Penopang Ekonomi Masyarakat Temanggung Adalah Tembakau

penopang ekonomi masyarakat temanggung

Tembakau menjadi tanaman yang membuat Kabupaten Temanggung kian masyhur. Tidak heran, jika emas hijau ini juga menjadi penopang ekonomi masyarakat Temanggung.

Perputaran uang dan kegiatan ekonomi yang digerakkan oleh pertanian tembakau tidak hanya merangsang kegiatan yang berkaitan langsung dengannya, seperti usaha penyediaan bibit, pupuk, pestisida, dan sebagainya. Pertanian tembakau Temanggung juga sangat berperan menggerakkan beberapa sektor perekonomian lainnya di luar sektor pertanian, misalnya, jasa angkutan dan perdagangan.

Bacaan Lainnya

Roda jasa angkutan, misalnya, bergerak semakin laju sepanjang musim tembakau di Temanggung. Puluhan unit usaha baru di sektor ini terus bertambah, terutama pada saat panen tembakau. Selain truk-truk besar milik gudang-gudang pabrik besar yang ada di Temanggung, juga terdapat ratusan truk-truk kecil bak terbuka yang disewakan oleh puluhan usaha skala menengah dan kecil di seluruh Temanggung.

Selain untuk mengangkut hasil panen dari ladang-ladang ke gudang-gudang perajangan dan pengeringan milik para petani itu sendiri, juga untuk mengangkut tembakau rajangan kering dari desa-desa para petani tersebut ke gudang-gudang pedagang dan pabrik besar.

Salah satu usaha lain yang sangat menonjol di musim panen tembakau di Temanggung adalah usaha kerajinan bambu pembuatan keranjang dan tempat pengeringan tembakau. Ribuan keranjang bambu dibutuhkan pada saat panen tembakau ini.

Kepala Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, mengatakan bahwa pada musim panen tembakau mereka membutuhkan keranjang sekitar 5.000 buah. Harga rata-ratanya adalah Rp 50.000 per unit keranjang. Dengan kata lain, pada musim panen tembakau di satu desa ini saja, beredar uang sebesar Rp 250 juta, hanya untuk pembelian keranjang bambu saja.

Kala musim panen tiba, hampir tak ada orang yang tidak ikut mengambil bagian dan manfaat dari daun tembakau. Kegiatan agribisnis tanaman ini melibatkan banyak pemain yang turut mengambil bagian dalam proses panjang penanaman tembakau. Mulai dari persiapan lahan hingga pra-produksi rokok.

panen petani tembakau temanggung
Petani Temanggung sedang menuruni bukit sembari memikul hasil panen tembakau

Diperkirakan sejumlah Rp 2 triliun lebih peredaran uang selama musim penanaman hingga masa panen. Denyut ekonomi yang ditandai oleh transaksi dan pertukaran menguat pada pasar barang-barang konsumsi seperti elektronika dan kendaraan bermotor. “Permintaan terhadap sepeda motor bisa meningkat seratus persen,” tutur Edi, pengusaha showroom Yamaha di salah satu ruas jalan kota Temanggung.

Proporsi DBH CHT terhadap keseluruhan Anggaran Pendapatan & Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Temanggung terbilang masih belum terlalu besar, tetapi produksi tembakau lokal telah membentuk suatu jaringan perekonomian lokal dengan perputaran uang dalam jumlah besar, terutama selama musim tembakau sepanjang tahun (Mei-September), yang diperkirakan bisa mencapai Rp 1,82 triliun.

Perputaran uang hingga Rp 1,82 triliun dapat dilihat dari 3 unsur : (1) volume penjualan tembakau; (2) volume pembelian keranjang dan (3) biaya transportasi tembakau rajangan dari petani ke gudang-gudang para pedagang pembeli atau pabrik-pabrik pengolah.

Pertama, volume penjualan tembakau. Diketahui total bobot tembakau rajang kering yang diperjualbelikan di Temanggung pada tahun 2009 adalah 19.005.000 kilogram. Jika harga rata-rata penjualan tembakau adalah Rp 95.000 per kilogram, maka volume penjualan tembakau adalah 19.050.000 x 95.000 = Rp. 1.805.475.000.000. 

Kedua, volume pembelian keranjang. Diperkirakan jumlah keranjang yang diproduksi oleh pengrajin keranjang selama masa panen tembakau 2009 adalah 380.100 buah. Angka ini diperoleh dari pembagian volume penjualan tembakau di atas tadi dibagi daya tampung rerata per keranjang sebesar 50 kilogram. Harga setiap keranjang adalah Rp 50.000. Dengan demikian, uang yang berputar dari penjualan keranjang saja adalah 380.100 x 50.000 = Rp 19.050.000.000. 

Ketiga, biaya transportasi tembakau rajangan dari petani ke gudang. Biaya transportasi setiap keranjang dihitung berdasarkan jarak rata-rata dari seluruh ibukota kecamatan ke pusat kota dengan tarif Rp 5.000 per keranjang. Maka, biaya transportasi 380.100 keranjang tembakau itu adalah 380.100 x 5.000 = Rp 1.900.500.000. 

Walhasil, untuk setiap musim panen tembakau di Temanggung, berputar uang sejumlah 1.805.475.000.000 + 19.050.000.000 + 1.900.500.000 = Rp 1,82 triliun!!, lebih dari dua kali APBD Kabupaten Temanggung 2010.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Pos terkait