Surya 16 Bukan Rokok Dukun dan Esse Bukan Rokok Lonte

surya 16

Surya 16 diidentikkan dengan dunia perdukunan sementara Esse dianggap rokoknya para lonte?


Puluhan tahun lalu saat sedang asyik-asyiknya menikmati masa kecil, saya sering diajak oleh Ibu saya menemui semacam paranormal atau waktu itu sering disebut oleh Ibu saya sebagai “orang pintar” atau “orang tua”.

Mungkin Ibu saya malas menjelaskan kepada seorang anak kecil apa itu paranormal dan bagaimana mereka bekerja di dunia ini. Saya pun tidak banyak bertanya tiap kali saya diajak pergi oleh Ibu menemui beberapa dari mereka. Entah itu sore hari atau bahkan malam hari, kalau tidak ada orang yang menjaga saya di rumah, lebih tepatnya sih saya tidak mau ditinggalkan oleh Ibu di rumah.

Ada alasannya kenapa Ibu sering pergi ke “orang pintar” saat kami masih hidup di Sulawesi. Sejak sekitar tahun 80an awal, Ayah saya sudah menduduki jabatan cukup penting sebagai TNI. Selain mendapatkan jejaringnya makin luas, musuh atau orang yang kurang suka kepada Ayah saya juga bertambah.

Saya tidak pernah bertanya langsung kenapa Ayah bisa mengalami banyak hal kurang mengenakkan saat itu. Misal saja, kami pernah dikirimi potongan kepala ayam di dalam kotak sepatu, atau ada orang yang menaruh sebungkus kecil paku, bunga dan beberapa helai rambut dibungkus kain di depan pintu rumah kami. Dan itu saya saksikan di usia saya yang belum genap 10 tahun.

Sejak saat itu, Ibu sering menemui beberapa “orang pintar” yang dipercayainya bisa membantu beberapa persoalan. Sebelum menemui orang tadi, biasanya Ibu akan mampir ke beberapa tempat, sekedar beli kue kering atau buah tangan yang lain dan menurutnya pantas untuk diberikan. Tapi yang selalu dan wajib adalah rokok kretek Surya 16 atau Gudang Garam Merah.

Tahun 90an, saya seringkali mendengar olok-olokan mengenai Surya 16 dan Gurame sebagai rokok dukun dan nyaris tidak ada teman-teman saya di Palu yang mau menghisap merek itu. Ada saja alasannya, entah tidak enak, kurang gaul, asapnya terlalu tebal bahkan mitos menghisap itu bisa mendatangkan makhluk halus. Kalau yang terakhir sih udah kelewatan, saat itu saya yang masih polos saja tidak dengan mudah percaya.

rokok esse

Sesekali di benak saya muncul pertanyaan, Ibu adalah perokok Djarum Super kelas berat, yang sudah pasti mempunyai stock 1 slop setiap minggunya di rumah, lalu kenapa tidak Djarsup saja yang dibawa sebagai buah tangan? Kenapa malah repot membeli rokok lagi? Kalau saya ingat lagi, rasanya masuk akal, di Sulawesi merek Gudang Garam termasuk salah satu yang cukup populer dan digemari dibanding merek Djarum. Gudang Garam Filter atau di kota Palu dikenal sebagai Surya Mini, adalah merek yang hampir dihisap semua orang dan bisa ditemui di tongkrongan mana saja. Menyusul Sampoerna A Mild dan Marlboro Merah.

Tapi entah dimulai sejak tahun berapa, Surya 16 dan Gurame menjadi syarat penting sebelum kita pergi ke “orang pintar”. Beberapa kali juga saya perhatikan, tiap kali Ibu menyerahkan bungkusan plastik berisi buah tangan yang dibawa, maka si “orang pintar” akan meminta asistennya untuk menaruhnya di piring. Bukan untuk makanan jin, tapi memang mereka makan dan juga disuguhkan kepada tamu. 

Selain kue dan buah, rokok juga akan ditaruh di piringnya. Sementara sembari Ibu saya berkonsultasi, Djarsup andalannya pun dikeluarkan dari tas lalu nyebats bareng dengan orang yang ada di ruangan itu. Biasanya kami akan membawa pulang sebotol besar air putih yang sudah didoakan. Entah itu untuk diminum, atau disiram mengelilingi rumah tempat kami tinggal. 

Saya pernah sekali minum air putih yang diminta oleh salah satu “orang pintar” dengan alasan agar santet, atau di Palu dikenal sebagai Doti-doti tidak nyasar ke badan saya karena mental dari Bapak atau Ibu saya. Saya nurut saja, tapi begitu diminum rasanya seperti minum air beraroma tanah.

Yang jelas, hal yang berbau santet seperti itu sudah biasa saya temui selama berada di Palu. Jangan kaget, tahun 90an, baik di Palu atau kota-kota di Kalimantan bahkan Pulau Jawa, namanya santet, doti-doti atau apapun sebutannya masih banyak terjadi. Ayah saya saja sampai memiliki 2 orang tua angkat yang menurutnya sangat pandai dalam urusan ilmu kebatinan. 1 orang ada di Banten, 1 orang lagi ada di Mamuju, Sulawesi Selatan. 2 daerah yang saat itu cukup disegani karena keilmuan gaibnya dikenal di seluruh Indonesia. Saya memanggil mereka Emak Banten dan Nenek Mamuju. Keduanya perempuan dan secara kebetulan mereka berdua masih ada hubungan saudara.

Emak banten ini perokok Bentoel, sementara Nenek Mamuju adalah wanita yang suka makan nasi putih dengan nanas. Heran? Saya juga heran. Dari mereka pula saya sering diceritakan bagaimana santet itu berhasil bekerja, dan bagaimana menangkalnya. Jangan kalian bayangkan mereka berdua itu seram. Tidak. Layaknya seorang nenek kepada cucu, mereka pun menjaga saya seperti cucunya sendiri. Saya pernah mendengar omongan orang sekitar saya, kalau Emak Banten ini berhasil menyedot 4 paku tembok dari pinggang Ayah saya dengan cara menggigitnya, selesai ritual itu si nenek pun lalu nyebats sambil menjelaskan beberapa hal. Sementara Nenek Mamuju, yang mengajarkan saya untuk mengoles kotoran telinga kalau tanpa sengaja digigit kelabang, adalah perempuan yang dikenal mampu melembekkan kepala orang. Lembek, seperti balon diisi air.

Belasan tahun kemudian, di usia yang sudah tahu bagaimana kehidupan malam terjadi di dunia ini, mulai dari karaoke plus, klub malam sampai panti pijat, saya seringkali mendengar bahwa rokok Esse adalah rokok pelacur. Sama seperti kasus Surya 16 dan Gurame, entah dari mana cerita itu muncul sebagai “urban legend” di masyarakat.

esse punch pop

Kalau Surya dan Gurame mungkin tidak bisa dibantah, karena hampir semua orang di kota Palu melakukan hal yang sama kalau harus berurusan dengan “orang pintar”. Tapi kalau Esse, rasanya tidak sepenuhnya benar. Saya bukan hanya 3-4 kali datang ke klub malam, karaoke atau panti pijat. Merek yang justru saya lihat ada di tempat-tempat tadi itu malah Sampoerna A Mild Menthol, A Mild Merah, Marlboro Black Menthol atau L.A Menthol. Ya, 1-2 mungkin ada yang menghisap Esse, tapi jarang sekali saya temui.

Tiap kali saya melihat meme di media sosial mengenai Esse, saya hanya membatin saja, kalau mereka yang ramai di media sosial adalah orang-orang yang belum menjelajah lebih dari 10 tempat karaoke dan tentu wajib menggunakan jasa pemandu lagu di dalamnya. Tapi itu kan pemandu lagu, bukan profesi lain. Baik. Kalau mau lebih spesifik lagi? Mainlah ke Saritem Bandung atau Sarkem di Jogja, tidak usah aneh-aneh, cukup mencari tukang nasi goreng di dalam tempat tadi, atau keliling-keliling saja, perhatikan rokok yang banyak kalian temui di sana. Kalau saya pribadi, merek A Mild adalah merek yang paling laris di tempat-tempat tadi. Ini hasil penelitian lapangan, ya.

Baik Surya 16, Gurame atau Esse menurut saya adalah merek yang awalnya tanpa sengaja diberikan orang kepada profesi-profesi tadi sebagai buah tangan yang penyebabnya adalah asumsi dari si pemberi lalu kemudian berkembang dan menjadi “urban legend” dalam waktu lama. Tidak sepenuhnya benar. Rasanya semua merek rokok bisa jadi mitos kalau dibesar-besarkan. Mungkin setelah 3 merek itu muncul Sukun yang jadi rokok Supir Bis, atau Gudang Baru sebagai paket bergaya Edgy, atau mungkin Marlboro sebagai Crazy Rich baru? Bisa saja, tapi apapun profesi dan merek rokok mereka, sah saja jadi bahan pembicaraan selama tidak kemudian menjadi olok-olokan yang merendahkan sesama ahli hisap.

 

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Lelaki yang Mencintai Banyak Hal