OPINI

Memahami dan Mengerti Perokok Layaknya Umumnya Manusia

memahami dan mengerti perokok

Saya sadar dan mengakui, bahwa banyak juga perokok yang brengsek. Contoh yang paling sering ditemui adalah orang yang sedang mengendarai motor atau mobil sambil merokok. Tidak hanya kalian yang bukan perokok, tapi saya pun kalau berpapasan dengan mereka di jalan raya pasti akan kesal dan mungkin sekali saya akan menegur mereka agar tidak merokok di jalan raya.

Lalu, perokok yang tidak punya asbak, dan sembarangan membuang abu serta puntung rokoknya ke berbagai tempat, udah ngotorin, habis itu ga dibersihkan. Ada kok teman saya yang seperti itu, menyebalkan.

Bagi saya, mereka itu wajib kena tegur supaya tidak melakukan hal yang merugikan seperti itu. Semua orang sepakat, berbuat sesuatu yang dianggap merugikan kenyamanan orang lain harus dihentikan. Tidak hanya di kasus rokok, yang lain pun begitu. Buang sampah di jalan tol, kencing sembarangan, buang pembalut di sungai atau bakar sampah di halaman rumah dan mengganggu orang sekitar.

Di sisi lain, orang-orang yang sampai hari ini masih berkata; kalau merokok telen aja asapnya sendiri. Kalau mau mati cepat, merokoklah. Kalau mau miskin, beli saja rokok sebanyak-banyaknya, maka miskin akan mendatangimu. Adalah orang-orang yang sebenarnya tidak terlalu peduli dengan sekitarnya dan tidak punya cukup wawasan untuk sadar dan memahami kalimat-kalimat tadi. Saya kadang hanya mengelus dada. Sayang, sampai hari ini saya belum pernah bertemu langsung dengan orang-orang seperti itu.

Tanpa disadari, itu stigma yang sudah dibangun dan terus menerus disuarakan oleh banyak orang yang tidak suka dengan rokok. Kalian mendengar dan menduplikat lalu menanam kata-kata itu dalam pikiran hingga tanpa sadar kalian jadi bagian orang yang tidak bisa memaklumi, atau parahnya tidak cukup berwawasan. Monmaap ni.

Kita semua tahu, bahwa penelitian tentang bahaya buruk mengisap rokok itu dari tahun ke tahun tidak berimbang, masih saja ada kelemahannya, masih memiliki kepentingan dari segelintir orang, dan tidak benar-benar meneliti secara keseluruhan. Semua berujung hanya menghasilkan sebuah kesimpulan dengan persentase kebenaran paling tidak 60% saja. Tidak percaya? Jernihkan pikiran kalian, pikiran tenang dan bisa santai, berdoa sebelum menelusuri tulisan-tulisan penelitian tadi, minum air putih dulu, makan yang cukup, lalu baca dengan tenang penelitian anti rokok dan pro rokok. 

Kalau sudah, maka ada beberapa hal yang bisa kamu pahami sebagai orang yang tidak merokok untuk menghadapi dan mengerti kehidupan seorang perokok.

Pertama; (Menurut antirokok) Perokok itu sebagian besar miskin. Hiburan dan kesenangan dalam ketenangan bisa mereka dapatkan saat sedang nyebats. Tapi sebenarnya, rekreasi singkat ala mereka, ya, dengan seperti itu. Dibilang miskin juga tidak sepenuhnya benar. Mengukur dan menilai kemiskinan seseorang hingga masuk kategori sengsara dan melarat itu tidak mudah. Mungkin saja, sebagian besar gaji atau pendapatan mereka sudah diatur sedemikian rupa untuk kehidupan sehari-hari dan menyisihkan sekian persen pendapatan untuk asupan tembakau. Bisa tingwe atau rokok bungkusan dengan harga terjangkau. 

Jadi maklumi saja kalau mereka bisanya hanya dapat sebuah kegiatan rekreatif sangat sederhana sekali dengan menghisap rokok kretek sembari ngopi, ya, terima saja. Kalian toh kalau lagi menenangkan pikiran dengan membaca buku, jalan-jalan ke lokasi wisata atau sekedar main PS 5 kadang ga pengen diganggu juga kan? 

Kedua; seperti yang saya bilang tadi, ada beberapa perokok yang memang brengsek. Mau keluar naik motor saja harus nyalain rokok. Saya punya teman dekat seperti itu. Kalau sudah seperti itu, spontan saya ngeplak helmnya dan bilang rokokmu dimatikan saat berkendara. Ini serius. Tapi jangan juga kalian meniru dengan keplak helm tadi ke sembarang orang.

Ujian kesabaran kalian paling mudah untuk dilakukan salah satunya dengan terus memberi teguran kepada perokok seperti itu. Caranya mudah, mulailah kalimat kalian dengan kata; Maaf. “Maaf, abu rokoknya sudah mengganggu pengendara. Bisa dimatikan saja? “. Kalau kalian ga pake masker, kasih senyum sedikit. Manusia tetap manusia, ada yang mudah untuk menerima masukan, ada pula yang mental kalau dengar teguran. Tapi dari 2 situasi itu, paling tidak kalian sudah dapat pahala dan berbuat baik untuk kalian dan orang lain. Sesederhana itu.

Terakhir, perokok itu manusia, maka perlakukan layaknya orang lain menghormati kalian. Jangan pernah bilang; kalau merokok, asap dan puntungnya ditelan biar ga merugikan orang lain. Kalau begitu, coba berkaca dulu, apa kalian mau kalau masak ikan bakar asapnya ga boleh kemana-mana dan kalian disuruh makan duri dan kepalanya supaya ga bau makanan sisa di tempat sampah? Lalu kalau kalian selesai mengupas bawang, apa kalian mau masak kulitnya sekalian hanya supaya tidak mengotori dapur? Dan apa kalian mau nelen kulit lemper dari daun pisang itu supaya ga menuh-menuhin tempat sampah? 

Sama saja perlakuannya, saya sebagai perokok saja malas kalau lihat abu berceceran di sekitar asbak dan puntung rokok yang menumpuk di asbak tidak segera dibersihkan. Sama manusianya hanya beda kebiasaan. Balik lagi soal memperingatkan, semua sangat bisa diperbaiki, walaupun prosesnya cukup menguji kesabaran. Jangan apa-apa dipandang dengan cara; kamu merokok maka kamu adalah manusia yang merugikan. Kalau seperti itu terus, kapan kalian juga bisa dapat perlakuan baik dari orang lain? Sedikit berkaca tidak ada salahnya. Masa’ semuanya harus seperti kata anti rokok? Memihak boleh, tidak ada yang melarang, tapi harus tau dasarnya dulu, dan tidak hanya memahami Senin-Kamis aja. Yang lengkap, Senin sampai Minggu.

Salam sebats.

 

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm
Lelaki yang Mencintai Banyak Hal

    Comments are closed.

    More in:OPINI