Cengkeh, Dicuri Bangsa Asing Tapi Kembali ke Indonesia

cengkeh dicuri voc

Cengkeh sempat dicuri namun ia kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Hanusz (2000) menjelaskan bahwa monopoli ketat budidaya dan perdagangan rempahrempah (cengkeh dan pala) dunia oleh VOC nya Belanda pada abad-17 dan 18, akhirnya, bobol juga.

Pierre Poivre (1719–1786), seorang berkebangsaan Perancis, berhasil mencuri 400 bibit pohon pala, 70 pohon cengkeh dan ribuan benih cengkeh lainnya dari Kepulauan Maluku. Ia kemudian meminta pemerintah Perancis saat itu menanamnya di wilayah-wilayah jajahan Perancis, baik di Asia maupun di Afrika.

Kebetulan, penguasa Kesultanan Zansibar di Pulau Madagaskar memberikan izin kepada Poivre untuk menanam cengkeh di wilayahnya. Tak lama berselang, satu kawasan luas perkebunan cengkeh baru di luar Maluku pun berkembang pesat. Akibat lanjutnya, monopoli perdagangan cengkeh dunia –yang dimonopoli oleh VOC selama ini– pun merosot perlahan sejak tahun 1795, bahkan akhirnya tumbang dan bangkrut.

petani memetik cengkeh

Di seluruh wilayah Minahasa saat ini, jenis cengkeh yang paling banyak ditanam oleh petani setempat adalah jenis ‘Cikotok’asal Ternate, jenis ‘Zanzibar’ asal Madagaskar, dan jenis hasil persilangan antara keduanya. Pada tahun 1970an, bibit cengkeh dari Pulau Madagaskar di pantai timur Benua Afrika (dikenal luas dengan nama ‘cengkeh Zanzibar’) masuk ke Minahasa –dan juga daerah-daerah lain di Indonesia.

Sejak saat itu, semakin banyak petani setempat menanami lahannya dengan cengkeh jenis baru tersebut.

Frans Welley, salah seorang petani di Kecamatan Sonder, berprakarsa mengawinkan cengkeh Zanzibar tersebut dengan cengkeh Cikotok, lalu menghasilkan satu jenis baru pula yang kemudian dikenal luas dengan nama ‘cengkeh Zanzibar Lengkoan’, mengambil nama kawasan (Lengkoan) dimana kebun cengkeh Welley terletak, tempat dimana dia mulai melakukan percobaan persilangan tersebut dan menanamnya.

Karena hasil produksinya memang bagus, maka cengkeh jenis baru perpaduan Madagaskar-Ternate itupun segera diminati dan ditanam oleh para petani Minahasa. Bahkan, jika saat ini seseorang menyebut jenis cengkeh Zanzibar di Minahasa, pada dasarnya, adalah cengkeh hasil persilangan tersebut, bukan jenis aslinya lagi dari Madagaskar dulu.

Perbedaan di antara kedua jenis cengkeh tersebut adalah pada keharuman, ukuran besar dan berat, serta kapasitas produksi per pohon. Cengkeh Cikotok dikenal lebih harum dan lebih berat dibanding cengkeh Zanzibar Lengkoan.

Perbandingannya untuk ukuran satu kilogram adalah 5 : 6. Adapun cengkeh Zanzibar Lengkoan dikenal lebih besar kapasitas produksinya. Kalau cengkeh Cikotok biasanya satu pohon menghasilkan rerata 80 liter, cengkeh Zanzibar Lengkoan bisa mencapai 100–200 liter per pohon, terutama setelah pohonnya berusia 15-20 tahun.


Jenis-jenis cengkeh Indonesia

 

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Seorang lelaki kecil yang bermimpi besar.