannya supaya daerah Maluku tidak lagi menjadi satu-satunya kepulauan sentra penghasil cengkeh terbaik di dunia.

Akan tetapi Tuhan berkata lain, dikisahkan ada seorang Raja dari salah satu negeri di Pulau Seram diam-diam menanam cengkeh jauh di pedalaman hutan yang kemudian luput dari incaran operasi serdadu kolonial. 

Di kemudian hari cengkeh tanaman raja ini dinamai “cengkeh tuni atau cengkeh Raja”. Tanaman cengkeh inilah satu-satunya jenis tanaman cengkeh lokal asli Maluku yang terselamatkan dan banyak dibudidayakan hingga sekarang.  

Keistimewaan jenis cengkeh lokal Maluku memiliki daya tumbuh dalam jangka panjang, buahnya banyak, dan mempunyai rasa pedas sangat pekat dibanding dengan jenis cengkeh Zanzibar atau Cikotok. Sudah sewajarnya harga cengkeh dari Maluku dari beberapa tahun terakhir lebih mahal. 

Bagi masyarakat Maluku, cengkeh merupakan komoditas unggulan dan mempunyai nilai ekonomis. Memang saat ini banyak lahan yang dibuka baru untuk perkebunan cengkeh. Namun pada dasarnya, tanaman cengkeh di Maluku kebanyakan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya secara alami tanpa perawatan khusus (terlebih asupan tambahan bahan kimia). Jadi di Maluku masih banyak pohon cengkeh yang sudah berumur ratusan tahun. 

Dibanding dengan komoditas lain, tanaman cengkeh menurut mayoritas penduduk hasilnya lebih menjanjikan. Sudah barang tentu luasan hamparan untuk tanaman cengkeh di Maluku lebih besar dibanding komoditas lain seperti kelapa, pala, dan kakao. 

Pada tahun 2015, hamparan untuk tanaman cengkeh di Maluku sekitar 26.821 ha atau 34.88% dan menghidupi 32.423 KK atau 37.42%. Hamparan tanaman kelapa 24.577 ha atau 31.96% menghidupi 22.341 KK atau 26.01%. Hamparan tanaman kakao berkisar 13.906 ha atau 18.88% menghidupi 17.195 KK atau 19.84%. Hamparan tanaman Pala hanya 11.596 ha atau 15.88% menghidupi sekitar 14.493 KK atau 16.73% dari masyarakat. 

Tanaman cengkeh adalah tanaman untuk hasil tahunan atau untuk keperluan yang sifatnya besar dan bukan untuk keperluan harian. Dalam memenuhi keseharian masyarakat Maluku rerata mengandalkan hasil hutan, berkebun kecil-kecilan atau menanam sayuran dan sejenisnya di sela-sela tanaman cengkeh. 

Paul Mustamu masyarakat Negeri Haruku mengaku hasil dari tanaman cengkeh berlipat-lipat dibanding dengan tanaman sayuran yang ia tanam. Untuk lahan seluas satu hektar dengan 100 tegakan pohon cengkeh, mendapatkan hasil bersih sekitar Rp 136.3 juta setelah dipotong dengan banyak komponen biaya. Hasil kotornya saat panen sekitar Rp 208 juta. Beda dengan hasil bersih tanaman sayuran dalam setahun hanya Rp 8.4 juta dalam luasan yang sama.

Cengkeh di Maluku memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat cukup besar dibanding dengan pendapatan dari hasil bumi lainnya. Lain itu, tanaman cengkeh merupakan tanaman warisan nenek moyang dan mempunyai sejarah panjang mempengaruhi sejarah kesatuan bangsa Indonesia. 

Tanaman cengkeh hasil bumi nusantara sangat diminati bangsa-bangsa dunia, hingga praktis menjadi ajang perebutan dan ajang penjajahan. Tanpa cengkeh, sejarah Indonesia akan beda, tanpa cengkeh, Indonesia miskin ragam komoditas unggulan khas nusantara yang bernilai ekonomis. 

Bahkan banyak literasi yang menceritakan, bahwa jenis tanaman cengkeh yang tersebar dimana-mana bahkan di luar Negeri sekalipun, hasil dari kloning dan perkembangan genetik asal Maluku. Cengkeh bukan hanya soal tanaman dan ekonomi. Lebih dari itu, tanaman cengkeh merupakan “pusaka” bangsa Indonesia jika dirunut dari sejarah keberadaannya.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Seorang santri dari Kudus. Saat ini aktif di Komite Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK).

Comments are closed.

More in:Ragam