Feel Koplo Datang, Semua Wajib Bergoyang!

Saya hampir lupa lagu apa saja yang dibawakan oleh Feel Koplo di Bosche Club Yogyakarta, malam itu (25/11). Suasananya terlalu meriah dan gemerlapnya nyaris tak dapat saya gambarkan dengan kata-kata. Saya terlalu penuh beban pikiran sebelum datang di acara itu, namun saat musik sudah menghentak, segala jeratan dalam pikiran saya sekelebat hilang. Badan saya tak berhenti bergoyang, rokok selalu terhisap, dan saya benar-benar meluapkan emosi jiwa di malam itu.

Semua pekerja pasti tahu bahwa akhir tahun adalah masa-masa yang penuh dengan kesibukan dan tantangan. Setidaknya mereka harus mempersiapkan tiga bulan penuh untuk berkonsentrasi dalam urusan kerjaan. Baik itu mempersiapkan laporan akhir tahun dan juga membuat perencanaan kerja beserta strateginya untuk tahun mendatang. Melelahkan bukan?

Maka jangan heran jika akhir bulan desember adalah hari-hari yang dinantikan oleh para pekerja. Menghabiskan sebagian tabungan mereka untuk berjalan-jalan dan menghilangkan depresi. Tempat wisata penuh, jadwal penerbangan, bus, dan kereta semakin padat. Lampu hotel-hotel menyala dan pusat perbelanjaan dipenuhi oleh hilir mudik manusia. Pemandangan yang sangat lumrah.

Data dari badan pusat statistik tahun 2018 menunjukkan bahwa ada sekitar 127 juta pekerja di Indonesia. Angka yang tinggi bukan, anggaplah setengahnya adalah pegawai formal kantoran dengan kesibukan akhir tahun yang padat. Asumsi saya ada puluhan juta orang juga di Pulau Jawa yang menikmati liburan di akhir tahun. Betapa padatnya ~

Untungnya saya bukan termasuk pekerja formil di atas. Ya pekerjaan saya cenderung santai meski mengerjakan proyek yang ada ditambah lagi dengan kesibukan kuliah. Tetap saja akhir tahun adalah hal yang musti diwaspadai. Dua bulan belakangan kesibukan meninggi. Berbeda dengan pekerja formil lainnya, saya masih punya kesempatan untuk menghibur diri di sela-sela waktu yang kosong.

Setelah agenda yang padat di Jakarta, saya melanjutkan pekerjaan akhir tahun di Magelang. Setelah itu ditambah dua hari untuk menyelesaikan rapat akhir tahun di Yogyakarta. Padat? Memang! Tapi ternyata ada hikmahnya karena tiba-tiba rekan saya mengajak untuk menghadiri acara pesta di Boshe VVIP Club Yogya. Sebenarnya saya tidak begitu tertarik dengan ajakan party namun karena Feel Koplo yang menjadi bintang tamunya maka saya mengiyakan untuk berangkat.

Dosen saya pernah menyebut bahwa musik koplo adalah tahap evolusi terakhir dari musik dangdut. Setelah itu trennya akan berputar dan mungkin orang-orang akan kembali kepada musik orkes melayu lawas. Tapi ternyata dosen saya tak sepenuhnya benar karena tahap evolusi terakhir itu mengalami modifikasi. Feel Koplo mampu menjadi sekelompok musisi yang memperlambat atau bahasa lainnya memodifikasi tahapan terakhir evolusi dangdut.

Dangdut adalah anotome dari bunyi gendang ‘Dang’ dan ‘Dut’ yang menjadi tempo pengiring musik. Sedangkan koplo adalah sub aliran dalam musik dangdut yang memiliki ciri tempo yang lebih cepat dan kencang serta irama gendang yang variatif. Alhasil, koplo lebih mirip jazz dalam musik dangdut, banyak improvisasi tempo di sana serta mengikat pendengarnya untuk segera berjoget mengikuti iramanya.

Feel Koplo memodifikasinya dengan menambah unsur remix didalamnya. Koplo dengan tempo gendang yang cepat dan penuh improvisasi ditambah unsur remix yang penuh dengan beat-beat yang menghentak. Sudah dijamin bahwa pendengarnya akan semakin kesetanan untuk berjoget dangdut di lantai dansa. Sebuah konvergensi yang menarik antara paduan budaya timur dan barat.

Kalau kata anak jakarta selatan: ‘jujurly sih lo ga mungkin ga joget kalau nonton feel koplo.’ Pendapat itu benar adanya apalagi ada stimulus berupa alkohol yang membuat badanmu semakin lentur untuk mengikuti irama nada. Saya baru pertama kali nonton Feel Koplo tapi saya sudah dibuat jatuh cinta dari pertama musik intro saat mereka memasuki panggung.

“Assalamualaikum, Waalaikumussalam, Feel Koplo datang! Ayo dangdutan!”

Seisi Boshe VVIP Club langsung histeris, kompak menepukkan tangannya ke atas, dan bernyanyi mengikuti chant khas ala intro feel koplo naik panggung tersebut. Maulfi Ikhsan dengan kaos hitam, celana pendek, dan kacamatanya yang khas kemudian mengeksplor seluruh panggung saat satu demi satu musik dimainkan oleh rekannya, DJ Tendi Ahmad. Musik-musik yang dipilih pun ada dari bergabai genre musik, tapi tetap pada reffnya dibikin koplo dengan unsur remix.

Lantai dansa langsung pecah, puluhan orang naik ke atas panggung, saling menuangkan minuman, dan bergoyang bersama. Harmonis betul suasana malam itu di bawah kilauan lampu gemerlap yang berhasil menghilangkan sejenak permasalahan masing-masing orang di malam itu. Feel Koplo menyajikan musik secara mixtape alias satu lagu tidak diputar secara utuh namun dijahit dan disambungkan dengan lagu-lagu berikutnya. Semua berjalan halus!

Seingat saya lagu berdiri teman milik band asal Bandung, Close Head, memulai arena dansa di malam itu. Efek minuman yang saya minum membuat saya hanya bisa menyanyikan lagu yang dibawakan dan ikut bergoyang. Saya tak mampu mengingat betul dengan runtut lagu-lagu apa saja yang dibawakan. Tapi seingat saya mulai dari lagu-lagu yang ramai di tiktok, lagu tembang jawa, lagu pop indo lawas, lagu india, hingga JKT48 diputar oleh Feel Koplo di malam panjang penuh kebahagiaan itu.

Malam itu saya dan rekan memesan dua pitcher bir dengan satu minuman Gordons gin premium pink untuk dinikmati bertiga. Sebenarnya jumlah kuantitas minumannya tidak terlalu banyak namun berkat sound yang ciamik dan perform yang apik dari Feel Koplo, kami mampu menikmatinya dengan tempo minum yang teratur serta bisa pulang dalam keadaan sober. Ajaib bukan? Inilah kehebatan feel koplo! Mereka tahu bagaimana memulai pesta, meningkatkan intenstitas, dan menutupnya dengan soft landing.

Saya kira hanya musisi dengan jam terbang yang matang yang bisa melalukan hal tersebut. Padahal sebenarnya pamor Feel Koplo baru terbit dua atau tiga tahun belakangan. Terbit bersama masyarakat yang tersihir dengan alunan gendang musik koplo yang diputar baik itu di bus malam, jualan kaset di pinggir jalan, atau teman-teman yang memutar video konser dangdut saat nongkrong bersama.

Malam itu rasanya semua yang menghadiri Boshe Club VVIP wajib berterimakasih kepada LA Bold selaku penyelenggara acara. Dengan htm yang tidak mahal lalu dengan protokol kesehatan yang dijaga betul, anda bisa menikmati feel koplo dengan tuntas dan puas! Apalagi malam itu betul-betul harmonis dan tidak ada keributan yang terjadi. Semua enjoy dengan minuman dan musiknya, dan pulang membawa kenangan dan cerita.

Satu-satunya yang boros malam itu hanyalah konsumsi rokok yang saya rasa agak sedikit berlebihan. Namun tidak apa-apa, badan saya tetap bergoyang dengan asik serta raut wajah saya tak berhenti untuk tersenyum. Di saat lagu-lagu yang familiar mulai diputar, saya ikut bernyanyi dan bergoyang sambil berdiri.

Sepulang acara, bersandar di bangku mobil, disinari lampu jalan magelang hingga palagan, saya berharap pandemi segera usai. Pesta-pesta dan konser-konser lainnya masih ingin saya datangi! Dan hanya kepada rokoklah saya berharap pesta dan konser itu diadakan!

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Seorang lelaki yang tak pernah merasa kesepian